Menggambar Membantu Stimulasi Otak Anak

IMG_9647

JAKARTA- Menggambar ternyata bukan hanya kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Banyak manfaat yang bisa didapatkan anak dari coretan tangannya. Dalam perkembangannya, menggambar pun dijadikan sebagai art therapy untuk kesehatan mental dan merangsang otaknya.

Seorang art therapist Mutia Ribowo mengungkapkan, menggambar dapat membuat seseorang anak lebih fokus karena ada kordinasi antara mata dan gerakan tangan. Lebih dari itu, anak pun akan lebih peka terhadap lingkungan sekitar, memiliki empati, dan meningkatkan intuisi.

“Menggambar menstimulus otak kiri dan kanan. Selama ini kan 80 persen populasi pengguna otak kiri untuk menghitung. Kalau pakai otak kanan, akan pakai empati, intuisi, hingga bisa memandang posisi orang lain,” terang Mutia di Jakarta, Selasa (16/6/2015).

Selain mengembangkan kreativitas anak, menggambar juga bisa dijadikan media anak mengungkapkan perasaan atau emosinya. Mereka akan lebih rileks setelah mencurahkan isi hatinya lewat goresan tangan.

Hasil gambar anak ini juga bisa dianalisis untuk mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan si anak dan apa yang dirasakan. Misalnya, anak yang mengalami kekerasan, trauma, anak yang kehilangan orangtua, hingga perasaan anak jika orangtua bercerai.

Melalui terapi menggambar, anak bisa lebih ceria dan bahagia. Pada akhirnya, pikiran yang bahagia juga bisa membuat fisik sehat. Terapi seni ini bisa diikuti oleh anak-anak sejak usia 3 tahun atau saat anak mulai bisa memegang pensil dan mencorat-coret.

Terapi seni sering kali diterapkan pada anak dengan autisme, memiliki gangguan perilaku, masalah sosial, dan juga mental. Menurut Mutia, orangtua berperan penting mengenalkan anak dengan dunia seni seperti menggambar sekaligus mewarnai.

Hasil positif dari menggambar, lanjut Mutia, biasanya dapat terlihat setelah rutin dilakukan 3 kali dalam satu minggu.

sumber: KOMPAS.com

Advertisements

Les Gambar, Mewarnai, 3D Art Fun Learning Cibubur, Mahogani, The Address

VERY NEW ART FLYER 2015

Hai papa mama…
Si kakak masih playgroup atau TK tapi sudah kelihatan bakat mewarnai?
Si adek suka corat coret tembok? Mungkin memang suka seni, harus di arahkan dong bakatnya…

Kegiatannya tidak hanya mewarnai/menggambar dan melukis biasa lho…
namun bisa sekalian 3D Art-Craft menggunakan origami, hand printing, pop up craft, dan masih banyak lagi ide seru lainnya

Daripada repot keluar rumah, macet, panas, jam ngga fleksibel, lebih baik teacher datang ke rumah… Suasana lebih cozy karena di rumah sendiri, jam bisa diatur sehingga tidak mengganggu jam bobo siang dan tidak bertabrakan dengan les lainnya…

Ayo cek kelebihan kami:
Teacher datang ke rumah, tidak perlu repot keluar macet, hujan dan panas
Disc 50% biaya pendaftaran
Harga yang terjangkau dengan berbagai promo yang sedang berlangsung
Waktu lebih fleksibel karena bisa mengatur jadwal langsung dengan teacher
Teacher ramah dan penjelasan mudah dimengerti
Teacher yang berkualitas dan berpendidikan di bidangnya
Hari libur atau tanggal merah tetap diganti
Sabtu dan minggu tetap ada jadwal les
Contact Us !

CUSTOMER SERVICE LA ALFABETA ART

0812 8928 3667

Kunjungi official website kami di :

http://www.laalfabeta.com

laalfabeta@gmail.com
facebook.com/laalfabeta.course

Peran Seni dan Tahap Perkembangan Seni Dalam Pertumbuhan Anak

IMG_9646

 

Peran Seni Dalam Kehidupan Anak

Beberapa peran seni sebagai ujud keindahan memiliki peran:

1. Pemenuhan kebutuhan

Lowenfeld (1982) menyatakan bahwa seni sebagai fundasi kemanusiaan manusia. Manusia secara sadar dan tidak sadar memiliki potensi mendasar untuk melakukan penyaluran ide, gagasan, dan gerak hatinya melalui aktivitas seni.

2. Terapi

Dengan berlaku, mencipta, berkarya, atau menikmati seni manusia dapat menghibur diri, melepaskan diri dari tekanan-tekanan dalam batinnya, sehingga jiwanya terpuasi.

3. Ungkapan atau Ekspresi

Dorongan untuk memunculkan pengalaman, keinginan, pikiran, harapan dan, gagasan membutuhkan perwujudan.

4. Komunikasi

Seni digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan yang ingin diungkapkan. Pesan akan lebih bertahan lama dan memiliki makna yang lebih luas dan dalam jika dikemas dalam media ungkap seni.

Bentuk dan jenis perkembangan seni anak melalui tahap perkembangan:

1. Tingkat manipulatif (eksplorasi)

Pada tahap ini anak memerlukan berbagai alat bantu atau bahan ekspresi seperti: mencoret-coret, meremas-remas, memijit-mijit, dan sebagainya.

2. Tingkat Simbolik

Fase ini merupakan fase perkembangan ekspresi anak di mana mereka menghasilkan gambar-gambar/bentuk-bentuk tertentu yang bagi anak merupakan lambang-lambang dari penghayatannya. Pada tahap ini anak sering bercakap-cakap sendiri tentang apa yang dibuatnya, misalnya: “ini rumah”, “ini kuda”, meskipun gambar atau ujudnya sama sekali berbeda dengan apa yang diungkapkan, akan tetapi simbol ini sangat berarti bagi anak.

3. Tingkat dapat dikenal

Pada tingkat ini umumnya anak telah berhasil menciptakan bentuk-bentuk yang dapat dikenal, misalnya: pada lukisan atau gambarnya terlihat bentuk, rumah, ayam, bunga, pohon, dan sebagainya (5-7 tahun).

Uraian tersebut menunjukkan bahwa seni memiliki peran sebagai ungkap kreatif yang digunakan sebagai dasar pengembangan kegiatan (khususnya pada anak 2-7 tahun) melalui aktivitas bermain (play group) dan taman pengembangan selanjutnya (sekolah dasar).

Lowenfeld dan Brittain (1982) menegaskan peran seni, bahwa memberikan pengalaman seni yang lebih baik dan benar akan mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar yang meliputi: emosi, intelektual, fisik, persepsi, sosial, estetis, dan kreativitas.

Selanjutnya Eisener (1972) menyatakan 5 kebenaran pengembangan dan pengajaran seni pada anak di sekolah:

1. Seni dapat digunakan sebagai dasar membantu mengembangkan pengertian yang dapat memberi kepuasan berpikir setelah bekerja.

2. Seni mengandung unsur pengobatan yang secara alami. Seni memberikan kesempatan meredakan emosi yang terkurung dan tak dapat diekspresikan, seni sebagai ekspresi diri dan dapat mengembangkan kesehatan mental.

3. Berpikir kreatif harus menjadi tujuan utama program pendidikan dan seni tidak dapat disangkal (hasil riset) memberikan sumbangan signifikan terhadap perkembangan berfikir kreatif.

4. Aktivitas membantu pemahaman bidang kajian lain; banyak studi sosial dan seni dapat menjadi pembentuk konsep.

5. Seni dapat mengembangkan otot halus yang memperbaiki koordinasi siswa.

C. Pendidikan dan Perkembangan Seni

Jalongo dan Issenberg (1993:68) menyatakan pendidikan seni mendasar pada 3 tujuan, yaitu: kreativitas, kemampuan, dan apresiasi dalam pencapaiannya meliputi 4 unsur pengetahuan, yaitu: (1) Hasil seni mencakup; buatan yang orisinil, penggunaan materi untuk mengungkapkan ide atau konsep, dalam proses membutuhkan teknik, (2) sejarah seni; perlu klasifikasi dan pengembangan keberadaannya, (3) kupasan seni; pengartian karya, bentuk dan nilai seni, (4) estetika; digunakan dalam apresiasi dan interpretasi objek seni dan kesadaran unsur seni dari lingkungan.

Kemampuan-kemampuan dasar yang telah dimiliki anak untuk berkreasi antara lain: (1) mengamati, mencoba, memanipulasi, bermain, menjawab pertanyaan, berteka-teki, diskusi kelompok, (2) berimajinasi tentang peran permainan, bermain kata, bercerita, menerapkan pengetahuan secara sederhana, (3) konsentrasi pada satu jenis tugas dengan waktu relatif singkat, (4) mengerjakan sesuatu dengan orang tua atau teman akrab, (5) menggunakan pengulangan sebagai kesempatan sebelum bosan (Jalongo dan Issenberg, 1993).

Tujuan pendidikan seni dan kerajinan tangan pada anak sekolah dasar adalah pengembangan sikap dan kemampuan siswa berkreasi dan apresiasi terhadap karya seni. Hal ini merupakan kelanjutan pendidikan pra sekolah yanng bertujuan untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta (kreatif) yang diperlukan anak didik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.

Perkembangan seni anak dapat ditinjau secara rinci dari berbagai ujud seni itu sendiri, antara lain:

1. Tahap-tahap Perkembangan Seni Rupa Anak Usia SD

a. Tahap Scribbling sampai 4 tahun

Perkembangan seni rupa anak dilihat dari karakteristik gambar, penyajian ruang dan penyajian gambaran orang pada karya gambar anak secara garis besar adalah: Tahap scribbling dimulai dengan gambar yang tidak beraturan, kemudian sejalan dengan pengendalian motorik menjadi scribbling yang terkontrol, dan akhirnya menjadi scribbling yang mempunyai makna bagi dirinya sendiri.

b. Tahap Preschematic atau prabagan 4-7 tahun

Dimulai dengan menggambar suatu objek. Karakteristik gambarnya terdiri dari bangun geometri, bersifat relatif dan subjektif bermakna pribadi. Penyajian ruang; objek mengapung, kertas kadang berputar, proporsi antar objek belum ada. Penyajian gambar orang; kepala dan kaki menjadi objek pengembangan, tangan mulai dilengkapi.

c. Tahap Schematic (Pencapaian konsep bentuk) 7-9 tahun

Karakteristik pengembangan konsep dengan pengulangan perubahan dipengaruhi pengetahuan aktif tentang lingkungan, menggambar konsep dari ciri-ciri bukan persepsi, goresan tegas, langsung, pipih. Penyajian ruang; mendirikan objek tegak pada garis dasar, pengaturan objek dalam dua dimensi, gambar menyebar ke seluruh bidang. Gambar orang; pengulangan bagan, badan terlukis secara geometris, lengan dan kaki mulai diisi dengan penempatan benar dan proporsi dipengaruhi emosi.

d. Tahap Realis (9-12 tahun)

Pada tahap ini karakteristik gambar secara lebih baik telah siap untuk lebih rinci, ia memiliki kesadaran diri terhadap gambar-gambarnya, lebih siap untuk menampilkan fisik lingkungan, karakteristik lingkungan lebih menonjol dibanding kealamiahannya, belum memahami bangun dan bayangannya. Penyajian ruang; mendasarkan pada garis sehingga gambar nyata tapi masih tumpang tindih, mulai menghubungkan antar dua benda, mengetahui awan sebagai garis horison, berusaha menunjukkan hal yang tersembunyi melalui ukuran benda-benda. Penyajian gambar manusia bagian-bagian tubuh mulai terpisah, figur lebih jelas.

Source : Kompasiana