Peran Orang Tua Dalam Pembentukan Perilaku Sosial Anak

IMG_20160214_8.png              Pola asuh orangtua adalah cara orangtua mengasuh anak-anaknya yang antara lain diwujudkan dalam bentuk pendisiplinan, pemberian teladan, ganjaran dan hukuman. Ada empat pola pengasuhan yang biasa diterapkan orangtua dalam mengasuh anak-anaknya, yaitu pola pengasuhan autoritatif, pola pengasuhan otoriter, pola pengasuhan penyabar dan pola pengasuhan penelantar.

Pola pengasuhan autoritatif adalah pola pengasuhan yang diterapkan oleh orangtua yang menerima kehadiran anak dengan sepenuh hati serta memiliki pandangan atau wawasan kehidupan masa depan dengan jelas. Pada pola pengasuhan ini, orangtua lebih memprioritaskan kepentingan masa depan dengan jelas. Pada pola pengasuhan ini orangtua lebih memprioritaskan kepentingan anak dibandingkan dengan kepentingan dirinya. Tetapi mereka tidak ragu-ragu mengendalikan anak. Orangtua mengarahkan perilaku anak sesuai dengan kebutuhan anak agar anak memiliki sikap, pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang akan mendasari anak untuk mengarungi hidup di masa mendatang.

Pola pengasuhan otoriter kebanyakan diterapkan oleh orangtua yang berasal dari pola pengasuhan otoriter pula di masa kanak-kanaknya, atau oleh orang tua yang sebenarnya menolak kehadiran anak. Orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter cenderung tidak memikirkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang fokusnya lebih pada masa kini. Orangtua menilai dan menuntut anak untuk mematuhi standar mutlak yang ditentukan sepihak oleh orangtua, memutlakkan kepatuhan dan rasa hormat atau sopan santun. Orangtua tidak menyadari bahwa dikemudian hari anak-anak dengan pola pengasuhan otoriter mungkin akan menimbulkan masalah yang lebih rumit dan memusingkan. Meskipun anak-anak dengan pola pengasuhan otoriter ini memiliki kompetensi dan tanggung jawab yang cukup, namun kebanyakan cenderung menarik diri secara sosial, kurang spontan dan tampak kurang percaya diri.

Pola pengasuhan penyabar atau pemanja kebalikan dari pola pengasuhan otoriter. Segala sesuatu justru berpusat pada kepentingan anak. Orangtua tidak pernah menegur anak atau tidak berani menegur perilaku anak, meskipun perilaku tersebut sudah keterlaluan atau di luar batas kewajaran. Dalam kondisi yang demikian terkadang terkesan jangan sampai mengecewakan anak atau yang penting anak jangan sampai menangis. Meskipun anak-anak dengan pola pengasuhan ini cenderung lebih energik dan responsif dibandingkan anak-anak dengan pola pengasuhan otoriter, namun mereka tampak kurang matang secara sosial (manja), impulsif dan mementingkan diri sendiri.

Pola pengasuhan penelantar, orangtua lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri daripada kepentingan anak. Kepentingan perkembangan kepribadian anak terabaikan. Orangtua dengan pola pengasuhan ini kurang atau bahkan sama sekali tidak mempedulikan perkembangan psikis anak. Anak dibiarkan berkembang sendiri. Pola pengasuhan ini pada umumnya diterapkan oleh orangtua yang sebenarnya menolak kehadiran anak dengan berbagai alasan. Banyak orangtua yang terlalu sibuk dengan kegiatannya sendiri dengan berbagai macam alasan pembenaran. Tidak jarang di antara mereka yang tidak peduli atau tidak tahu dimana anaknya berada, dengan siapa saja mereka bergaul, sedang apa anak tersebut dan sebagainya.

IMG_20150920_10.png

Perilaku Sosial

            Perilaku sosial merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk dikembangkan karena sangat mempenaruhi proses tumbuh kembang anak khususnya anak usia taman kana-kanak. Pengembangan perilaku sosial pada anak usia taman kanak-kanak merupakan salah satu aspek yang sangat mendukung perkembangan anak khusunya perkembangan sosial. Perilaku sosial adalah perilaku yang menunjukkan atau memperlihatkan, menerima, mengakui, menyetujui serta melaksanakan norma-norma yang berlaku dimana individu berada. Individu dengan perilaku sosial adalah individu yang perilakunya mencerminkan tiga proses sosialisasi, sehingga mereka cocok dengan kelompok teman mereka menggambungkan diri dan diterima sebagai anggota kelompok. Adapun tiga proses sosialisasi yaitu belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial, memainkan peran sosial yang dapat diterima dan perkembangan sikap social.

Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial terkait dengan standar dari setiap kelompok sosial tentang perilaku yang dapat diterima. Untuk dapat bermasyarakat anak tidak hanya harus mengetahui perilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan perilaku dengan patokan yang dapat diterima. Memainkan peran sosial yang dapat diterima, dimana pola kebiasaan setiap kelompok sosial yang telah ditentukan harus juga dapat dipatuhi oleh anggotanya. Sedangkan perkembangan sikap sosial, berarti anak yang bergaul harus menyukai orang dan aktivitas sosial yang ada di kelompok tersebut, sehingga mereka dapat berhasil dalam penyesuaiann sosial dan dapat diterima sebagai anggota kelompok tempat mereka menggabungkan diri.

Bila perilaku sosial anak, seperti yang dinilai berdasarkan standar kelompoknya memenuhi harapan kelompok, maka akan menjadi anggota yang akan diterima kelompok. Anak yang menyesuaikan diri dengan baik terhadap berbagai kelompok, baik kelompok teman sebaya maupun kelompok orang dewasa, secara sosial dianggap sebagai orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik. Anak harus menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap orang lain, terhadap partisipasi sosial dan terhadap peranannya dalam kelompok sosial, bila ingin dinilai sebagai orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik secara sosial.

Orangtua adalah kunci utama keberhasilan anak. Orangtualah yang pertama kali dipahami anak sebagai orang yang memiliki kemampuan luar biasa di luar dirinya dan dari orangtuanya anak pertama kali mengenal dunia. Melalui orangtua, anak menegmbangkan seluruh aspek pribadinya. Dalam hal ini, konsep orang tua bukan hanya orang tua yang melahirkan anak, melainkan orangtua yang mengasuh, melindungi dan memberikan kasih sayang kepada anak. Memahami betapa pentingnya peran orang tua bagi pendidikan dan pengembangan anak serta betapa besar tanggung jawab orangtua terhadap pengembangn diri anak baik di rumah maupun di sekolah, maka belajar bagi orangtua mutlak diperlukan. Dengan terus belajar orangtua akan mampu melaksanakan tugas dan fungsinyadengan lebih baik. Selain itu orangtua juga akan mampu memerankan diri sebagai orangtua yang lebih bijaksana di mata anak-anaknya.

 

IMG_20150929_1.png

Peran orangtua bagi penegembangan anak secara lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Memelihara kesehatan fisik dan mental anak. Fisik yang sehat akan memberikan peluang yang lebih besar bagi kesehatan mental.
  2. Meletakkan dasar kepribadian yang baik. Struktur kepribadian anak dibangun dan dibentuk sejak usia dini.
  3. Membimbing dan memotivasi anak untuk mengembangkan diri. Anak akan berkembang melalui proses dalam lingkungannya. Lingkungan pertama bagi anak adalah keluarga.
  4. Memberikan fasilitas yang memadai bagi pengembangan diri anak.
  5. Menciptakan suasana yang aman, nyaman dan kondusif bagi pengembangan diri anak.

Perilaku sosial seperti halnya aspek perkembangan lainnya juga mempunyai bentuk bentuk yang membedakan dengan fase-fase perkembangan yang lain. Beberapa bentuk perilaku sosial yang nampak pada anak usia taman kanak-kanak, yaitu (Hurlock, 1978):

  1. Kerja sama
  2. Persaingan
  3. Kemurahan hati
  4. Hasrat akan penerimaan sosial
  5. Simpati
  6. Empati
  7. Ketergantungan
  8. Sikap ramah
  9. Sikap tidak mementingkan diri sendiri
  10. Meniru
  11. Perilaku kelekatan

Faktor-faktor pendorong pola orang tua.dalam  mendidik anak usia dini

Dimana faktor tersebut terbagi menjadi 3 diantaranya yaitu :

  1. Faktor pendidikan

Pendidikan yang baik merupakan wahana untuk membangun sumber daya manusia    (human resource), dan sumber daya manusia itu terbukti menjadi faktor determinan bagi keberhasilan bagi pembangunan dan kemajuan suatu bangsa.

  1. Faktor keagamaan

Dalam rangka mencapai keselamatan anak usia dini, agama memegang peranan penting. Maka orang tua yang mempunyai dasar agama kuat, akan kaya berbagai cara untuk melaksanakan upaya terbaik baik psikis maupun fisik terhadap anak.

  1. Faktor lingkungan

Lingkungan juga faktor yang sangat kuat mempengaruhi upaya orang tua secara psikis dan fisik terhadap anak usia dini. Pengaruh lingkungan ada yang baik dan ada yang  buruk. Ketiga faktor tersebut seperti pendidikan keagamaan dan lingkungan merupakan faktor yang melatarbelakangi adanya upaya spiritual (psikis) dan fisik yang dilaksanakan oleh orang tua dalam rangka memperoleh generasi yang unggul. Jadi tingkat pendidikan seseorang berpengaruh terhadap upaya secara psikis dan fisik baik yang menafaskan agama maupun tradisi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Effendi, Ridwan dan Elly Malihah. (2007). Panduan Kuliah Pendidikan Lingkungan Sosial   Budaya dan Teknologi. Bandung : CV. Maulana Media Grafika.
  2. Hasan, maemunah.2009. Pendidikan Anak Usia dini. Yogyakarta: Diva Press
  3. 2009.Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

 

sumber: http://indo2.islamicworld.net/index.php?option=com_content&view=article&id=32:peranan keluarga-dalam-pendidikan-karakter-anak&catid=9:psikologi-islam&Itemid=16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s