Realisme Basuki Abdullah

basoeki-abdullah

Basuki Abdullah (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, Hindia Belanda, 27 Januari 1915 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 5 November 1993 pada umur 78 tahun) adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia. Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari penjuru dunia.

Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya, Abdullah Suriosubroto, yang juga seorang pelukis dan penari. Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basuki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krishnamurti.

Pendidikan formal Basuki Abdullah diperoleh di HIS Katolik dan Mulo Katolik di Solo. Berkat bantuan Pastur Koch SJ, Basuki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda, dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA).

Pada masa Pemerintahan Jepang, Basuki Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basuki Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basuki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S.Sudjoyono, Otto Djaya dan Basuki Resobawo.

Pada masa revolusi Bosoeki Abdullah tidak berada di tanah air yang sampai sekarang belum jelas apa yang melatarbelakangi hal tersebut. Jelasnya pada tanggal 6 September 1948 bertempat di Belanda Amsterdam sewaktu penobatan Ratu Yuliana dimana diadakan sayembara melukis, Basuki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan berhasil keluar sebagai pemenang.

Sejak itu pula dunia mulai mengenal Basuki Abdullah, putera Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia. Selama di negeri Belanda Basuki Abdullah sering kali berkeliling Eropa dan berkesempatan pula memperdalam seni lukis dengan menjelajahi Italia dan Perancis dimana banyak bermukim para pelukis dengan reputasi dunia.

Basuki Abdullah terkenal sebagai seorang pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan dan kepala negara yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, diapun melukis pemandangan alam, fauna, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan sebagainya.

Basuki Abdullah banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok (Thailand), Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal dan negara-negara lain. Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basuki Abdullah. Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis Istana Merdeka dan sejak tahun 1974 Basuki Abdullah menetap di Jakarta.

berikut adalah lukisan karya Basuki Abdullah

sumber

Advertisements

art-deco

 

Art Deco (/ˌɑːrt ˈdɛk/), or Deco, is a style of visual arts, architecture and design that first appeared in France just before World War I. It became popular in the 1920s and 1930s, and influenced the design of buildings, furniture, jewellery, fashion, cars, movie theatres, trains, ocean liners, and everyday objects such as radios and vacuum cleaners. It took its name, short for Arts Décoratifs, from the Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes (International Exhibition of Modern Decorative and Industrial Arts) held in Paris in 1925. It combined modernist styles with fine craftsmanship and rich materials. During its heyday, Art Deco represented luxury, glamour, exuberance, and faith in social and technological progress.

Art Deco took its name, short for Arts Décoratifs, from the Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes held in Paris in 1925, though the diverse styles that characterize Art Deco had already appeared in Paris and Brussels before World War I.

The term arts décoratifs was first used in France in 1858; published in the Bulletin de la Société française de photographie.

In 1868, Le Figaro newspaper used the term art décoratifs with respect to objects for stage scenery created for the Théâtre de l’Opéra.

In 1875, furniture designers, textile, jewelry and glass designers and other craftsmen were officially given the status of artists by the French government. In response to this, the École royale gratuite de dessin (Royal Free School of Design) originally founded in 1766 under King Louis XVI to train artists and artisans in crafts relating to the fine arts, was renamed the National School of Decorative Arts (l’École nationale des arts décoratifs). It took its present name of ENSAD (École nationale supérieure des arts décoratifs) in 1927.

During the 1925 Exposition the architect Le Corbusier wrote a series of articles about the exhibition for his magazine L’Esprit Nouveau under the title, “1925 Expo: Arts Déco” which were combined into a book, “L’art décoratif d’aujourd’hui” (Decorative Art Today). The book was a spirited attack on the excesses of the colorful and lavish objects at the Exposition; and on the idea that practical objects such as furniture should have any decoration at all; his conclusion was that “Modern decoration has no decoration”.

The shorthand title “Arts Deco” that Le Corbusier used in the articles and book was adapted in 1966 for title of the first modern exhibit on the subject, called Les Années 25 : Art déco, Bauhaus, Stijl, Esprit nouveau, which covered the variety of major styles in the 1920s and 1930s. The term Art déco was then used in a 1966 newspaper article by Hillary Gelson in the Times (London, 12 November), describing the different styles at the exhibit.

Art Deco gained currency as a broadly applied stylistic label in 1968 when historian Bevis Hillier published the first major academic book on the style: Art Deco of the 20s and 30s. Hillier noted that the term was already being used by art dealers and cites The Times (2 November 1966) and an essay named “Les Arts Déco” in Elle magazine (November 1967) as examples of prior usage. In 1971, Hillier organized an exhibition at the Minneapolis Institute of Arts, which he details in his book about it, The World of Art Deco.

Art Deco was a pastiche of many different styles, sometimes contradictory, united by a desire to be modern. From its outset, Art Deco was influenced by the bold geometric forms of Cubism; the bright colors of Fauvism and of the Ballets Russes; and the updated craftsmanship of the furniture of the eras of Louis Philippe and Louis XVI; by the exotic styles of China and Japan, India, Persia, ancient Egypt and Maya art. It featured rare and expensive materials such as ebony and ivory and exquisite craftsmanship. The Chrysler Building and other skyscrapers of New York were the most visible monuments of the new style. In the 1930s, after the Great Depression, the style became more subdued. New materials arrived, including chrome plating, stainless steel and plastic. A more sleek form of the style, called Streamline Moderne, appeared in the 1930s; it featured curving forms and smooth, polished surfaces. Art Deco became one of the first truly international architectural styles, with examples found in European cities, the United States, Russia, Latin America, Africa and Asia. The style came to an end with the beginning of World War II. Deco was replaced as the dominant global style by the strictly functional and unadorned styles of modernism and the International Style of architecture

 

Serenata PMC & La Alfabeta Anniversary Celebrations : COLORING COMPETITION

flyer-coloring-competition-ac-2017

COLORING COMPETITION
Serenata PMC & La Alfabeta Anniversary Celebrations

🔑Media mewarnai : kertas A4
🔑Alat mewarnai : bebas
🔑Penilaian : creative 2d/3d art, boleh di padu dengan art-craft seperti origami, glitter, dll
🔑Kategori:
A : 4-6th
B : 7-9th
C : 1-12th
🔑 Registrasi :
15.000 untuk murid La Alfabeta & Serenata PMC
20.000 untuk umum
🔑 Hasil karya harus buatan sendiri tanpa dibantu orang tua atau teacher (hanya boleh diarahkan)
🔑 Gambar untuk mewarnai disediakan (bisa dikirim softcopy via email)
🔑Pengumpulan paling lambat tanggal 27 Maret 2017
🔑Pengumuman pemenang tanggal 8 April 2017
🔑Pendaftaran bisa langsung menghubungi teachernya masing-masing untuk siswa La Alfabeta
🔑 Untuk umum pendaftaran via Whatsapp dengan format : “La Alfabeta Coloring Competition”
Nama
Usia (sebelum tanggal 1 maret)
Email (jika materi mewarnai dikirim via email)
No. Tlp
Alamat
🔑Hadiah : Trophy, Sertifikat, Vouchers

Info lebih lanjut :
0812-8928-3667 (Naufal)

LA ALFABETA STUDIO-Cibubur Residence Blok B8/29, Jl. Alternatif Cibubur Cileungsi km 2, Bekasi 17433

http://www.laalfabeta.com

Serenata PMC & La Alfabeta Anniversary Celebrations : DRAWING COMPETITION

flyer-drawing-competition-ac-2017

🔑Tema : Perayaan Ulang Tahun
🔑Media gambar : kertas A4
🔑Alat gambar : bebas
🔑Penilaian : creative 2d/3d art, boleh di padu dengan art-craft seperti origami, glitter, dll
🔑Kategori usia : 13-16 tahun
🔑 Registrasi :
15.000 untuk murid La Alfabeta & Serenata PMC
20.000 untuk umum
🔑 Hasil karya harus buatan sendiri tanpa dibantu orang tua atau teacher (hanya boleh diarahkan)
🔑Pengumpulan paling lambat tanggal 27 Maret 2017
🔑Pengumuman pemenang tanggal 8 April 2017
🔑Pendaftaran bisa langsung menghubungi teachernya masing-masing untuk siswa La Alfabeta
🔑 Untuk umum pendaftaran via Whatsapp dengan format : “La Alfabeta Drawing Competition”
Nama
Usia (sebelum tanggal 1 maret)
Email
No. Tlp
Alamat
🔑Hadiah : Trophy, Sertifikat, Vouchers

Info lebih lanjut :
0812-8928-3667 (Naufal)

LA ALFABETA STUDIO-Cibubur Residence Blok B8/29, Jl. Alternatif Cibubur Cileungsi km 2, Bekasi 17433

http://www.laalfabeta.com