Bagaimana Agar Omongan Ibu Mudah Diterima Anak ?

 

Banyak orang tua mengeluh bahwa perkataanya tidak didengar oleh anaknya. Bahwa nasehat yang ia ingin anak dengarkan, cuma masuk lewat telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan.

Sebegitu sulitkah memberi nasehat pada anak?

Padahal kan cuma ngomong doang. “Hey, Nak.. Kalau bicara sama orang tua gak boleh sambil berteriak yaa,” misalnya begtiu.

Mudah bukan? Saya yakin siapa saja bisa melakukannya. Anak akan manggut-manggut mendengarkan, sambil berkata, “Iya, Bunda.. Saya dengar dan patuh.”

Apakah kenyataannya begitu? Tanyakan saja pada mamah-mamah muda itu, saya yakin jawabnya adalah; tidak.

Sekadar ngomong memang mudah, tapi ngomong sebuah omongan yang menghujam dan bakal di ingat di hati anak bukan soal gampang.

Maka tak heran bila banyak ibu yang merasa omongannya tak didengar anak, lalu ia berubah menajdi marah-marah pada anaknya. Tak heran banyak orang tua yang galak, memukul, membentak, yang sebenarnya tujuannya cuma satu; agar omongannya dituruti oleh anak.

Duh, tapi bukankah kita tak ingin jadi orang tua yang seenaknya memukul anak bukan? Kita ingin jadi orang tua yang ngomong lembut saja, nasehat itu sudah dilakukan oleh anak.

Sikap anak menjadi baik.

Lantas bagaimana cara agar omongan atau nasihat ibu itu mudah diterima anak? Nah, Ibu Widyaningrum, seorang guru sekolah dasar yang tinggal di Solo sekaligus penulis artikel-artikel parenting, memberikan tips yang mudah dilakukan oleh para orang tua saat memberi nasehat pada anaknya.

Apa saja?

Pertama, nasihatilah mereka, ketika hati mereka sedang lapang atau senang. Jangan memberi nasihat ketika mereka marah atau menangis, karena itu akan sia-sia.

Kedua, ingatkan selalu, jangan pernah bosan. Apabila nasihat itu belum mereka laksanakan.

Ketiga, nasihat juga bisa kita sampaikan lewat cerita perjuangan ataupun buku-buku penumbuh budi pekerti.

Keempat, nasihat disampaikan dengan sikap dan perilaku kita. Orangtua dan pendidik (guru) adalah model bagi anak atau siswanya.

Kelima,  nasihat kita sampaikan dengan ilmiah, contohnya ketika kita menasihati tentang adab makan dan minum harus duduk. Kita sampaikan kepada mereka bahwa makan dan minum dengan duduk membuat kerja ginjal jadi maksimal karena racun tersaring dengan baik. Bukan dengan menakut-nakuti anak dengan kebohongan.

Bunda, menasehati bukan menakuti anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s