“Monalisa” Leonardo Da Vinci

300px-Mona_Lisa,_by_Leonardo_da_Vinci,_from_C2RMF_retouched

Nama atau judul lukisan Mona Lisa berasal dari biografi Giorgio Vasari tentang Leonardo da Vinci, yang terbit 31 tahun setelah ia meninggal dunia. Di dalam buku ini disebutkan bahwa wanita dalam lukisan ini adalah Lisa Gherardini.

Mona dalam bahasa Italia adalah singkatan untuk ma donna yang artinya adalah “nyonyaku”. Sehingga judul lukisan artinya adalah Nyonya Lisa. Dalam bahasa Italia biasanya judul lukisan ditulis sebagai Monna Lisa.

Lalu La Gioconda adalah bentuk feminin dari Giocondo. Kata giocondo dalam bahasa Italia artinya adalah “riang” dan la gioconda artinya adalah “wanita riang”. Berkat senyum Mona Lisa yang misterius ini, frasa ini memiliki makna ganda. Begitu pula terjemahannya dalam bahasa Perancis; La Joconde.

Nama Mona Lisa dan La Gioconda atau La Joconde menjadi judul lukisan ini yang diterima secara luas semenjak abad ke-19. Sebelumnya lukisan ini disebut dengan berbagai nama seperti “Wanita dari Firenze” atau “Seorang wanita bangsawan dengan kerudung tipis”.

Sumber

Advertisements

“Dialog”

detail_cWMKxhQ2YP_boyke_aditya_krishna_samudra__bigjpg

Artist : Boyke Aditya K.S

Year : 1991

Akrilik pada kanvas.

Ukuran : 110 x 130 cm.

Suasana fantastis dengan imaji mistis tersirat dalam karya Boyke Aditya K.S. yang berjudul “Dialog” (1991) dalam gaya Surrealisme. Sebuah lanskap dunia imajinatif hadir dengan makhluk-makhluk khayat yang tinggal dengan terjerat dalam sulur-sulur yang membentuk labirin. Sosok merah dalam bentuk transformatif manusia binatang mengulurkan tangan, melakukan dialog dengan figur berwarna hijau yang berdiri menunggang kerbau. Karya ini secara visual menunjukkan idiom yang bersumber dari seni tradisi wayang maupun stilisasi dari berbagai seni tradisi yang lain. Oleh karena itu, sebagai ungkapan Surrealis, karya ini dapat dikatagorikan dalam bentuk Surrealisme biomorphic yang menggunakan idiom-idiom visual stilisasi bentuk bentuk makhluk hidup.

Kecenderungan pada gaya Surrealisme merupakan salah satu periode yang pernah dominan dalam seni lukis Indonesia, khususnya pada pelukispelukis Yogyakarta. Kemunculan kecenderungan ini merupakan kelanjutan dari paradigma estetik humanisme universal yang lebih menekankan pada kebebasan personal dalam mengungkapkan pencarian jati diri seniman. Dalam kecenderungan itu banyak seniman yang melahirkan karya dengan menggali konsep dan tema dari masalah sosiokultural dengan tekanan nilai-nilai lokal dan tradisi. Karya yang dihadirkan Boyke Aditya ini banyak mengungkapkan ironi kehidupan sosial dalam simbol-simbol personal yang digali dari mitos maupun legenda masyarakat Jawa dan lainnya.

Dalam karya ini, pelukis mengungkapkan proses dialog atau problem komunikasi dari suatu dunia imajiner yang bersumber dari kepercayaan gaib, kehidupan spiritual, maupun suatu sistem reliji. Dalam kehidupan kemanusiaan modern ini, tahap kebudayaan mitis di mana pandangan manusia yang masih menyatu dengan alam dan mengidentifikasi problem transendensi sebagai dunia gaib, masih banyak menguasai berbagai praktik kebudayaan. Boyke Aditya yang hidup dalam komunitas kebudayaan Jawa dan Sunda yang masih banyak menganut sistem reliji lokal berupaya mereflesikan berbagai problem simbolik dari nilai kehidupan itu. Suasana fantastis yang diciptakan merupakan refleksi dari keterbatasan manusia memahami berbagai kekuatan transedental.

 

Sumber

“Pencarian Tempat”

detail_oQnkZ4ab0k_i_gusti_nengah_nurata__bigjpg

Title : “Pencarian Tempat”

Artist : I Gusti Nengah Nurata

Year : 1989

Cat minyak pada kanvas.

Ukuran : 97 x 153 cm.

Dalam lukisan “Pencarian Tempat” (1989), I.G. Nengah Nurata menghadirkan kasih perjalanan
spiritual dalam gaya Surrrealisme dekoratif yang sarat dengan imaji. Pada lanskap tanah kering bersela batu-batu karang yang bermutasi sebagai makhluk demonis, di antaranya tumbuh pohon yang meranggas. Seorang Brahmana membawa panji yang berkibar, duduk di atas gajah tunggangannya berjalan diikuti sekawanan binatang yang mengiringinya. Langit gelap dengan sosok kala yang berkamuflase dalam awan-awan cumulo, menatap tajam ke arah rombongan sang Brahmana. Selain itu masih ada buru dan binatang buas yang menghadang. Sebagai latar belakang, diungkapkan dengan dominasi warna coklat umber, sehingga menguatkan kesan magis dalam karya tersebut.

Dalam paradigma estetik humanisme universal, para pelukis Indonesia banyak mengembangkan kecenderungan personal lirisisme, termasuk di dalamnya gaya Surrealisme yang berkembang pesat di Yogyakarta. Surrealisme banyak mencirikan imajinasi yang bersumber dari dunia bawah sadar dengan bebagai problem ironi kehidupan personal maupun sosial sang seniman maupun masyarakat. Kecenderungan gaya ini mengantarkan pelukis dalam penggalian nilai-nilai spiritual dan reliji bagi karya-karyanya. Di dalamnya termasuk nilai-nilai kultural Bali yang sarat dengan kisah dalam kitab suci maupun mitos-mitos, di mana Nurata lahir dan tumbuh dengan segala penghayatannya.

Lukisan ini secara simbolik mengungkapkan sebuah proses pencarian eksitensi jati diri manusia serbagaimana layaknya sang Brahmana pengembara. Gulungan awan kala merupakan representasi hawa jahat yang terung mengintai kemurnian pencarian. Ungkapan penghayatan ini mempunyai dimensi reliji yang hadir dalam dunia simbolik, sebagai penggambaran ruang bawah sadar manusia dalam realitas transendensi yang sebenarnya.

sumber

“Pedagang Asongan”

detail_efH77enQtT_hardi_bigjpg

Artist : Hardi

Year : 1988

Cat minyak, akrilik pada kanvas.

Ukuran : 145 x 150 cm.

Dalam lukisan yang berjudul “Pedagang Asongan” (1988) ini, Hardi mengungkapkan sebuah satire simbolis tentang kecemasan anak jalanan. Anakanak pedagang asongan berlari tercerai-berai dikejar sosok benda semacam bola api yang berpijar merah. Di belakangnya menyusul sepotong wajah petugas keamanan dengan senjata yang muncul teracungkan.  Penanda visual dari gerak semua figur mengungkap realitas kekacauan,sedangkan bola api memberi dimensi simbolis pada kecemasan. Suasana itu didukung dengan seting kota yang kering. Lewat warna kontras pada jalanan yang hitam dan  dominan warna kuning, serta gedung-gedung putih dengan latar langit yang biru, maka karakter siang yang terik panas menambah suasana kegalauan. Karya ini dapat dikategorikan dalam gaya ekspresionisme simbolis.

Sumber