Galeri Nasional Indonesia mempersembahkan:

PAMERAN SENI RUPA KOLEKSI NASIONAL
“MENYIGI MASA”

10 – 28 Oktober 2018
Galeri Nasional Indonesia
DIDUKUNG OLEH
Museum Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh
Dewan Kesenian Jakarta
Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta
Menampilkan karya-karya pilihan koleksi Galeri Nasional Indonesia, Museum Aceh, Dewan Kesenian Jakarta, dan UP Museum Kesejarahan Jakarta.

KURATOR
Suwarno Wisetrotomo & Rizki A. Zaelani

ASISTEN KURATOR
Teguh Margono & Bayu Genia Krishbie

PAMERAN
11 – 28 Oktober 2018
Pukul 10.00 – 19.00 WIB
Gedung A

Sumber

Advertisements

Festival Danau Kerinci 2018

md.716.641.ev1515942494

Pemerintah Kabupaten Kerinci pada tahun ini akan kembali menggelar Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK) 2018 yang akan diselenggarakan pada tanggal 3 – 7 Oktober 2018 di Kawasan Wisata Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Acara tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ke-17 kali diselenggarakan dan telah masuk dalam agenda pariwisata nasional.

Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK) atau yang lebih dikenal dengan festivalnya masyarakat Kerinci merupakan acara tahunan masyarakat Kota Sungai Penuh dan Masyarakat Kabupaten Kerinci, bahkan masyarakat yang masih memiliki hubungan sejarah dan emosional dengan Kerinci, yang dikenal dengan masyarakat Melayu Kerinci, secara prinsip memiliki makna kesatuan budaya, kesatuan ekologi dan ekonomi.

Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK) 2018 diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kerinci dan didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi Jambi dan Kementerian Pariwisata dengan maksud meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan keindahan alam Danau Kerinci dan para stakeholder dalam mengembangkan potensi pariwisata Danau Kerinci. Selain itu, Acara ini juga menjadi ajang promosi untuk memperkenalkan keindahan Danau Kerinci ke seluruh dunia sehingga dapat menjaring lebih banyak wisatawan untuk mengunjungi Danau Kerinci.

Untuk memeriahkan acara nasional ini, panitia Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci (FMPDK) 2018 akan menampilkan pawai budaya, tarian massal, lomba parno adat dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Kerinci, stan kuliner serta pertunjukan dan lomba seni. budaya.

Dalam pertunjukan seni dan budaya akan menampilkan Tari Rangguk Tradisi, lomba tari kreasi, lomba berbalas pantun, lomba mengaji adat Kerinci, lomba sike rebana dan fashion show antar MAN, SMA, mahasiswa, dan sanggar se-Kabupaten Kerinci.

Menurut ahli geologi, Danau Kerinci merupakan bagian dari lembah di Gunung Kerinci. Lembah ini kemudian terbentuk sebagai letusan kecil yang disebabkan oleh gunung berapi dan terjadi penurunan Pegunungan Bukit Barisan.

Danau Kerinci membentang 4.200 hektar dan mencapai kedalaman 110 meter. Sejumlah peninggalan batu megalitik telah ditemukan di desa-desa kecil yang tersebar di sekitar pantai Kerinci, beberapa di antaranya berasal dari 2.000 tahun yang lalu. Kehadiran batu berdiri kuno ini menunjukkan daerah ini sebagai tempat yang telah dihuni ribuan tahun.

Selain pemandangan yang sangat menawan, danau ini juga berfungsi sebagai salah satu sumber air di Kabupaten Kerinci dan Provinsi Jambi. Air di danau mampu memasok kebutuhan air masyarakat, baik untuk kebutuhan pertanian maupun air minum.

Danau Kerinci terletak di Lembah Kerinci, sekitar 16 kilometer dari Sungai Penuh. Dua kota terdekat ke Sungai Penuh, ibu kota Kabupaten Kerinci, adalah Jambi dan Padang.

Perjalanan menuju ke Sungai Penuh dari kota Jambi memakan waktu sekitar 10 jam dengan mobil dengan jarak tempuh sekitar 500 km. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan kendaraan umum atau mobil sewaan. Bandara Jambi hanya melayani Jakarta dan Batam.

Rute alternatif melalui Padang jauh lebih cepat, dengan jarak tempuh kurang dari 300 kilometer. Sungai Penuh dapat dicapai menggunakan transportasi umum, penyewaan mobil atau mobil pribadi, dan memakan waktu antara 5-6 jam.

Sumber

Title : “Perahu”

Artist : Zaini

Year : 1974

Cat minyak pada kanvas.

Ukuran : 65 x 80 cm.

Dalam lukisan ini, Zaini melukiskan perahu dengan abstraksi yang menghadirkan suasana puitik. Dengan sapuan-sapuan kuas yang menciptakan suasana lembut, warna dan garis dalam lukisan Zaini ternyata memunculkan objek-objek dalam kekuburan. Dengan lukisan-lukisan bernuansa lembut itulah Zaini sangat kuat menciptakan bahasa abstraksi liris. Personal style yang menjadi ciri khas Zaini itu merupakan hasil perjuangan panjang sejak tahun 1950-an. Lukisan “Perahu” (1974) ini, seperti kekuatan lukisan-lukisannya yang lain yaitu menyampaikan pesan misteri dari kehadiran samar-samar objeknya.

Dalam semangat yang bernafas dengan Oesman Effendi, semenjak di sanggar SIM Yogyakarta karyakarya Zaini telah menuju pada penyederhanaan bentuk-bentuk yang naif. Namun demikian, pada tahun 1949 ia keluar dari SIM karena dalam sanggar semakin kuat pengaruh paradigma estetik “kerakyatan revolusioner” yang berhaluan kiri dan tidak sejalan dengannya. Pada saat itulah ia pindah ke Jakarta dan mulai mengembangkan karyakaryanya dengan media pastel yang menghasilkan garis dan warna lembut.

Dari proses yang panjang, eksplorasi teknik dengan pencarian bentuk lewat goresan spontan dan lembutmenghadirkan objek-objek yang impresif. Objek-objek itu menjadi sosok kabur dengan ekspresi kesunyian yang kuat. Mencermati karyakarya Zaini dalam periode selanjutnya, seperti memasuki dunia yang sarat dengan perenungan spiritual. Di dalamnya mengandung berbagai tanggapan personal tentang kerinduan, kesunyian, kehampaan, bahkan kematian. Objek-objek seperti perahu, bunga, burung mati, atau
apapun, merupakan esensi yang sajikan dari berbagai fenomena dunia luar untuk memahami perenungan spiritual itu. Dalam risalah Trisno Sumardjo (1957), dikatakan bahwa proses dialog spiritual lewat objek-objek sederhana itu menjadi jembatan untuk memahami perenungannya pada dunia kosmosnya yang lebih besar. Puncak pencapaian abstraksi dan spiritualisasi objek-objek itu terjadi pada tahun 1970-an, yaitu ketika ia dengan kuat menghadirkan suasana puitis dalam karya-karyanya. Zaini menjadi penyaring objek-objek yang sangat ekspresif lewat goresan cat minyak dan akrilik, dengan warna lembut seperti kabut.

Sumber

“Potret Adolphe Jean Phillipe Hubert Desire Bosch”

Artist : Raden Saleh

Year : 1867

Cat minyak pada kanvas

Ukuran 89,5 x 122,5 cm

Diantara lukisan-lukisannya yang mengungkap pergulatan kehidupan yang dramatik, Raden Saleh juga banyak melukis potret pada Cornelis Kruseman, ia mendapat tugas Pemerintah Belanda melukis potret para gubernur jendral Hindia Belanda, yaitu J.van den Bosch, H.W. Daendeles, dan J.C. Baud. Ketiga lukisan tersebut menjadi penanda yang penting karya – karya potret Raden Saleh. Lukisan Raden Saleh ini mengungkapkan sosok seorang pejabat Belanda yang berdinas di Yogyakarta. Karakter yang ditampilkan merupakan ekspresi ketenangan dan kewibawaan aristokrat kolonial feodal.

Sumber

Lukisan : Salib (Bagong Kussudiardjo – 1974)

Artist : Bagong Kussudiardjo

Year : 1974

Cat minyak pada kanvas.

Ukuran : 100 x 140 cm.

Dalam lukisan Bagong yang berjudul “Salib” (1974) ini, diungkapkan secara deformatif dua sosok figur dalam penyaliban. Dengan gaya eskpresionisme, gestur tubuh-tubuh yang tersalib dibangun lewat spontanitas garis dan warna-warna yang berat. Sebagai latar belakang muncul kontras warna putih dan oranye yang merepresentasikan cahaya dan ruang. Lukisan ini secara keseluruhan menunjukan suatu dinamika gerak, tetapi sekaligus nada yang berat. Penanda visual tersebut mengungkapkan kepekatan hati pelukisnya  dalam menghayati tema yang diungkap.

Bagong Kussudiardjo termasuk salah satu pelukis Yogyakarta yang berada dalam barisan awal ungkapan lirikan personal.  Idiom ini merupakan antitesis terhadap paradigma estetik kerakyatan yang pada masa itu sangat kuat dianut oleh seniman-seniman Yogyakarta, bahkan mengeras dalam faham yang revolusioner. Dengan mengawali obyek-obyek geometrik, kemudian abstraksi dan eskpresionis, ia memuncaki perjalanan gaya itu dalam absttraksi murni. Dalam konteks perkembangan itulah Bagong dapat menemukan jati dirinya antara lain dalam idiom-idiom religius Kristen.

Lukisan ini secara langsung akan membawa imajinasi pada peristiwa penyaliban Yesus. Pesan yang dibawa adalah kemuliaan penderitaan dalam dimensi peristiwa sakral itu. Walaupun bagong mengungkap nilai simbolik yang dalam, namun ia lebih menekankan pada sensibilitas penghayatan personal lewat bahasa abstraksi visualnya. Sensibilitas itu diharapkan bisa menyentuh impuls orang lain dalam penghayatan simbolik penderitaan yang diungkap.

Sumber

Title : “Potret Adolphe Jean Phillipe Hubert Desire Bosch”

Artist : Raden Saleh

Year : 1867

Cat minyak pada kanvas

Ukuran 89,5 x 122,5 cm

Diantara lukisan-lukisannya yang mengungkap pergulatan kehidupan yang dramatik, Raden Saleh juga banyak melukis potret pada Cornelis Kruseman, ia mendapat tugas Pemerintah Belanda melukis potret para gubernur jendral Hindia Belanda, yaitu J.van den Bosch, H.W. Daendeles, dan J.C. Baud. Ketiga lukisan tersebut menjadi penanda yang penting karya – karya potret Raden Saleh. Lukisan Raden Saleh ini mengungkapkan sosok seorang pejabat Belanda yang berdinas di Yogyakarta. Karakter yang ditampilkan merupakan ekspresi ketenangan dan kewibawaan aristokrat kolonial feodal.

Sumber

“Monalisa” Leonardo Da Vinci

300px-Mona_Lisa,_by_Leonardo_da_Vinci,_from_C2RMF_retouched

Nama atau judul lukisan Mona Lisa berasal dari biografi Giorgio Vasari tentang Leonardo da Vinci, yang terbit 31 tahun setelah ia meninggal dunia. Di dalam buku ini disebutkan bahwa wanita dalam lukisan ini adalah Lisa Gherardini.

Mona dalam bahasa Italia adalah singkatan untuk ma donna yang artinya adalah “nyonyaku”. Sehingga judul lukisan artinya adalah Nyonya Lisa. Dalam bahasa Italia biasanya judul lukisan ditulis sebagai Monna Lisa.

Lalu La Gioconda adalah bentuk feminin dari Giocondo. Kata giocondo dalam bahasa Italia artinya adalah “riang” dan la gioconda artinya adalah “wanita riang”. Berkat senyum Mona Lisa yang misterius ini, frasa ini memiliki makna ganda. Begitu pula terjemahannya dalam bahasa Perancis; La Joconde.

Nama Mona Lisa dan La Gioconda atau La Joconde menjadi judul lukisan ini yang diterima secara luas semenjak abad ke-19. Sebelumnya lukisan ini disebut dengan berbagai nama seperti “Wanita dari Firenze” atau “Seorang wanita bangsawan dengan kerudung tipis”.

Sumber