Terapi Seni untuk Sembuhkan Gangguan Kesehatan Mental

Sebuah organisasi di Samoa menggunakan terapi seni untuk mempromosikan kesejahteraan mental dan menghilangkan stigmatisasi dikalangan masyarakat mengenai  kesehatan mental.

Ketika Yang Mulia Tui Atua Tupua Tamasese Ta’isi Efi, Kepala Negara Samoa, memberikan ceramah di pertemuan tahunan Asosiasi Kesehatan Samoa dan Seminar Ilmiah pada Mei 2014 lalu, ia menyampaikan mengenai kesehatan mental dalam konteks kebudayaan.
“Sebagai warga Samoan saya bukan tipe orang yang penyendiri, saya menganggap bagian dari kosmos, saya berbagi warisan atau tofi dengan keluarga, desa dan bangsa,” kata Tupua dalam ceramahnya.
Kebudayaan Samoa sangat kuat mempertahankan fokusnya pada aiga, atau keluarga, dan layanan kesehatan mental di Samoa menggunakan model pendekatan terhadap Aiga ini sebagai cara untuk mengenali perlunya keluarga besar terlibat dalam proses penyembuhan pasien gangguan mental.
Proyek ini berusaha mempertahankan perasaan saling memiliki dikalangan anggota keluarga dan juga masyarakat.
Namun, meski fokus pada budaya menarik kekuatan dari masyarakat, katanya masih ada stigma besar yang terkait dengan kesehatan mental di negara ini.
An art therapy participant from the Samoa Victim Support Group. (Photo supplied: Galumalemana  Steven Percival)
An art therapy participant from the Samoa Victim Support Group. (Photo supplied: Galumalemana Steven Percival)
Sebuah proyek yang sedang berlangsung di Pusat Seni Tiapapata di ibukota Apia berharap dapat mengubah persepsi itu.
Fa’aāliga o Lagona, yang berarti ‘ekspresi emosi,’ merupakan proyek terapi menggunakan media seni yang dimulai sebagai cara untuk melibatkan korban trauma dan pelecehan yang ditampung di Kelompok Dukungan Korban Samoa.
Program ini telah diperluas untuk mencakup orang-orang dari Badan Kesehatan Mental Goshen,  maupun yang diidentifikasi oleh Unit Kesehatan Mental dan mahasiswa di Sekolah Fiamalamalama untuk anak-anak dengan kesulitan belajar.
Proyek ini dijalankan oleh Kesehatan Mental Asia Australia yang berpartner dengan organisasi internasional dan lokal seperti Tiapapata untuk membantu meningkatkan kesehatan mental di Asia Pasifik.  Program yang didanai oleh program PACMAS ABC Pembangunan Internasional ini bertujuan untuk “mendorong diskusi yang lebih luas dan untuk mendorong pemahaman yang lebih besar dari persepsi, penyakit mental dan trauma melalui seni dan kreativitas di Samoa. ‘
Galumalemana Steven Percival dari Pusat Seni Tiapapata mengaku respon dari para korban yang terlibat dalam proyek ini sangat positif.
“Dilakukan oleh Wendy Percival, guru seni utama di Pusat Seni  Tiapapata, para siswa disini telah mengerjakan banyak kegiatan seni dalam berbagai bentuk media mulai dari menggambar dan melukis, keramik, seni grafis dan lukisan mural,” katanya.
“Dengan melibatkan seluruh anggota kelompok, awalnya korban yang melakukan terapi seni ini hanya menggambar bentuk yang sederhana saja, tapi kemudian gambar yang mereka hasilkan bisa lebih ekspresif ketika mereka saling mengenal dan merasa percaya diri dengan kreatifitas dan media seni yang mereka gunakan,” katanya.
Menuurt Steven, faktor pendorong perubahan di kelompok ini adalah mereka melihat diri mereka sendiri sebagai artis atau seniman, bukan orang yang memiliki gangguan kesehatan mental.
A girl from the Samoa Victim Support Group paints outside as a part of her art therapy. (Photo supplied: Galumalemana Steven Percival)
A girl from the Samoa Victim Support Group paints outside as a part of her art therapy. (Photo supplied: Galumalemana Steven Percival)
Dr Patricia Fenner, dosen senior & koordinator dari Master program terapi seni di Universitas La Trobe Melbourne yang memfasilitasi terapi lokakarya seni untuk para staf di Pusat Seni Tiapata ini mengatakan terapi seni adalah bentuk pengobatan yang diakui untuk orang dengan masalah kesehatan mental.
“Terapi seni sangat sering digunakan untuk membantu orang mengatasi dampak psikososial negatif kondisi kejiwaan termasuk depresi, gangguan kepribadian dan gangguan psikotik dan sebagainya,” katanya.
Ide di balik terapi seni adalah dengan menggunakan proses kreatif sebagai ekspresi, bukan sebagai diagnosis.
“Efeknya sangat beragam dan mencakup pertumbuhan pribadi dan peningkatan kapasitas sosial melalui hal-hal seperti peningkatan rentang perhatian, partisipasi aktif, meningkatkan wawasan perilaku saat ini, kemampuan untuk berbagi perasaan, peningkatan pemahaman tantangan pribadi termasuk berurusan dengan trauma, kesedihan dan kerugian, “katanya.
Dr Fenner juga menjelaskan bahwa mengingat ketika menggambar lukisan yang kuat yang hendak dihasilkan seseorang dengan gangguan kesehatan mental,  misalnya yang melibatkan trauma masa lalu itu penting dikerjakan dengan bantuan pendampingan oleh terapis seni terlatih.
“Potret visual dapat mencerminkan, atau dalam tingkatan perasaan mewujudkan isu-isu di masa lalu, dan ini dapat menghadapkan klien kita pada situasi yang mengancam jika tidak dikelola dengan baik,” katanya. “Kedua, gambar kadang-kadang sangat eksplisit dan bisa sulit bagi orang lain untuk melihatnya, terutama untuk contoh di mana bahan kekerasan atau trauma dapat digambarkan secara visual.
Dr Fenner menambahkan bahwa karya seni jenis ini bahkan bisa menjadi bagian dari catatan medis pasien.
Fokus utama dari proyek ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu kesehatan mental, dan untuk tujuan menggelar sebuah pameran dari karya klien yang mereka tangani pada bulan November.
“Masyarakat nantinya dapat belajar mengenai pengalaman penyembuhan para klien kami dengan ikut meyaksikan karya seni buatan mereka yang dituangkan dalam berbagai bentuk, termasuk pameran,” kata Dr Fenner.
proyek Faʻaāliga o Lagona ini akan berlanjut hingga tahun 2015 dengan pameran kedua dijadwalkan berlangsung pada Mei 2015.
A mandala painted by an art therapy participant from the Samoa Victim Support Group.  (Photo supplied: Galumalemana Steven Percival)
A mandala painted by an art therapy participant from the Samoa Victim Support Group. (Photo supplied: Galumalemana Steven Percival)

 

Advertisements