Selamat Tahun Baru 2018

ft-image-tahun-baru-2

Hari berganti bulan berganti, tahun pun berganti, tahun baru harapan baru
semangat baru
Selamat Tahun Baru 2018

Advertisements

Lukisan : Kakak dan Adik (Basuki Abdullah – 1971)

detail_alyn1Y4JPq_adik_kakak_bigjpg

Title : “Kakak dan Adik”

Artist : Basuki Abdullah

Year : 1971

Cat minyak pada kanvas.

ukuran : 65 x 79 cm.

Lukisan Basuki Abdullah yang berjudul “Kakak dan Adik” (1978) ini merupakan salah satu karyanya yang menunjukkan kekuatan penguasaan teknik realis. Dengan pencahayaan dari samping, figur kakak dan adik yang dalam gendongan terasa mengandung ritme drama kehidupan. Dengan penguasaan proporsi dan anatomi, pelukis ini menggambarkan gerak tubuh mereka yang mengalunkan perjalanan sunyi. Suasana itu, seperti ekspresi wajah mereka yang jernih tetapi matanya menatap kosong. Apabila dengan pakaian mereka yang bersahaja dan berwarna gelap, sosok kakak beradik ini dalam selubung keharuan. Dari berbagai fakta tekstur ini, Basuki Abdullah ingin mengungkapkan empatinya pada kasih sayang dan kemanusiaan.

Namun demikian, spirit keharuan kemanusian dalam lukisan ini tetap dalam bingkai Romantisisime. Oleh karena itu, figur kakak beradik lebih hadir sebagai idealisasi dunia utuh atau bahkan manis, daripada ketajaman  realitas kemanusiaan yang menyakitkan. Pilihan konsep estetis yang demikian dapat dikonfirmasikan pada semua karya Basuki Abdullah yang lain. Dari berbagai mitologi, sosok-sosok tubuh yang telanjang, sosok binatang, potret-potret orang terkenal, ataupun hamparan pemandangan, walaupun dibangun dengan dramatisasi namun semua hadir sebagai dunia ideal yang cantik dengan penuh warna dan cahaya.

Berkaitan dengan konsep estetik tersebut, Basuki Abdullah pernah mendapat kritikan tajam dari S. Sudjojono. Lukisan Basuki Abdullah dikatakan sarat dengan semangat Mooi Indie yang hanya berurusan dengan kecantikan dan keindahan saja. Padahal pada masa itu, bangsa Indonesia sedang menghadapi penjajahan, sehingga realitas kehidupannya sangat pahit, kedua pelukis itu sebenarnya memang mempunyai pandangan estetik yang berbeda, sehingga melahirkan cara pandang/pengungkapan yang berlainan. Dalam kenyataannya estetika Basuki Abdullah yang didukung kemampuan teknik akademis yang tinggi tetap menempatkannya sebagai pelukis besar. Hal itu terbukti dari berbagai penghargaan yang diperoleh, juga didukung dari masyarakat bawah sampai kelompok elite di istana, dan juga kemampuan bertahan karya-karyanya eksis menembus berbagai masa.

Sumber

Biografi Pak Raden Pembuat Boneka Si Unyil

pak-raden_kaskus

Pak Raden adalah seorang seniman yang menciptakan tokoh boneka Si Unyil, yang digunakan sebagai tokoh dalam serial televisi yang berjudul Boneka Si Unyil yang ditayangkan pada era tahun 1980-an yang bertujuan untuk mendidik dan menghibur anak-anak Indonesia pada saat itu.
Nama Pak Raden ia dapatkan karena ia menjadi pengisi suara tokoh Pak Raden pada serial Boneka Si Unyil. Nama asli beliau adalah Suyadi. Beliau lahir pada tanggal 28 November 1932 di Puger, Jember, Jawa Timur. Ia adalah anak ke-7 dalam sembilan bersaudara. Sejak kecil ia sudah suka menggambar, bahkan ia merasa dengan menggambar ia menemukan dunianya. Ia mempunyai ciri khas yang unik jika dibandingkan dengan seniman lainnya, yaitu terletak pada blangkong khasnya dan kumisnya yang tebal menjadi nilai lebih yang dimilikinya.
Hobinya tersebut membawanya untuk masuk jurusan seni rupa di ITB (Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1952. Di sana kemampuannya dalam menggambar semakin baik tidak hanya itu, kecintaannya terhadap dunia seni semakin bertambah. Pada tahun 1960 Pak Raden lulus dari ITB.
Selepas lulus dari ITB, Suyadi melanjutkan sekolahnya di Perancis untuk memperdalam pengetahuannya mengenai animasi. Ia belajar di sana dari tahun 1961 sampai 1963. Sejak masih menjadi mahasiswa, ia banyak menghasilkan karya buku cerita bergambar, juga sebagai ilustrator, dan  membuat film animasi untuk anak-anak.

Sejarah Panjang Hari Guru Nasional

selamat-hari-guru-

Setiap tahun, 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Hal itu ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.

PGRI diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada 1912. Organisasi ini bersifat unitaristik yang anggotanya terdiri dari para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda mereka umumnya bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Sejalan dengan keadaan itu, maka selain PGHB berkembang pula organisasi guru bercorak keagamaan, kebangsaan, dan sebagainya.

Dua dekade berselang, nama PGHB diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Perubahan ini mengejutkan pemerintah Belanda, karena kata “Indonesia” yang mencerminkan semangat kebangsaan sangat tidak disenangi oleh Belanda. Sebaliknya, kata “Indonesia” ini sangat didambakan oleh guru dan bangsa Indonesia.

Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan yang sejak lama tumbuh mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dan posisi dengan pihak Belanda. Hasilnya antara lain adalah Kepala HIS yang dulu selalu dijabat orang Belanda, satu per satu pindah ke tangan orang Indonesia.

Semangat perjuangan ini makin berkobar dan memuncak pada kesadaran dan cita-cita kesadaran. Perjuangan guru tidak lagi perjuangan perbaikan nasib, tidak lagi perjuangan kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi telah memuncak menjadi perjuangan nasional dengan teriak “merdeka.”

Sayang, pada zaman pendudukan Jepang segala organisasi dilarang dan sekolah ditutup sehingga PGI tidak dapat lagi melakukan aktivitas. Namun, semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjadi dasar PGI untuk menggelar Kongres Guru Indonesia pada 24–25 November 1945 di Surakarta.

Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk.

Di dalam kongres inilah, tepatnya pada 25 November 1945, PGRI didirikan. Maka, sebagai penghormatan kepada para guru, pemerintah menetapkan hari lahir PGRI tersebut sebagai Hari Guru Nasional dan diperingati setiap tahun.

Namun, ada sejarah panjang hingga akhirnya 25 November terpilih sebagai Hari Guru Nasional. Selain Hari Guru Nasional, 25 November 1945 juga ditetapkan sebagai hari lahir Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Sumber

The Arrest of Pangeran Diponegoro

350px-Raden_Saleh_-_Diponegoro_arrest

Prince Diponegoro stands, defiant, in front of Lieutenant General Hendrik Merkus de Kock in front of the colonial officer’s mansion. He wears a green turban, white tabard over pantaloons, and a jacket; around his waist is a golden belt, to which prayer beads are attached, and over his shoulder is a shawl. He appears to be struggling to control his anger – as would be expected from Javanese gentry – while the Europeans’ eyes are static and avoid the eyes of others.

De Kock, the captor, stands to Diponegoro’s left, at the same level as the guerrilla. Further to the left are various Dutch officers, identified by the historian and Diponegoro biographer Peter Carey as Colonel Louis du Perr, Lieutenant-Colonel W.A. Roest, and Major-Adjutant Francois Victor Henri Antoine Ridder de Stuer. To the prince’s right stands a Javanese man identified by Carey as Diponegoro’s son, Diponegoro the Younger, followed by Resident of Kedu Franciscus Gerardus Valck, Major Johan Jacob Perié, and Captain Johan Jacob Roeps. At Diponegoro’s feet, a woman – possibly his wife Raden Ayu Rětnaningsih – reaches out to grab him.

The view from the northeast shows a still morning scene, with no wind blowing, and centered around Diponegoro.Saleh gives the painting depth of field, showing the soldiers closest to the front in crisp detail, while blurring the details of those in the back rows. The heads of the Dutchmen depicted appear to be slightly too large for their bodies, while those of the Javanese soldiers are of proper proportions. The painter, Raden Saleh, inserted himself into the painting twice: as a soldier bowing to the captured leader, and as a soldier facing the viewer.

Sumber