Les Menggambar dan Melukis

ART FLYER 2017

Hai papa mama…

 

Si kakak masih playgroup atau TK tapi sudah kelihatan bakat mewarnai?

 

Si adek suka corat coret tembok? Mungkin memang suka seni, harus di arahkan dong bakatnya…

 

Kegiatannya tidak hanya mewarnai/menggambar dan melukis biasa lho…

 

namun bisa sekalian 3D Art-Craft menggunakan origami, hand printing, pop up craft, dan masih banyak lagi ide seru lainnya

 

Daripada repot keluar rumah, macet, panas, jam ngga fleksibel, lebih baik teacher datang ke rumah… Suasana lebih cozy karena di rumah sendiri, jam bisa diatur sehingga tidak mengganggu jam bobo siang dan tidak bertabrakan dengan les lainnya…

 

Ayo cek kelebihan kami:

 

Teacher datang ke rumah, tidak perlu repot keluar macet, hujan dan panas

 

Disc 50% biaya pendaftaran

 

Harga yang terjangkau dengan berbagai promo yang sedang berlangsung

 

Waktu lebih fleksibel karena bisa mengatur jadwal langsung dengan teacher

 

Teacher ramah dan penjelasan mudah dimengerti

 

Teacher yang berkualitas dan berpendidikan di bidangnya

 

Hari libur atau tanggal merah tetap diganti

 

Sabtu dan minggu tetap ada jadwal les

 

Contact Us !

 

 

CUSTOMER SERVICE LA ALFABETA ART

 

0812 8928 3667

 

 

 

Kunjungi official website kami di :

 

http://www.laalfabeta.com

 

laalfabeta@gmail.com

 

facebook.com/laalfabeta.course

Advertisements

Hari Jantung Sedunia

World-Heart-Day-2015

Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) adalah penyebab utama kematian di dunia. Pada tahun 2014, sekitar 1,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskuler di Indonesia. Peningkatan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah, merokok, asupan buah dan sayur yang kurang serta obesitas adalah beberapa faktor risiko yang menyebabkan penyakit kardiovaskuler.

Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) jatuh pada tanggal 29 September setiap tahun. Sejak diluncurkan pada tahun 2000, peringatan Hari Jantung Sedunia bertujuan untuk menginformasikan masyarakat global tentang bahaya penyakit jantung dan stroke. Peringatan Hari Jantung Sedunia didukung oleh organisasi-organisasi seperti WHO, World Heart Federation, dan termasuk Yayasan Jantung Indonesia.

 

World Wildlife Day

maxresdefault

Tanggal 3 Maret merupakan salah satu hari penting lingkungan. Meskipun belum banyak yang tahu, tapi tanggal 3 Maret diperingati sebagai Hari Satwa Liar Sedunia atau World WildLife Day. Inilah hari di mana komunitas internasional dan masyarakat dunia diingatkan kembali akan kesadaran dan upaya perlindungan terhadap satwa liar.

Sejarahnya sendiri, tanggal 3 Maret diambil dari pengesahan naskah Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar Spesies Terancam atau yang lebih dikenal sebagai CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) pada tanggal 3 Maret tahun 1973. Pada 20 Desember 2013, United Nations General Assembly (UNGA) menyuarakan bahwa setiap tanggal 3 Maret diperingati sebagai Hari Satwa Liar Sedunia.

Semakin banyaknya spesies flora dan fauna yang mulai hampir punah menjadi sorotan para peduli lingkungan di dunia. Terutama penyebab mengapa mereka punah. Spekulasi utamanya adalah ancaman perdagangan satwa ilegal maupun tindakan manusia yang merusak habitat hewan dan tumbuhan tersebut.

Di Indonesia sendiri, yang menyumbang hampir 15% dari semua tanaman, mamalia, dan burung yang ada di seluruh dunia, tak luput menjadi sorotan. Beberapa spesies hewan Indonesia dikhawatirkan hampir punah. Saat ini, harimau Sumatera yang tersisa di alam liar hanya sekitar 400 ekor, gajah di Kalimantan hanya berkisar 1500 ekor, dan begitu juga orangutan yang jumlahnya semakin mengkhawatirkan. Salah satu penyebab utama dari penurunan jumlah satwa liar itu adalah deforestasi, di mana lahan hutan berubah menjadi perkebunan sawit ataupun adanya penebangan liar.

Dari hal tersebut, kita diajak untuk lebih kritis lagi dalam memperhatikan lingkungan fauna maupun flora yang ada. Keanekaragaman hayati merupakan sebuah kekayaan maupun identitas diri bangsa. Walaupun kita mendukung dan tak dapat berbuat banyak, setidaknya kita mencoba berperan dalam pemberantasan deforestasi yang ada dengan hal-hal kecil, misalnya seperti menghemat tisu dan kertas. Kedua hal tersebut secara tidak langsung telah membantu menguangi penggunaan pohon dalam kehidupan sehari-hari.

sumber

Realisme Basuki Abdullah

basoeki-abdullah

Basuki Abdullah (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, Hindia Belanda, 27 Januari 1915 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 5 November 1993 pada umur 78 tahun) adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia. Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari penjuru dunia.

Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya, Abdullah Suriosubroto, yang juga seorang pelukis dan penari. Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basuki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krishnamurti.

Pendidikan formal Basuki Abdullah diperoleh di HIS Katolik dan Mulo Katolik di Solo. Berkat bantuan Pastur Koch SJ, Basuki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda, dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA).

Pada masa Pemerintahan Jepang, Basuki Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basuki Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basuki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S.Sudjoyono, Otto Djaya dan Basuki Resobawo.

Pada masa revolusi Bosoeki Abdullah tidak berada di tanah air yang sampai sekarang belum jelas apa yang melatarbelakangi hal tersebut. Jelasnya pada tanggal 6 September 1948 bertempat di Belanda Amsterdam sewaktu penobatan Ratu Yuliana dimana diadakan sayembara melukis, Basuki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan berhasil keluar sebagai pemenang.

Sejak itu pula dunia mulai mengenal Basuki Abdullah, putera Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia. Selama di negeri Belanda Basuki Abdullah sering kali berkeliling Eropa dan berkesempatan pula memperdalam seni lukis dengan menjelajahi Italia dan Perancis dimana banyak bermukim para pelukis dengan reputasi dunia.

Basuki Abdullah terkenal sebagai seorang pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan dan kepala negara yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, diapun melukis pemandangan alam, fauna, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan sebagainya.

Basuki Abdullah banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok (Thailand), Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal dan negara-negara lain. Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basuki Abdullah. Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis Istana Merdeka dan sejak tahun 1974 Basuki Abdullah menetap di Jakarta.

berikut adalah lukisan karya Basuki Abdullah

sumber

art-deco

 

Art Deco (/ˌɑːrt ˈdɛk/), or Deco, is a style of visual arts, architecture and design that first appeared in France just before World War I. It became popular in the 1920s and 1930s, and influenced the design of buildings, furniture, jewellery, fashion, cars, movie theatres, trains, ocean liners, and everyday objects such as radios and vacuum cleaners. It took its name, short for Arts Décoratifs, from the Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes (International Exhibition of Modern Decorative and Industrial Arts) held in Paris in 1925. It combined modernist styles with fine craftsmanship and rich materials. During its heyday, Art Deco represented luxury, glamour, exuberance, and faith in social and technological progress.

Art Deco took its name, short for Arts Décoratifs, from the Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes held in Paris in 1925, though the diverse styles that characterize Art Deco had already appeared in Paris and Brussels before World War I.

The term arts décoratifs was first used in France in 1858; published in the Bulletin de la Société française de photographie.

In 1868, Le Figaro newspaper used the term art décoratifs with respect to objects for stage scenery created for the Théâtre de l’Opéra.

In 1875, furniture designers, textile, jewelry and glass designers and other craftsmen were officially given the status of artists by the French government. In response to this, the École royale gratuite de dessin (Royal Free School of Design) originally founded in 1766 under King Louis XVI to train artists and artisans in crafts relating to the fine arts, was renamed the National School of Decorative Arts (l’École nationale des arts décoratifs). It took its present name of ENSAD (École nationale supérieure des arts décoratifs) in 1927.

During the 1925 Exposition the architect Le Corbusier wrote a series of articles about the exhibition for his magazine L’Esprit Nouveau under the title, “1925 Expo: Arts Déco” which were combined into a book, “L’art décoratif d’aujourd’hui” (Decorative Art Today). The book was a spirited attack on the excesses of the colorful and lavish objects at the Exposition; and on the idea that practical objects such as furniture should have any decoration at all; his conclusion was that “Modern decoration has no decoration”.

The shorthand title “Arts Deco” that Le Corbusier used in the articles and book was adapted in 1966 for title of the first modern exhibit on the subject, called Les Années 25 : Art déco, Bauhaus, Stijl, Esprit nouveau, which covered the variety of major styles in the 1920s and 1930s. The term Art déco was then used in a 1966 newspaper article by Hillary Gelson in the Times (London, 12 November), describing the different styles at the exhibit.

Art Deco gained currency as a broadly applied stylistic label in 1968 when historian Bevis Hillier published the first major academic book on the style: Art Deco of the 20s and 30s. Hillier noted that the term was already being used by art dealers and cites The Times (2 November 1966) and an essay named “Les Arts Déco” in Elle magazine (November 1967) as examples of prior usage. In 1971, Hillier organized an exhibition at the Minneapolis Institute of Arts, which he details in his book about it, The World of Art Deco.

Art Deco was a pastiche of many different styles, sometimes contradictory, united by a desire to be modern. From its outset, Art Deco was influenced by the bold geometric forms of Cubism; the bright colors of Fauvism and of the Ballets Russes; and the updated craftsmanship of the furniture of the eras of Louis Philippe and Louis XVI; by the exotic styles of China and Japan, India, Persia, ancient Egypt and Maya art. It featured rare and expensive materials such as ebony and ivory and exquisite craftsmanship. The Chrysler Building and other skyscrapers of New York were the most visible monuments of the new style. In the 1930s, after the Great Depression, the style became more subdued. New materials arrived, including chrome plating, stainless steel and plastic. A more sleek form of the style, called Streamline Moderne, appeared in the 1930s; it featured curving forms and smooth, polished surfaces. Art Deco became one of the first truly international architectural styles, with examples found in European cities, the United States, Russia, Latin America, Africa and Asia. The style came to an end with the beginning of World War II. Deco was replaced as the dominant global style by the strictly functional and unadorned styles of modernism and the International Style of architecture

 

Menanamkan Cinta Lingkungan Pada Anak

6538showing

Banyak warisan yang bisa Anda berikan untuk putra-putri Anda sebagai bekal untuk hidupnya kelak. Jangan salah, tidak hanya warisan berupa materi dan pendidikan tinggi yang bisa Anda berikan pada mereka, bekal untuk mencintai lingkungan juga mereka butuhkan, karena putra-putri Anda adalah para penerus untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dan Bumi agar tetap nyaman dan bersih untuk ditinggali.

Membiasakan mereka untuk mencintai lingkungan dapat dimulai dari rumah dan Anda sebagai contoh pembimbing mereka. Tidak sulit kok membiasakan putra-putri Anda untuk peduli dan mencintai lingkungan hidup mereka. Bila mereka telah terbiasa memulai hal tersebut dari rumah, maka mereka akan terus membawa kebiasaan tersebut sepanjang hidup mereka.

Bertepatan sehari setelah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, inilah beberapa cara yang bisa Anda mulai untuk membiasakan mereka. Lakukan sejak dini, dan mereka akan menjadi generasi pelindung lingkungan hidup dari segala kerusakan akibat keteledoran manusia.

Buang Sampah Pada Tempatnya

Hal ini bisa menjadi dasar kepedulian buah hati Anda pada lingkungannya. Anda bisa memberi wawasan pada mereka apa bahaya jika sampah tidak dibuang pada tempatnya, misalnya saja membuang sampah di sungai atau melempar sampah sembarangan dari jendela mobil. Ajarkan juga mereka membedakan mana sampah organik mana sampah non-organik.

Untuk melatih mereka, sediakan tempat sampah yang bisa menampung sampah non organik di dalam kamar mereka. Jika mereka sudah terbiasa dan memulai dari rumah, maka mereka akan peduli saat membuang sampah pada tempatnya sekalipun mereka jauh dari rumah. Mengingat masih banyak keluarga yang tidak peduli, ayo mulai dari keluarga Anda!

Kreasi Baru Dengan Daur Ulang

Memanfaatkan beberapa barang bekas dan sampah yang bisa didaur ulang bisa menjadi salah satu cara kreatif agar putra-putri Anda tidak terlalu konsumtif membeli berbagai mainan atau barang-barang buatan pabrik. Selain bisa menjadi alternatif daur ulang, kegiatan ini bisa dilakukan seluruh keluarga yang menyenangkan.

Anda pasti masih ingat bagaimana membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali. Atau bila ingin barang yang tahan lama, Anda bisa mengajak buah hati Anda membuat tas atau dompet dari pembungkus sabun cuci piting cair. Tanamkan pada diri anak Anda bahwa memakai bahan kreatif daur ulang adalah hal yang baik dan bisa menyelamatkan lingkungan.

Belajar Menanam Pohon

Keluarga Anda pasti ingin berpartisipasi pada acara menanam pohon yang sering digalakkan berbagai lembaga pecinta lingkungan maupun pemerintah. Membuat putra-putri Anda mencintai pohon sebagai salah satu penopang kehidupan tentu harus Anda biasakan mulai mereka kecil.

Jika halaman rumah Anda tidak terlalu luas, Anda bisa memanfaatkan tanaman yang memakai media pot. Ajak putra-putri Anda untuk turut serta merawatnya, lebih baik jika yang Anda tanam bisa menghasilkan buah, pohon tomat misalnya. Anda juga bisa memakai media boneka yang bisa ditumbuhi tanaman, misalnya boneka Horta.

Tamasya Ke Alam Bebas

Anak-anak akan lebih mudah bila melihat dan merasakan sendiri seperti apa lingkungan yang sehat, sehingga tidak ada salahnya bagi Anda untuk mengajak mereka tamasya ke sebuah lokasi yang masih mempertahankan sisi alaminya. Daripada selalu ke mall, sekali waktu Anda bisa mengajak buah hati Anda ke sebuah hutan lindung atau cagar alam.

Dengan datang langsung, Anda bisa menjelaskan fungsi hutan sebagai paru-paru penghasil oksigen, daerah resapan air dan kegunaan dari batang pohon. Bila Anda kebetulan melewati sungai yang kotor, Anda bisa menjelaskan dampak tercemarnya air sungai dan laut, termasuk bahaya yang timbul jika perairan digenangi banyak sampah.

Anda Adalah Contoh

Karena apa yang Anda ajarkan pada mereka adalah hal yang baik, maka Anda juga wajib menjadi contoh bagi buah hati Anda. Jangan sampai Anda berkali-kali memberi nasihat untuk membuang sampah pada tempatnya tetapi Anda membuang sampah sembarangan.

Perubahan dan kebiasaan yang tampak kecil dimulai dari rumah, sehingga hasil yang besar akan dinikmati oleh buah hati Anda dan generasi selanjutnya. Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia!