World Wildlife Day

maxresdefault

Tanggal 3 Maret merupakan salah satu hari penting lingkungan. Meskipun belum banyak yang tahu, tapi tanggal 3 Maret diperingati sebagai Hari Satwa Liar Sedunia atau World WildLife Day. Inilah hari di mana komunitas internasional dan masyarakat dunia diingatkan kembali akan kesadaran dan upaya perlindungan terhadap satwa liar.

Sejarahnya sendiri, tanggal 3 Maret diambil dari pengesahan naskah Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar Spesies Terancam atau yang lebih dikenal sebagai CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) pada tanggal 3 Maret tahun 1973. Pada 20 Desember 2013, United Nations General Assembly (UNGA) menyuarakan bahwa setiap tanggal 3 Maret diperingati sebagai Hari Satwa Liar Sedunia.

Semakin banyaknya spesies flora dan fauna yang mulai hampir punah menjadi sorotan para peduli lingkungan di dunia. Terutama penyebab mengapa mereka punah. Spekulasi utamanya adalah ancaman perdagangan satwa ilegal maupun tindakan manusia yang merusak habitat hewan dan tumbuhan tersebut.

Di Indonesia sendiri, yang menyumbang hampir 15% dari semua tanaman, mamalia, dan burung yang ada di seluruh dunia, tak luput menjadi sorotan. Beberapa spesies hewan Indonesia dikhawatirkan hampir punah. Saat ini, harimau Sumatera yang tersisa di alam liar hanya sekitar 400 ekor, gajah di Kalimantan hanya berkisar 1500 ekor, dan begitu juga orangutan yang jumlahnya semakin mengkhawatirkan. Salah satu penyebab utama dari penurunan jumlah satwa liar itu adalah deforestasi, di mana lahan hutan berubah menjadi perkebunan sawit ataupun adanya penebangan liar.

Dari hal tersebut, kita diajak untuk lebih kritis lagi dalam memperhatikan lingkungan fauna maupun flora yang ada. Keanekaragaman hayati merupakan sebuah kekayaan maupun identitas diri bangsa. Walaupun kita mendukung dan tak dapat berbuat banyak, setidaknya kita mencoba berperan dalam pemberantasan deforestasi yang ada dengan hal-hal kecil, misalnya seperti menghemat tisu dan kertas. Kedua hal tersebut secara tidak langsung telah membantu menguangi penggunaan pohon dalam kehidupan sehari-hari.

sumber

Realisme Basuki Abdullah

basoeki-abdullah

Basuki Abdullah (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, Hindia Belanda, 27 Januari 1915 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 5 November 1993 pada umur 78 tahun) adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia. Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari penjuru dunia.

Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya, Abdullah Suriosubroto, yang juga seorang pelukis dan penari. Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basuki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krishnamurti.

Pendidikan formal Basuki Abdullah diperoleh di HIS Katolik dan Mulo Katolik di Solo. Berkat bantuan Pastur Koch SJ, Basuki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademik Seni Rupa (Academie Voor Beeldende Kunsten) di Den Haag, Belanda, dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA).

Pada masa Pemerintahan Jepang, Basuki Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basuki Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basuki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S.Sudjoyono, Otto Djaya dan Basuki Resobawo.

Pada masa revolusi Bosoeki Abdullah tidak berada di tanah air yang sampai sekarang belum jelas apa yang melatarbelakangi hal tersebut. Jelasnya pada tanggal 6 September 1948 bertempat di Belanda Amsterdam sewaktu penobatan Ratu Yuliana dimana diadakan sayembara melukis, Basuki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan berhasil keluar sebagai pemenang.

Sejak itu pula dunia mulai mengenal Basuki Abdullah, putera Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia. Selama di negeri Belanda Basuki Abdullah sering kali berkeliling Eropa dan berkesempatan pula memperdalam seni lukis dengan menjelajahi Italia dan Perancis dimana banyak bermukim para pelukis dengan reputasi dunia.

Basuki Abdullah terkenal sebagai seorang pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan dan kepala negara yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, diapun melukis pemandangan alam, fauna, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan sebagainya.

Basuki Abdullah banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok (Thailand), Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugal dan negara-negara lain. Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basuki Abdullah. Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis Istana Merdeka dan sejak tahun 1974 Basuki Abdullah menetap di Jakarta.

berikut adalah lukisan karya Basuki Abdullah

sumber

art-deco

 

Art Deco (/ˌɑːrt ˈdɛk/), or Deco, is a style of visual arts, architecture and design that first appeared in France just before World War I. It became popular in the 1920s and 1930s, and influenced the design of buildings, furniture, jewellery, fashion, cars, movie theatres, trains, ocean liners, and everyday objects such as radios and vacuum cleaners. It took its name, short for Arts Décoratifs, from the Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes (International Exhibition of Modern Decorative and Industrial Arts) held in Paris in 1925. It combined modernist styles with fine craftsmanship and rich materials. During its heyday, Art Deco represented luxury, glamour, exuberance, and faith in social and technological progress.

Art Deco took its name, short for Arts Décoratifs, from the Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes held in Paris in 1925, though the diverse styles that characterize Art Deco had already appeared in Paris and Brussels before World War I.

The term arts décoratifs was first used in France in 1858; published in the Bulletin de la Société française de photographie.

In 1868, Le Figaro newspaper used the term art décoratifs with respect to objects for stage scenery created for the Théâtre de l’Opéra.

In 1875, furniture designers, textile, jewelry and glass designers and other craftsmen were officially given the status of artists by the French government. In response to this, the École royale gratuite de dessin (Royal Free School of Design) originally founded in 1766 under King Louis XVI to train artists and artisans in crafts relating to the fine arts, was renamed the National School of Decorative Arts (l’École nationale des arts décoratifs). It took its present name of ENSAD (École nationale supérieure des arts décoratifs) in 1927.

During the 1925 Exposition the architect Le Corbusier wrote a series of articles about the exhibition for his magazine L’Esprit Nouveau under the title, “1925 Expo: Arts Déco” which were combined into a book, “L’art décoratif d’aujourd’hui” (Decorative Art Today). The book was a spirited attack on the excesses of the colorful and lavish objects at the Exposition; and on the idea that practical objects such as furniture should have any decoration at all; his conclusion was that “Modern decoration has no decoration”.

The shorthand title “Arts Deco” that Le Corbusier used in the articles and book was adapted in 1966 for title of the first modern exhibit on the subject, called Les Années 25 : Art déco, Bauhaus, Stijl, Esprit nouveau, which covered the variety of major styles in the 1920s and 1930s. The term Art déco was then used in a 1966 newspaper article by Hillary Gelson in the Times (London, 12 November), describing the different styles at the exhibit.

Art Deco gained currency as a broadly applied stylistic label in 1968 when historian Bevis Hillier published the first major academic book on the style: Art Deco of the 20s and 30s. Hillier noted that the term was already being used by art dealers and cites The Times (2 November 1966) and an essay named “Les Arts Déco” in Elle magazine (November 1967) as examples of prior usage. In 1971, Hillier organized an exhibition at the Minneapolis Institute of Arts, which he details in his book about it, The World of Art Deco.

Art Deco was a pastiche of many different styles, sometimes contradictory, united by a desire to be modern. From its outset, Art Deco was influenced by the bold geometric forms of Cubism; the bright colors of Fauvism and of the Ballets Russes; and the updated craftsmanship of the furniture of the eras of Louis Philippe and Louis XVI; by the exotic styles of China and Japan, India, Persia, ancient Egypt and Maya art. It featured rare and expensive materials such as ebony and ivory and exquisite craftsmanship. The Chrysler Building and other skyscrapers of New York were the most visible monuments of the new style. In the 1930s, after the Great Depression, the style became more subdued. New materials arrived, including chrome plating, stainless steel and plastic. A more sleek form of the style, called Streamline Moderne, appeared in the 1930s; it featured curving forms and smooth, polished surfaces. Art Deco became one of the first truly international architectural styles, with examples found in European cities, the United States, Russia, Latin America, Africa and Asia. The style came to an end with the beginning of World War II. Deco was replaced as the dominant global style by the strictly functional and unadorned styles of modernism and the International Style of architecture

 

Menanamkan Cinta Lingkungan Pada Anak

6538showing

Banyak warisan yang bisa Anda berikan untuk putra-putri Anda sebagai bekal untuk hidupnya kelak. Jangan salah, tidak hanya warisan berupa materi dan pendidikan tinggi yang bisa Anda berikan pada mereka, bekal untuk mencintai lingkungan juga mereka butuhkan, karena putra-putri Anda adalah para penerus untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dan Bumi agar tetap nyaman dan bersih untuk ditinggali.

Membiasakan mereka untuk mencintai lingkungan dapat dimulai dari rumah dan Anda sebagai contoh pembimbing mereka. Tidak sulit kok membiasakan putra-putri Anda untuk peduli dan mencintai lingkungan hidup mereka. Bila mereka telah terbiasa memulai hal tersebut dari rumah, maka mereka akan terus membawa kebiasaan tersebut sepanjang hidup mereka.

Bertepatan sehari setelah peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, inilah beberapa cara yang bisa Anda mulai untuk membiasakan mereka. Lakukan sejak dini, dan mereka akan menjadi generasi pelindung lingkungan hidup dari segala kerusakan akibat keteledoran manusia.

Buang Sampah Pada Tempatnya

Hal ini bisa menjadi dasar kepedulian buah hati Anda pada lingkungannya. Anda bisa memberi wawasan pada mereka apa bahaya jika sampah tidak dibuang pada tempatnya, misalnya saja membuang sampah di sungai atau melempar sampah sembarangan dari jendela mobil. Ajarkan juga mereka membedakan mana sampah organik mana sampah non-organik.

Untuk melatih mereka, sediakan tempat sampah yang bisa menampung sampah non organik di dalam kamar mereka. Jika mereka sudah terbiasa dan memulai dari rumah, maka mereka akan peduli saat membuang sampah pada tempatnya sekalipun mereka jauh dari rumah. Mengingat masih banyak keluarga yang tidak peduli, ayo mulai dari keluarga Anda!

Kreasi Baru Dengan Daur Ulang

Memanfaatkan beberapa barang bekas dan sampah yang bisa didaur ulang bisa menjadi salah satu cara kreatif agar putra-putri Anda tidak terlalu konsumtif membeli berbagai mainan atau barang-barang buatan pabrik. Selain bisa menjadi alternatif daur ulang, kegiatan ini bisa dilakukan seluruh keluarga yang menyenangkan.

Anda pasti masih ingat bagaimana membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali. Atau bila ingin barang yang tahan lama, Anda bisa mengajak buah hati Anda membuat tas atau dompet dari pembungkus sabun cuci piting cair. Tanamkan pada diri anak Anda bahwa memakai bahan kreatif daur ulang adalah hal yang baik dan bisa menyelamatkan lingkungan.

Belajar Menanam Pohon

Keluarga Anda pasti ingin berpartisipasi pada acara menanam pohon yang sering digalakkan berbagai lembaga pecinta lingkungan maupun pemerintah. Membuat putra-putri Anda mencintai pohon sebagai salah satu penopang kehidupan tentu harus Anda biasakan mulai mereka kecil.

Jika halaman rumah Anda tidak terlalu luas, Anda bisa memanfaatkan tanaman yang memakai media pot. Ajak putra-putri Anda untuk turut serta merawatnya, lebih baik jika yang Anda tanam bisa menghasilkan buah, pohon tomat misalnya. Anda juga bisa memakai media boneka yang bisa ditumbuhi tanaman, misalnya boneka Horta.

Tamasya Ke Alam Bebas

Anak-anak akan lebih mudah bila melihat dan merasakan sendiri seperti apa lingkungan yang sehat, sehingga tidak ada salahnya bagi Anda untuk mengajak mereka tamasya ke sebuah lokasi yang masih mempertahankan sisi alaminya. Daripada selalu ke mall, sekali waktu Anda bisa mengajak buah hati Anda ke sebuah hutan lindung atau cagar alam.

Dengan datang langsung, Anda bisa menjelaskan fungsi hutan sebagai paru-paru penghasil oksigen, daerah resapan air dan kegunaan dari batang pohon. Bila Anda kebetulan melewati sungai yang kotor, Anda bisa menjelaskan dampak tercemarnya air sungai dan laut, termasuk bahaya yang timbul jika perairan digenangi banyak sampah.

Anda Adalah Contoh

Karena apa yang Anda ajarkan pada mereka adalah hal yang baik, maka Anda juga wajib menjadi contoh bagi buah hati Anda. Jangan sampai Anda berkali-kali memberi nasihat untuk membuang sampah pada tempatnya tetapi Anda membuang sampah sembarangan.

Perubahan dan kebiasaan yang tampak kecil dimulai dari rumah, sehingga hasil yang besar akan dinikmati oleh buah hati Anda dan generasi selanjutnya. Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia!

PENDIDIKAN ANTI KORUPSI SEJAK DINI

pengertian-pendidikan-anak-dalam-usia-dini

Berbicara tentang korupsi sepertinya memang bukan hal yang asing lagi bagi kita sebagai warga negara Indonesia. Kasus korupsi di Indonesia seolah sudah menjadi fenomena sosial yang sulit diberantas karena sudah begitu membudaya di negeri ini. Ya, di Indonesia kasus korupsi memang sudah merajalela di seluruh lapisan masyarakat. Bukan hanya di kalangan para petinggi negara saja tetapi juga sudah menyebar di kalangan masyarakat bawah bahkan anak-anak.

Bangsa Indonesia nampaknya sudah sampai pada batas puncak kesabaran dalam mengatasi masalah korupsi di negeri ini yang menggerogoti seluruh aspek kehidupan. Batas kesabaran itu diwujudkan dalam pencanangan Hari Anti Korupsi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 9 Desember 2004. Namun hingga kini kasus korupsi tak juga kunjung selesai. Ibarat pepatah “menyapu lantai dengan sapu kotor”. Ketika seorang aparat negara ditugaskan untuk memberantas korupsi, bisa jadi dia sendiri juga akan terjerat dalam kasus yang sama. Memberantas kasus korupsi memang bukan hal yang mudah. Kita harus kuat iman dan juga tegas. Jika tidak demikian, bisa-bisa kita sendiri yang akan terjerumus dalam kasus yang sama.

Pengertian korupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Namun definisi tersebut adalah definisi korupsi secara umum. Pada kenyataannya kasus korupsi bukan hanya dalam hal yang berkaitan dengan uang saja, bisa juga dalam hal waktu, tenaga, dan tindakan-tindakan curang lainnya juga dapat dikategorikan sebagai korupsi. Menurut perspektif hukum, definisi korupsi dijelaskan 13 Pasal dalam UU N0. 31/1999 jo. UU N0. 20/2001, korupsi dirumuskan ke dalam tiga puluh bentuk/ jenis tindak pidana korupsi. Ketiga puluh jenis tindak pidana korupsi tersebut, pada dasarnya dapat dikelompokan menjadi; 1. Kerugian keuangan negara, 2. Suap-menyuap, 3. Penggelapan dalam jabatan, 4. Pemerasan, 5. Perbuatan curang, 6. Benturan kepentingan dalam pengadaan serta 7. Gratifikasi.

Kasus korupsi di Indonesia nampaknya sudah berurat dan berakar, sehingga membuat korupsi seakan sulit diberantas di negeri ini. Maka tidaklah mengherankan jika Indonesia masuk dalam deretan negara terkorup setelah Kamboja di kawasan Asia Pasifik. Bahkan saking sulit dan lemahnya kepercayaan publik pada lembaga hukum di Indonesia ini seperti Polri, dan kejaksaan. Sampai-sampai kita harus mendirikan satu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberantas korupsi di negara kita tercinta ini. Tetapi meskipun demikian, pemberantasan korupsi tidak bisa hanya dengan bergantung pada KPK saja. Pemahaman yang baik tentang korupsi pada anak usia dini akan mendukung pengurangan tingkat korupsi.

Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi Sejak Usia Dini

Pendidikan anti korupsi memang harus ditanamkan sejak dini. Dalam hal ini, keluarga memegang peranan penting dalam mendidik dan membentuk akhlak anak. Selain itu, mengenalkan prinsip kebaikan, kebenaran dan kesalehan hidup kepada anak juga menjadi tugas utama bagi orang tua. Jika orang tua telah mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kejujuran pada anak sejak dini, maka saat anak tersebut mulai beranjak dewasa nilai-nilai tersebut akan terpatri dalam jiwa mereka. Dengan demikian keluarga turut andil dalam memberi warna budaya sebuah bangsa, termasuk di dalamnya adalah menciptakan budaya anti korupsi.

Anak-anak merupakan peniru yang ulung. Karena seorang anak belajar bertingkah laku dengan meniru tingkah laku orang lain yang ditransmisikan melalui contoh-contoh, terutama yang datang dari keluarga, lingkungan sekitar dan media massa. Oleh karena itu, teladan yang baik dari seluruh anggota keluarga seperti ketaatan beribadah, berperilaku sopan sesuai budaya dan bangsa, bertindak jujur dalam perkataan dan perbuatan sangatlah penting ditanamkan sejak usia dini. Tetapi meskipun demikian, tidaklah adil rasanya jika teladan itu hanya datang dari keluarga. Pemerintah juga harus turut serta berperan aktif dalam upaya menciptakan budaya anti korupsi pada anak-anak, misalnya melalui Kementerian Pendidikan Nasional dengan memperbaiki kurikulum pembelajaran di sekolah, yaitu dengan tetap memasukkan mata pelajaran budi pekerti di dalam kurikulum sekolah. Selain itu, saat ini sudah banyak contoh sekolah yang memberlakukan kantin kejujuran sebagai upaya untuk menanamkan sikap jujur pada anak didiknya. Hal ini merupakan suatu contoh yang baik untuk membudayakan sikap anti korupsi. Karena kejujuran adalah kunci untuk menjauhkan diri dari tindakan korupsi.

Norma yang Harus Ditanamkan Sejak Usia TK sampai Perguruan Tinggi

Ada beberapa norma yang harus ditanamkan sejak usia TK hingga perguruan tinggi, antara lain adalah:

1. Usia TK anak sudak memahami norma etika apa yang boleh ataupun tidak boleh. Penerapan yang dapat orang tua ajarkan, sebagai pendidikan antikorupsi adalah mengajarkan kepada anak kalau “mencuri itu tidak boleh”.

2. Usia SD anak sudah memahami norma agama bagaimana berperilaku “baik” dan “tidak baik” sehingga guru SD atau kedua orang tua dapat mengajarkan pada anak kalau korupsi itu tidak baik karena dilarang Tuhan.

3. Usia SMP anak sudah memahami norma hukum bagaimana berperilaku “tidak melanggar hukum” dan “melanggar hukum” sehingga guru SMP atau kedua orang tua menekankan kalau korupsi itu melanggar hukum.

4. Usia SMA anak sudah memahami norma psikologis bagaimana perilaku “menyimpang” dan perilaku “ tidak menyimpang” sehingga dapat ditanamkan kalau korupsi merupakan perbuatan menyimpang.

5. Usia perguruan tinggi (PT) adalah bentuk manusia dewasa yang sudah memahami norma sosial bagaimana berperilaku “sesuai norma sosial” dan “tidak sesuai norma sosial”. Sehingga dapat memahami korupsi merupakan perbuatan yang dibenci masyarakat dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang antisosial.

Upaya untuk memberantas kasus korupsi di Indonesia sampai benar-benar bersih sampai ke akar-akarnya memang bukanlah hal yang mudah. Namun selalu ada cara selama kita mau berusaha. Menanamkan nilai-nilai budaya antikorupsi pada anak-anak sejak usia dini adalah salah satu caranya. Karena anak-anak merupakan generasi penerus bangsa. Jika sejak kecil mereka suah terbiasa hidup bersih, maka sampai dewasa pun kebiasaan itu akan tetap terpelihara.

Sumber:
http://hukum.kompasiana.com/2012/08/10/mencegah-bibit-korupsi-sejak-dini/
http://www.sai.ugm.ac.id/site/artikel/korupsi-definisi-dan-jenisnya
http://irmaquerotu.blogspot.com/2012/10/pendidikan-anti-korupsi-sejak-dini.html
http://garutnews.com/?p=10966

La Alfabeta Halloween Coloring Competition 2016

14925635_900459920084118_5119572279957498809_n.jpg

Hai! Pada bulan Oktober-November kemarin, La Alfabeta mengadakan Halloween Coloring Competition 2016. Acara ini berupa lomba mewarnai yang terbuka untuk umum dengan berbagai kategori usia.

Acaranya seru banget, dan hasil mewarnai dari seluruh pesertanya juga keren-keren. Tim juri sampai bingung menilainya. Tapi bagaimanapun, tetap ada yang terbaik dong dari setiap kategorinya. Ini dia list pemenang dari Halloween Coloring Competition 2016 :

Kategori 1 usia 4-6 tahun
Nama : Savina Destiny J
Usia : 6th
Sekolah : BHK
Guru/Orang tua : Yulianti

Kategori 2 usia 7-9 tahun
Nama : Ibrahim K
Usia : 9th
Sekolah : MI El Syifa
Guru/Orang tua : Kak Adi

Kategori 3 usia 10-12 tahun
Nama : Gracia Caca
Usia : 10
Sekolah : Ichthus School
Guru/Orang tua : Kak Andika

Kategori 4 usia 13 tahun ke atas
Nama : Maggie Febriani
Usia : 15th
Sekolah : SD Universal
Guru/Orang tua : Ibu Minie

Best Creativity
Nama : Rachel Eleora
Usia : 6th
Sekolah : SD Penabur
Guru/Orang Tua : Liza Maylina

 

Selamat ya bagi para pemenang! Dan bagi yang belum menang, jangan berkecil hati dahulu, masih banyak kok event dari La Alfabeta yang tidak kalah serunya! Sampai bertemu lagi ya di event selanjutnya. Tetap semangat!

The Best Toddler Crafts For Little Hands

1. Homemade Scented Play Dough

enhanced-buzz-18310-1368834741-24

Um, remember Play-Doh? It was always so fun until it hardened into a rock or you tried eating it and couldn’t feel your tongue for a few weeks. Well, now there’s a recipe that’s just as fun and probably a lot less toxic! Plus, this recipe is made with powdered drink mixes, which means it smells good. It’s like smelly markers and Play-Doh all mixed into one. Please don’t eat it, though.

2. Handprint Fall Tree Craft

enhanced-buzz-24650-1368834905-16.jpg

Trees are probably the most drawn object in the entire world. Why not amp up the game a bit with some paint and cotton swabs? Plus, who DOESN’T want to turn their hand into a tree? It beats that old hand-as-turkey project any day.

3. Torn Paper Shape Collage

enhanced-buzz-23592-1368834802-5.jpg

If you’re feeling “torn” about what kind of picture to do (sorry, that joke was begging to be made), you can go for some minimalistic shapes, or try to copy another image. It’s easier than it sounds, promise.

4. Wooden Block Prints

enhanced-buzz-1764-1368833435-0.jpg

Are you ashamed of the blocks gathering dust in a box in the hall closet? Ever since iPads happened, blocks probably aren’t the first option. Here’s an opportunity to dust ‘em off and put ‘em to good use in a fun and colorful way.

5. DIY Stamps

enhanced-buzz-12657-1368833317-10.jpgYou can’t deny the satisfaction stamping gives you. Here’s a way to make artistic, abstract stamps using everyday objects. From Irresistible Ideas For Play Based Learning.

6. Plastic Bead Suncatcherenhanced-buzz-23847-1368833922-5.jpg

Get ready to take arts ‘n’ crafts to the next level. That’s right, we’re talking some bead-melting genius that will melt your face with its awesomeness. This DIY comes from The Artful Parent, and will help your child feel like the best new artist to hit the scene.

7. Negative Leaf Impressions

enhanced-buzz-24740-1368833983-7

There’s finally a use for all the pretty leaves you found on the ground and didn’t know what to do with. Instead of painting and pressing them onto paper, check out this exciting idea from Tinkerlab. Create negative leaf impressions while building fine motor skills by spraying leaves with liquid watercolor paints.

8. Homemade Chalkboard Paint Wall Hanging

enhanced-buzz-17769-1368834863-10.jpg

If your children are the kind who color all over your beautiful white walls, this might help be a good form of therapy. Plus, who doesn’t want to have a mini chalkboard at their disposal? With this special paint, you can transform just about anything into a fun (and acceptable) drawing spot. And you can use any color of paint for the base, so you can let your inner control freak loose and match your chalkboard wall (or tray) to your decor.

9. Poppy Painting

enhanced-buzz-24160-1368834091-8.jpg

Do you see how happy this young child is?! You (or your child) can achieve this much glee with a DIY from Tonya Staab. Any boy or girl will love cutting circles and painting on a canvas — just like a real artist. We’re pretty sure the end result would look fine next to some of the modern art in the MOMA.

10. Sand Painting Creation

enhanced-buzz-18926-1368834145-6.jpg

We will not soon forget the labor of love required to make black magic paper. Maybe you should just opt out of all the work and go for some magical sand painting instead. Using black construction paper looks just as cool and really makes the artwork pop.

11. Sticker Paint Creation

enhanced-buzz-17989-1368834203-4.jpg

Use foam stickers and finger paint to mix together this colorful and fun art project. But you know, don’t use too many colors or it’ll just turn into a greenish-brown mess (we’ve all been there).

12. Paper Photo Frames

enhanced-buzz-24802-1368834246-8.jpg

We say, “Screw those dry macaroni frames!” This is the dawn of a new era of frame making. Think outside of the macaroni-encrusted box with this craft from Martha Stewart. Your child will hone fine motor skills while cutting paper, plus they’ll feel way more accomplished and you can still cook pasta for dinner.

Photo by Anna Williams, courtesy of Martha Stewart Living

13. Bubble Wrap Paint Print

enhanced-buzz-1657-1368834290-18.jpg

Just when you thought bubble wrap couldn’t get any more magical/mysterious/endlessly entertaining. This bubble wrap print (made from painting on the bubble wrap if you hadn’t guessed) will have any child (and most adults) dying to order something fragile from Amazon and go to town.

14. Play Binoculars

enhanced-buzz-10513-1368834330-1.jpg

While these paper towel tubes won’t really enhance vision as play binoculars, they’ll definitely enhance play time. You can get all Harriet the Spy on your neighbors or track new species of neighborhood cat.

15. Fossil Cookies

 enhanced-buzz-24698-1368834421-8.jpg

We’re pretty sure that every child, at some point in his/her young life, fantasizes about digging up dinosaur bones. We all secretly suspect there are some remains in our back yards, don’t we? Now you can relieve some tension with these fossil cookies from Martha Stewart, and eat them after. That way, you won’t be tempted to eat real fossils when you find them. You never know.

Photo by Simon Watson, courtesy of Martha Stewart Living