INDONESIA INDEPENDENCE DAY🇮🇩 🇮🇩Coloring Contest🇮🇩 🇮🇩 by : La Alfabeta Art🇮🇩

WhatsApp Image 2018-07-11 at 17.33.06

INDONESIA INDEPENDENCE DAY🇮🇩
🇮🇩Coloring Contest🇮🇩
🇮🇩by : La Alfabeta Art🇮🇩
🔑 Tema : Hari Kemerdekaan
🔑 Media mewarnai : kertas A4
🔑 Alat mewarnai : bebas
🔑 Penilaian : creative 2d/3d art, boleh di padu dengan art-craft seperti origami, glitter, dll
🔑 Kategori:
A : 4-6th
B : 7-9th
🔑 Registrasi :
🌟25.000 untuk murid La Alfabeta & Serenata PMC
🌟30.000 untuk umum
🔑 Hasil karya harus buatan sendiri tanpa dibantu orang tua atau teacher (hanya boleh diarahkan)
🔑 Media untuk mewarnai disediakan oleh panitia berupa kertas atau softcopy yang akan di kirim via email
🔑 Pengumpulan paling lambat tanggal 21 Agustus 2018
🔑 Pengumuman pemenang tanggal 31 Agustus 2018
🔑 Pendaftaran dapat langsung menghubungi customer service di 0812-8928-3667 (Kak Zakia) melalui whatsapp dengan format :
La Alfabeta – Independence Day
🌟Nama
🌟Usia
🌟Email
🌟No. Tlp
🌟Alamat
🔑 Hadiah :
🌟Trophy, Sertifikat, Goodie Bag, Voucher untuk Winner dan Runner Up
Info lebih lanjut :
0812-8928-3667 (Kak Zakia)
Kunjungi :
LA ALFABETA STUDIO
Cibubur Residence Blok B8/29, Jl. Alternatif Cibubur Cileungsi km 2, Bekasi 17433
Advertisements

INONESIA INDEPENDENCE DAY, COLORING CONTEST

 

WhatsApp Image 2018-07-11 at 17.33.06

NDONESIA INDEPENDENCE DAY🇮🇩
🇮🇩Coloring Contest🇮🇩
🇮🇩by : La Alfabeta Art🇮🇩

🔑 Tema : Hari Kemerdekaan

🔑 Media mewarnai : kertas A4

🔑 Alat mewarnai : bebas

🔑 Penilaian : creative 2d/3d art, boleh di padu dengan art-craft seperti origami, glitter, dll

🔑 Kategori:
A : 4-6th
B : 7-9th

🔑 Registrasi :
🌟25.000 untuk murid La Alfabeta & Serenata PMC
🌟30.000 untuk umum

🔑 Hasil karya harus buatan sendiri tanpa dibantu orang tua atau teacher (hanya boleh diarahkan)

🔑 Media untuk mewarnai disediakan oleh panitia berupa kertas atau softcopy yang akan di kirim via email

🔑 Pengumpulan paling lambat tanggal 21 Agustus 2018

🔑 Pengumuman pemenang tanggal 31 Agustus 2018

🔑 Pendaftaran dapat langsung menghubungi customer service di 0812-8928-3667 (Kak Zakia) melalui whatsapp dengan format :

La Alfabeta – Independence Day
🌟Nama
🌟Usia
🌟Email
🌟No. Tlp
🌟Alamat

🔑 Hadiah :
🌟Trophy, Sertifikat, Goodie Bag, Voucher untuk Winner dan Runner Up

Info lebih lanjut :
0812-8928-3667 (Kak Zakia)
IG : @laalfabeta

Kunjungi :

LA ALFABETA STUDIO
Cibubur Residence Blok B8/29, Jl. Alternatif Cibubur Cileungsi km 2, Bekasi 17433

http://www.laalfabeta.com

Selamat Hari Kartini

WhatsApp Image 2018-04-21 at 10.07.16

Selamat Hari Kartini untuk seluruh wanita Indonesia, gapai cita citamu seperti langit yang tingg karena semangat kartini muda akan selalu lebih baik daripada sebelumnya dan itu akan selalu berada didalam hati Wanita Indonesia

Artikel ini telah tayang di tribunkaltim.co dengan judul Selamat Hari Kartini 2018 – Ini 10 Ucapan dalam Bahasa Inggris yang Bisa Dipasang di Medsos, http://kaltim.tribunnews.com/2018/04/21/selamat-hari-kartini-2018-10-ucapan-dalam-bahasa-inggris-yang-bisa-dipasang-di-medsos.

Editor: Ayuk Fitri

“Dialog”

detail_cWMKxhQ2YP_boyke_aditya_krishna_samudra__bigjpg

Artist : Boyke Aditya K.S

Year : 1991

Akrilik pada kanvas.

Ukuran : 110 x 130 cm.

Suasana fantastis dengan imaji mistis tersirat dalam karya Boyke Aditya K.S. yang berjudul “Dialog” (1991) dalam gaya Surrealisme. Sebuah lanskap dunia imajinatif hadir dengan makhluk-makhluk khayat yang tinggal dengan terjerat dalam sulur-sulur yang membentuk labirin. Sosok merah dalam bentuk transformatif manusia binatang mengulurkan tangan, melakukan dialog dengan figur berwarna hijau yang berdiri menunggang kerbau. Karya ini secara visual menunjukkan idiom yang bersumber dari seni tradisi wayang maupun stilisasi dari berbagai seni tradisi yang lain. Oleh karena itu, sebagai ungkapan Surrealis, karya ini dapat dikatagorikan dalam bentuk Surrealisme biomorphic yang menggunakan idiom-idiom visual stilisasi bentuk bentuk makhluk hidup.

Kecenderungan pada gaya Surrealisme merupakan salah satu periode yang pernah dominan dalam seni lukis Indonesia, khususnya pada pelukispelukis Yogyakarta. Kemunculan kecenderungan ini merupakan kelanjutan dari paradigma estetik humanisme universal yang lebih menekankan pada kebebasan personal dalam mengungkapkan pencarian jati diri seniman. Dalam kecenderungan itu banyak seniman yang melahirkan karya dengan menggali konsep dan tema dari masalah sosiokultural dengan tekanan nilai-nilai lokal dan tradisi. Karya yang dihadirkan Boyke Aditya ini banyak mengungkapkan ironi kehidupan sosial dalam simbol-simbol personal yang digali dari mitos maupun legenda masyarakat Jawa dan lainnya.

Dalam karya ini, pelukis mengungkapkan proses dialog atau problem komunikasi dari suatu dunia imajiner yang bersumber dari kepercayaan gaib, kehidupan spiritual, maupun suatu sistem reliji. Dalam kehidupan kemanusiaan modern ini, tahap kebudayaan mitis di mana pandangan manusia yang masih menyatu dengan alam dan mengidentifikasi problem transendensi sebagai dunia gaib, masih banyak menguasai berbagai praktik kebudayaan. Boyke Aditya yang hidup dalam komunitas kebudayaan Jawa dan Sunda yang masih banyak menganut sistem reliji lokal berupaya mereflesikan berbagai problem simbolik dari nilai kehidupan itu. Suasana fantastis yang diciptakan merupakan refleksi dari keterbatasan manusia memahami berbagai kekuatan transedental.

 

Sumber

The Arrest of Pangeran Diponegoro

350px-Raden_Saleh_-_Diponegoro_arrest

Prince Diponegoro stands, defiant, in front of Lieutenant General Hendrik Merkus de Kock in front of the colonial officer’s mansion. He wears a green turban, white tabard over pantaloons, and a jacket; around his waist is a golden belt, to which prayer beads are attached, and over his shoulder is a shawl. He appears to be struggling to control his anger – as would be expected from Javanese gentry – while the Europeans’ eyes are static and avoid the eyes of others.

De Kock, the captor, stands to Diponegoro’s left, at the same level as the guerrilla. Further to the left are various Dutch officers, identified by the historian and Diponegoro biographer Peter Carey as Colonel Louis du Perr, Lieutenant-Colonel W.A. Roest, and Major-Adjutant Francois Victor Henri Antoine Ridder de Stuer. To the prince’s right stands a Javanese man identified by Carey as Diponegoro’s son, Diponegoro the Younger, followed by Resident of Kedu Franciscus Gerardus Valck, Major Johan Jacob Perié, and Captain Johan Jacob Roeps. At Diponegoro’s feet, a woman – possibly his wife Raden Ayu Rětnaningsih – reaches out to grab him.

The view from the northeast shows a still morning scene, with no wind blowing, and centered around Diponegoro.Saleh gives the painting depth of field, showing the soldiers closest to the front in crisp detail, while blurring the details of those in the back rows. The heads of the Dutchmen depicted appear to be slightly too large for their bodies, while those of the Javanese soldiers are of proper proportions. The painter, Raden Saleh, inserted himself into the painting twice: as a soldier bowing to the captured leader, and as a soldier facing the viewer.

Sumber

 

Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda

Sumpah-Pemuda

Pada tanggal 28 Oktober 1928 malam, di Indonesische Clubgebouw yang penuh sesak, ribuan pemuda mendengar pidato penutupan Kongres Pemuda Indonesia ke-dua dan sekaligus mendengar lantunan lagu “Indonesia Raya” dari biola WR. Soepratman.

Menjelang penutupan, Muhammad Yamin, yang saat itu baru berusia 25 tahun, mengedarkan secarik kertas kepada pimpinan rapat, Soegondo Djojopoespito, lalu diedarkan kepada para peserta rapat yang lain. Siapa sangka, dari tulisan tinta Yamin di secarik kertas itulah tercetus gagasan Sumpah Pemuda.

Sumpah itu lalu dibaca oleh oleh Soegondo, lalu Yamin memberi penjelasan panjang lebar tentang isi rumusannya itu. Pada awalnya, rumusan singkat Yamin itu dinamakan “ikrar pemuda”, lalu diubah oleh Yamin sendiri menjadi “Sumpah Pemuda”. Berikut isi Sumpah Pemuda itu:

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Kongres Pemuda II berlangsung pada 27-28 Oktober dalam tiga tahap rapat. Rapat pertama berlangsung di gedung Katholieke Jongelingen Bond di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng), lalu dipindahkan ke Oost Java Bioscoop di Konigsplein Noord (sekarang Jalan Medan Merdeka Utara), dan kemudian Gedung Kramat 106 baru dipakai untuk rapat ketiga sekaligus penutupan rapat.

Dari rapat pertama hingga rapat ketiga, kongres pemuda II ini menghadirkan 15 pembicara, yang membahas berbagai tema. Diantara pembicara yang dikenal, antara lain: Soegondo Djojopespito, Muhammad Yamin, Siti Sundari, Poernomowoelan, Sarmidi Mangoensarkoro, dan Sunario.

Hadir pula banyak organisasi pemuda dan kepanduan saat itu, diantaranya: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Roekoen, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll.

Kongres Pertama (I) berlangsung pada tahun 1926. Kongres Pertama sudah membahas bahasa persatuan. Mohammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu. Tetapi penamaan “Bahasa Melayu” dikritik oleh salah seorang peserta Kongres, Tabrani Soerjowitjitro. Menurut Tabrani, kalau nusa itu bernama Indonesia, bangsa itu bernama Indonesia, maka bahasa itu harus disebut bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu, walaupun unsur-unsurnya Melayu. Keputusan kongres pertama akhirnya menyatakan bahwa penetapan bahasa persatuan akan diputuskan di kongres kedua.

Seusai kongres pemuda ke-II, sikap pemerintah kolonial biasa saja. Bahkan Van Der Plass, seorang pejabat kolonial untuk urusan negara jajahan, menganggap remeh kongres pemuda itu dan keputusan-keputusannya. Van Der Plass sendiri menertawakan keputusan kongres untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, mengingat bahwa sebagian pembicara dalam kongres itu justru menggunakan bahasa Belanda dan bahasa daerah. Soegondo sendiri, meskipun didaulat sebagai pimpinan sidang dan berusaha mempergunakan bahasa Indonesia, terlihat kesulitan berbahasa Indonesia dengan baik.

Siti Sundari, salah satu pembicara dalam kongres pemuda II itu, masih menggunakan bahasa Belanda. Hanya saja, dua bulan kemudian, sebagaimana ditulis Dr Keith Foulcher, pengajar jurusan Indonesia di Universitas Sydney, Australia, Siti Sundari mulai menggunakan bahasa Indonesia.

Akan tetapi, perkiraan Van Der Plass ternyata meleset. Sejarah telah membuktikan bahwa kongres itu telah menjadi “api” yang mencetuskan persatuan nasional bangsa Indonesia untuk melawan kolonialisme.

Meskipun, seperti dikatakan sejarahwan Asvi Warman Adam yang mengutip pernyataan Profesor Sartono Kartodirdjo, Manifesto Politik yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda pada 1925 jauh lebih fundamental daripada Sumpah Pemuda 1928. Manifesto Politik 1925 berisi prinsip perjuangan, yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan liberty (kemerdekaan). Sedangkan Sumpah Pemuda hanya menonjolkan persatuan

Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antarbangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir,” kata Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta, 28 Oktober 1963.

Sumber

Sejarah 5 Oktober Jadi HUT TNI

ae870e7b-99ec-4cc8-a47e-607867434456_169

Hari jadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) diperingati setiap tanggal 5 Oktober. Tanggal ini memiliki sejarah panjang di awal masa kemerdekaan.

Sebelum kemerdekaan, ada nama Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) dan juga Pembela Tanah Air (PETA). KNIL merupakan tentara kerajaan Hindia-Belanda yang dibentuk ketika Perang Diponegoro berlangsung. Sementara PETA dibentuk pemerintahan Jepang yang dibentuk untuk melawan tentara sekutu pada tahun 1943.

Pada 14 Februari 1945, Komandan Pleton (Sodancho) PETA Supriyadi (Soeprijadi) memimpin pemberontakan untuk melawan tentara Jepang di Blitar. Supriyadi sempat meminta pendapat Sukarno sebelum melakukan pemberontakan.

“Apa yang tidak diketahui orang sampai sekarang ialah bahwa Sukarno sendiri tersangkut dalam pemberontakan ini. Bagi orang Jepang, maka pemberontakan PETA merupakan suatu peristiwa yang tidak diduga sama sekali. Akan tetapi bagi Sukarno tidak. Aku telah mengetahui sebelumnya. Ingatlah bahwa rumahku di Blitar,” kata Sukarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams.

Sukarno kala itu merupakan pemimpin dari Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Namun waktu itu Sukarno meminta Supriyadi dkk untuk mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi. Tetapi Supriyadi tetap memimpin pemberontakan yang berujung pada penangkapan sejumlah pimpinan PETA oleh tentara Jepang.

Supriyadi menghilang setelah pemberontakan itu. Hingga kini nasib Supriyadi masih menjadi misteri.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 23 Agustus 1945. Setelah itu secara bertahap dibentuklah BKR Darat, BKR Laut, dan BKR Udara.

BKR memiliki kepengurusan di pusat dan sejumlah daerah. Tetapi ada pula daerah yang menolak dibentuk BKR dan akhirnya membuat lembaga serupa dengan penamaan sendiri.

Akhirnya pada 5 Oktober 1945, Maklumat Pemerintah mengubah BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang juga memasukkan para mantan anggota PETA. BKR Darat, Laut, dan Udara secara bertahap juga menyesuaikan penamannya.

Nama TKR sempat diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Tetapi kemudian mengalami perubahan lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tahun 1946.

Presiden Sukarno kemudian mengubah lagi nama TRI menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 3 Juni 1947. TNI merupakan gabungan dari TRI dan tentara elemen-elemen rakyat lainnya.

Jenderal Soedirman kemudian ditunjuk menjadi Panglima Besar pertama TNI. Meski nama TNI baru diberikan pada tanggal 3 Juni 1947, namun hari lahir kesatuan tersebut tetap diperingati setiap 5 Oktober.

Sumber