PENDIDIKAN ANTI KORUPSI SEJAK DINI

pengertian-pendidikan-anak-dalam-usia-dini

Berbicara tentang korupsi sepertinya memang bukan hal yang asing lagi bagi kita sebagai warga negara Indonesia. Kasus korupsi di Indonesia seolah sudah menjadi fenomena sosial yang sulit diberantas karena sudah begitu membudaya di negeri ini. Ya, di Indonesia kasus korupsi memang sudah merajalela di seluruh lapisan masyarakat. Bukan hanya di kalangan para petinggi negara saja tetapi juga sudah menyebar di kalangan masyarakat bawah bahkan anak-anak.

Bangsa Indonesia nampaknya sudah sampai pada batas puncak kesabaran dalam mengatasi masalah korupsi di negeri ini yang menggerogoti seluruh aspek kehidupan. Batas kesabaran itu diwujudkan dalam pencanangan Hari Anti Korupsi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 9 Desember 2004. Namun hingga kini kasus korupsi tak juga kunjung selesai. Ibarat pepatah “menyapu lantai dengan sapu kotor”. Ketika seorang aparat negara ditugaskan untuk memberantas korupsi, bisa jadi dia sendiri juga akan terjerat dalam kasus yang sama. Memberantas kasus korupsi memang bukan hal yang mudah. Kita harus kuat iman dan juga tegas. Jika tidak demikian, bisa-bisa kita sendiri yang akan terjerumus dalam kasus yang sama.

Pengertian korupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Namun definisi tersebut adalah definisi korupsi secara umum. Pada kenyataannya kasus korupsi bukan hanya dalam hal yang berkaitan dengan uang saja, bisa juga dalam hal waktu, tenaga, dan tindakan-tindakan curang lainnya juga dapat dikategorikan sebagai korupsi. Menurut perspektif hukum, definisi korupsi dijelaskan 13 Pasal dalam UU N0. 31/1999 jo. UU N0. 20/2001, korupsi dirumuskan ke dalam tiga puluh bentuk/ jenis tindak pidana korupsi. Ketiga puluh jenis tindak pidana korupsi tersebut, pada dasarnya dapat dikelompokan menjadi; 1. Kerugian keuangan negara, 2. Suap-menyuap, 3. Penggelapan dalam jabatan, 4. Pemerasan, 5. Perbuatan curang, 6. Benturan kepentingan dalam pengadaan serta 7. Gratifikasi.

Kasus korupsi di Indonesia nampaknya sudah berurat dan berakar, sehingga membuat korupsi seakan sulit diberantas di negeri ini. Maka tidaklah mengherankan jika Indonesia masuk dalam deretan negara terkorup setelah Kamboja di kawasan Asia Pasifik. Bahkan saking sulit dan lemahnya kepercayaan publik pada lembaga hukum di Indonesia ini seperti Polri, dan kejaksaan. Sampai-sampai kita harus mendirikan satu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberantas korupsi di negara kita tercinta ini. Tetapi meskipun demikian, pemberantasan korupsi tidak bisa hanya dengan bergantung pada KPK saja. Pemahaman yang baik tentang korupsi pada anak usia dini akan mendukung pengurangan tingkat korupsi.

Pentingnya Pendidikan Anti Korupsi Sejak Usia Dini

Pendidikan anti korupsi memang harus ditanamkan sejak dini. Dalam hal ini, keluarga memegang peranan penting dalam mendidik dan membentuk akhlak anak. Selain itu, mengenalkan prinsip kebaikan, kebenaran dan kesalehan hidup kepada anak juga menjadi tugas utama bagi orang tua. Jika orang tua telah mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kejujuran pada anak sejak dini, maka saat anak tersebut mulai beranjak dewasa nilai-nilai tersebut akan terpatri dalam jiwa mereka. Dengan demikian keluarga turut andil dalam memberi warna budaya sebuah bangsa, termasuk di dalamnya adalah menciptakan budaya anti korupsi.

Anak-anak merupakan peniru yang ulung. Karena seorang anak belajar bertingkah laku dengan meniru tingkah laku orang lain yang ditransmisikan melalui contoh-contoh, terutama yang datang dari keluarga, lingkungan sekitar dan media massa. Oleh karena itu, teladan yang baik dari seluruh anggota keluarga seperti ketaatan beribadah, berperilaku sopan sesuai budaya dan bangsa, bertindak jujur dalam perkataan dan perbuatan sangatlah penting ditanamkan sejak usia dini. Tetapi meskipun demikian, tidaklah adil rasanya jika teladan itu hanya datang dari keluarga. Pemerintah juga harus turut serta berperan aktif dalam upaya menciptakan budaya anti korupsi pada anak-anak, misalnya melalui Kementerian Pendidikan Nasional dengan memperbaiki kurikulum pembelajaran di sekolah, yaitu dengan tetap memasukkan mata pelajaran budi pekerti di dalam kurikulum sekolah. Selain itu, saat ini sudah banyak contoh sekolah yang memberlakukan kantin kejujuran sebagai upaya untuk menanamkan sikap jujur pada anak didiknya. Hal ini merupakan suatu contoh yang baik untuk membudayakan sikap anti korupsi. Karena kejujuran adalah kunci untuk menjauhkan diri dari tindakan korupsi.

Norma yang Harus Ditanamkan Sejak Usia TK sampai Perguruan Tinggi

Ada beberapa norma yang harus ditanamkan sejak usia TK hingga perguruan tinggi, antara lain adalah:

1. Usia TK anak sudak memahami norma etika apa yang boleh ataupun tidak boleh. Penerapan yang dapat orang tua ajarkan, sebagai pendidikan antikorupsi adalah mengajarkan kepada anak kalau “mencuri itu tidak boleh”.

2. Usia SD anak sudah memahami norma agama bagaimana berperilaku “baik” dan “tidak baik” sehingga guru SD atau kedua orang tua dapat mengajarkan pada anak kalau korupsi itu tidak baik karena dilarang Tuhan.

3. Usia SMP anak sudah memahami norma hukum bagaimana berperilaku “tidak melanggar hukum” dan “melanggar hukum” sehingga guru SMP atau kedua orang tua menekankan kalau korupsi itu melanggar hukum.

4. Usia SMA anak sudah memahami norma psikologis bagaimana perilaku “menyimpang” dan perilaku “ tidak menyimpang” sehingga dapat ditanamkan kalau korupsi merupakan perbuatan menyimpang.

5. Usia perguruan tinggi (PT) adalah bentuk manusia dewasa yang sudah memahami norma sosial bagaimana berperilaku “sesuai norma sosial” dan “tidak sesuai norma sosial”. Sehingga dapat memahami korupsi merupakan perbuatan yang dibenci masyarakat dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang antisosial.

Upaya untuk memberantas kasus korupsi di Indonesia sampai benar-benar bersih sampai ke akar-akarnya memang bukanlah hal yang mudah. Namun selalu ada cara selama kita mau berusaha. Menanamkan nilai-nilai budaya antikorupsi pada anak-anak sejak usia dini adalah salah satu caranya. Karena anak-anak merupakan generasi penerus bangsa. Jika sejak kecil mereka suah terbiasa hidup bersih, maka sampai dewasa pun kebiasaan itu akan tetap terpelihara.

Sumber:
http://hukum.kompasiana.com/2012/08/10/mencegah-bibit-korupsi-sejak-dini/
http://www.sai.ugm.ac.id/site/artikel/korupsi-definisi-dan-jenisnya
http://irmaquerotu.blogspot.com/2012/10/pendidikan-anti-korupsi-sejak-dini.html
http://garutnews.com/?p=10966

3 Kondisi Ini Termasuk Perilaku Bullying

school-bullying

Ketika anak mengadu tentang perilaku teman yang menyakiti hingga membuat ia menangis atau terpojok, apa yang Mama rasakan? Geram, marah, dan tidak terima? Merasa anak mengalami bullying dan perlu melapor agar pihak sekolah melakukan tindakan terhadap pelakunya? Tunggu dahulu, Ma. Sebelum memutuskan membuat kesimpulan anak mengalami bullying, Anda perlu tahu apakah ia mengalami bullying atau ‘sekadar’ berkonflik dengan temannya.

Konflik biasa terjadi dalam kehidupan sosial seseorang, bahkan anak-anak. Namun, dengan maraknya berita seputarbullying belakangan ini, banyak orang tua yang akhirnya begitu sensitif sehingga ketika anaknya berkonflik dengan temannya, ia sudah berpikir, jangan-jangan anak mengalami bullying. Untuk melihat apakah tindakan-tindakan yang terjadi kepada anak adalah bullying atau berpotensi bullying, sebaiknya Anda banyak mengamati dan berkomunikasi dengan anak, sesama orang tua, dan guru di sekolah karena ada beberapa ‘syarat’ suatu tindakan dikatakan bullying.

Yang pertama, bullying adalah perilaku agresif yang dilakukan seseorang dan melibatkan power imbalance. “Satu pihak powerful, sementara satu lagi powerless. Jika sama-sama powerful, itu bukan bullying,” kata Anna Surti Ariani, S.Psi., M.si, Psikolog (Nina), dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Misal, kalau satu anak mengejek anak lain, lalu yang diejek merasa minder, kemungkinan itu bullying. Tetapi, kalau sama-sama kuat, anak yang dikata-katai melakukan pembalasan, maka itu bukan bullying.

Yang kedua, dilakukan secara berulang. Jika pelaku sedang merasa jengkel, sehingga saat itu ia marah kepada temannya, maka tidak bisa dikatakan ia sedang melakukan bullying. Dan, syarat ketiga adalah dalam bullying harus ada intensi untuk membuat si korban bertambah buruk atau terluka. Kalo tidak ada intensi melukai, maka itu tidak bisa dikatakan bullying. Sebagai contoh, ada seorang anak suka memain-mainkan pensilnya, tanpa sengaja melukai temannya. Ia tidak punya maksud melukai, berarti ia tidak ada intensi buruk terhadap orang lain, apalagi jika ketika menyadari kesalahannya ia meminta maaf. “Perilaku-perilaku tersebut memang rentan kita sebut bullying. Tetapi belum cukup kita sebut bullying, kalau terbukti tidak ada 3 hal tersebut: power imbalance, berulang, danberintensi. Jika tidak ada 3 hal itu, apa yang terjadi kepada anak dengan temannya itu adalah konflik,” kata Nina.

sumber

 

RAGAM HIAS SUKU DAYAK

04ef7-dayak.png

1. Jenis-jenis Ragam Hias Suku Dayak 
a. Ragam hias geometris 
Merupakan pola ragam hias yang saling terukur, memiliki keteraturan dan keseimbangan. Ragam hias berpola geometris sering ditemukan dalam bentuk spiral, zigzag, garis silang, persegi empat, dan lain-lain. Ragam hias ini dipercaya telah ada sejak zaman dahulu, hal ini diperkuat dengan bukti-bukti yang telah ditemukan. Motif geometris sering seringkali siaplikasikan dalam seni ukir atau pahatan. Namun, tidak jarang juga ditemukan pada motif-motif geometris diterapkan ke dalam bentuk dua dimensi.
Bentuk-bentuk bidang geometris antara lain terbagi dalam 2 (dua) bagian:
  • Bentuk bidang beraturan, berupa segitiga, lingkaran, persegi empat atau segi enam.
  • Bentuk bidang tidak beraturan, berupa gumpalan dengan bentuk mengarah pada bulatan atau lengkungan, bentuk tajam seperti bintang dan sejenisnya.
Pada ragam hias suku dayak, motif geometris sering dipakai untuk menghias bagian tepi atau pinggir suatu benda, tetapi juga sering dijadikan sebagai inti hiasan untuk memenuhi suatu benda.
Contoh ragam hias geometris
  1.  Les 

Merupakan salah satu jenis ragam hias geometris yang biasa digunakan di bangunan adat suku Dayak. Ragam hias Les ini ditempatkan di dinding bagian bawah atau pinggiran bawah atap. Makna dari ragam hias ini adalah sebagai simbol identitas diri, menambah keindahan, serta lambang kesuburan.

h
b. Ragam hias fauna dan manusia 
Merupakan suatu bentuk ungkapan rasa yang dituangkan melalui bentuk-bentuk berupa gambar yang menceritakan sejarah kehidupan. Misalnya lukisan-lukisan dinding gua yang menceritakan tentang kisah perburuan, perekonomian, ritual, dan sebagainya.
Suku dayak, seringkali memakai motif-motif kehidupan seperti hewan dan binatang hamper disetiap benda dan barang-barang yang digunakan. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat suku dayak sangat erat dengan ajaran nenek moyang dan kepercayaan-kepercayaan orang terdahulu. Binatang seringkali dijadikan media dalam menjalankan ritual dan sesembahan, bahkan acapkali dianggap sebagai dewa pada beberapa kepercayaan.
Contoh ragam hias fauna dan manusia
  •  Motif pada pakaian adat suku dayak (Bulang) 

Pakaian dayak memang beragam, dari mulai motif, model pakaian, hingga penggunaan warna. Namun, pakaian dayak umumnya adalah pakaian yang dibuat dengan cara ditenun. Jenis tenunnya yaitu tenun ikat. Di pahami bahwa seni budaya menenun merupakan kebudayaan yang diwariskan oleh generasi terdahulu yang mempunyai keunikan, nilai seni dan sejarah yang tinggi. Tahapan untuk menghasilkan sebuah karya kain tenun ikat dimulai dari penanaman kapas, pembuatan benang/memintal, ngaos (peminyakan benang), mewarna/mencelup, mengikat motif, menenun dan menjadikan pakaian adat merupakan rangkaian proses panjang. Dari beberapa tahapan tersebut dilakukan ritual-ritual tertentu yang dipercaya sebagai roh untuk membangkitkan semangat dalam bekerja maupun untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Ini merupakan tradisi dan kebudayaan dari leluhur masyarakat suku Dayak Desa yang dilakuakan puluhan tahun silam. Puluhan bahkan ratusan motif pada kain tenun ikat Dayak berasal dari inspirasi, mimpi dan pengetahuan para leluhur yang mengandung makna begitu mendalam sebagai nasehat, petuah, pantangan, dan semangat dalam kehidupan keseharian. Motif pada pakaian suku dayak kebanyakan adalah motif binatang. Namun ada juga diantaranya yang mengambil tema alam.

j.jpg
  • Motif pada daun pintu lamin 

Bentuk tunggal ragam hias Naga Asoq, yaitu suatu perpaduan dari bentuk naga dan anjing, pada bagian kepala berupa gambaran bentuk naga, sementara di bagian badannya berupa bentuk badan anjing, suku Dayak Bahau lazimnya menyebut anjing dengan sebutan Asoq. Kenapa suku ini lebih menonjolkan bentuk Naga dan Asoq, hal tersebut lebih dikarenakan oleh suatau kepercayaan yang mereka anut. Pada ragam hias Naga Asoq ini, bila kita mengkajinya lebih jauh akan terlihat suatu bentuk Naga dan Asoq yang seolah-olah sedang berenang,. Perpaduan dalam bentuk tersebut adalah simbol atau suatu lambang yang dipercaya memiliki kekuatan untuk menolak kejahatan. Sedangkan arti dari ragam hias tersebut konon dipercaya bahwa Naga Asoq ini merupakan juru penyelamat dan petunjuk jalan menuju alam setelah kematian. Dan mengapa aplikasi dari bentuk Naga dan Asoq ini seolah-olah berenang, hal tersebut juga terjadi karena lebih kepada penghormatan mereka pada sungai, yang mereka anggap telah memberikan jalan kehidupan bagi suku Dayak Bahau. Naga Asoq sering terlihat pada hiasan-hiasan di daun pintu Lamin. Berikut gambar naga Asoq yang diaplikasikan dan dikomposisikan dengan motif-motif lainnya.

hh
Ragam hias pada suku dayak di Kalimantan Barat merupakan ide-ide dan pemikiran yang dituangkan dalam bentuk gambar dan hiasan yang berfungsi sebagai sarana ritual keagamaan.
Ragam hias suku dayak seringkali terlihat oleh dominasi warna hitam dan merah. Inilah salah satu cirri khas dari kebudayaan masyarakat dayak. Selain itu, warna-warna tersebut juga mengandung makna-makna yang semuanya sangat terkait dengan aspek kehidupan dan keagamaan suku dayak.
DAFTAR PUSTAKA 
Sutardi, Tedi. 2007. Antropologi Mengungkap Keberagaman Budaya. Bandung : Anggota IKAPI
Situs Web
sumber :

 

 

Peran Orang Tua Dalam Pembentukan Perilaku Sosial Anak

IMG_20160214_8.png              Pola asuh orangtua adalah cara orangtua mengasuh anak-anaknya yang antara lain diwujudkan dalam bentuk pendisiplinan, pemberian teladan, ganjaran dan hukuman. Ada empat pola pengasuhan yang biasa diterapkan orangtua dalam mengasuh anak-anaknya, yaitu pola pengasuhan autoritatif, pola pengasuhan otoriter, pola pengasuhan penyabar dan pola pengasuhan penelantar.

Pola pengasuhan autoritatif adalah pola pengasuhan yang diterapkan oleh orangtua yang menerima kehadiran anak dengan sepenuh hati serta memiliki pandangan atau wawasan kehidupan masa depan dengan jelas. Pada pola pengasuhan ini, orangtua lebih memprioritaskan kepentingan masa depan dengan jelas. Pada pola pengasuhan ini orangtua lebih memprioritaskan kepentingan anak dibandingkan dengan kepentingan dirinya. Tetapi mereka tidak ragu-ragu mengendalikan anak. Orangtua mengarahkan perilaku anak sesuai dengan kebutuhan anak agar anak memiliki sikap, pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang akan mendasari anak untuk mengarungi hidup di masa mendatang.

Pola pengasuhan otoriter kebanyakan diterapkan oleh orangtua yang berasal dari pola pengasuhan otoriter pula di masa kanak-kanaknya, atau oleh orang tua yang sebenarnya menolak kehadiran anak. Orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter cenderung tidak memikirkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang fokusnya lebih pada masa kini. Orangtua menilai dan menuntut anak untuk mematuhi standar mutlak yang ditentukan sepihak oleh orangtua, memutlakkan kepatuhan dan rasa hormat atau sopan santun. Orangtua tidak menyadari bahwa dikemudian hari anak-anak dengan pola pengasuhan otoriter mungkin akan menimbulkan masalah yang lebih rumit dan memusingkan. Meskipun anak-anak dengan pola pengasuhan otoriter ini memiliki kompetensi dan tanggung jawab yang cukup, namun kebanyakan cenderung menarik diri secara sosial, kurang spontan dan tampak kurang percaya diri.

Pola pengasuhan penyabar atau pemanja kebalikan dari pola pengasuhan otoriter. Segala sesuatu justru berpusat pada kepentingan anak. Orangtua tidak pernah menegur anak atau tidak berani menegur perilaku anak, meskipun perilaku tersebut sudah keterlaluan atau di luar batas kewajaran. Dalam kondisi yang demikian terkadang terkesan jangan sampai mengecewakan anak atau yang penting anak jangan sampai menangis. Meskipun anak-anak dengan pola pengasuhan ini cenderung lebih energik dan responsif dibandingkan anak-anak dengan pola pengasuhan otoriter, namun mereka tampak kurang matang secara sosial (manja), impulsif dan mementingkan diri sendiri.

Pola pengasuhan penelantar, orangtua lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri daripada kepentingan anak. Kepentingan perkembangan kepribadian anak terabaikan. Orangtua dengan pola pengasuhan ini kurang atau bahkan sama sekali tidak mempedulikan perkembangan psikis anak. Anak dibiarkan berkembang sendiri. Pola pengasuhan ini pada umumnya diterapkan oleh orangtua yang sebenarnya menolak kehadiran anak dengan berbagai alasan. Banyak orangtua yang terlalu sibuk dengan kegiatannya sendiri dengan berbagai macam alasan pembenaran. Tidak jarang di antara mereka yang tidak peduli atau tidak tahu dimana anaknya berada, dengan siapa saja mereka bergaul, sedang apa anak tersebut dan sebagainya.

IMG_20150920_10.png

Perilaku Sosial

            Perilaku sosial merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk dikembangkan karena sangat mempenaruhi proses tumbuh kembang anak khususnya anak usia taman kana-kanak. Pengembangan perilaku sosial pada anak usia taman kanak-kanak merupakan salah satu aspek yang sangat mendukung perkembangan anak khusunya perkembangan sosial. Perilaku sosial adalah perilaku yang menunjukkan atau memperlihatkan, menerima, mengakui, menyetujui serta melaksanakan norma-norma yang berlaku dimana individu berada. Individu dengan perilaku sosial adalah individu yang perilakunya mencerminkan tiga proses sosialisasi, sehingga mereka cocok dengan kelompok teman mereka menggambungkan diri dan diterima sebagai anggota kelompok. Adapun tiga proses sosialisasi yaitu belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial, memainkan peran sosial yang dapat diterima dan perkembangan sikap social.

Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial terkait dengan standar dari setiap kelompok sosial tentang perilaku yang dapat diterima. Untuk dapat bermasyarakat anak tidak hanya harus mengetahui perilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan perilaku dengan patokan yang dapat diterima. Memainkan peran sosial yang dapat diterima, dimana pola kebiasaan setiap kelompok sosial yang telah ditentukan harus juga dapat dipatuhi oleh anggotanya. Sedangkan perkembangan sikap sosial, berarti anak yang bergaul harus menyukai orang dan aktivitas sosial yang ada di kelompok tersebut, sehingga mereka dapat berhasil dalam penyesuaiann sosial dan dapat diterima sebagai anggota kelompok tempat mereka menggabungkan diri.

Bila perilaku sosial anak, seperti yang dinilai berdasarkan standar kelompoknya memenuhi harapan kelompok, maka akan menjadi anggota yang akan diterima kelompok. Anak yang menyesuaikan diri dengan baik terhadap berbagai kelompok, baik kelompok teman sebaya maupun kelompok orang dewasa, secara sosial dianggap sebagai orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik. Anak harus menunjukkan sikap yang menyenangkan terhadap orang lain, terhadap partisipasi sosial dan terhadap peranannya dalam kelompok sosial, bila ingin dinilai sebagai orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik secara sosial.

Orangtua adalah kunci utama keberhasilan anak. Orangtualah yang pertama kali dipahami anak sebagai orang yang memiliki kemampuan luar biasa di luar dirinya dan dari orangtuanya anak pertama kali mengenal dunia. Melalui orangtua, anak menegmbangkan seluruh aspek pribadinya. Dalam hal ini, konsep orang tua bukan hanya orang tua yang melahirkan anak, melainkan orangtua yang mengasuh, melindungi dan memberikan kasih sayang kepada anak. Memahami betapa pentingnya peran orang tua bagi pendidikan dan pengembangan anak serta betapa besar tanggung jawab orangtua terhadap pengembangn diri anak baik di rumah maupun di sekolah, maka belajar bagi orangtua mutlak diperlukan. Dengan terus belajar orangtua akan mampu melaksanakan tugas dan fungsinyadengan lebih baik. Selain itu orangtua juga akan mampu memerankan diri sebagai orangtua yang lebih bijaksana di mata anak-anaknya.

 

IMG_20150929_1.png

Peran orangtua bagi penegembangan anak secara lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Memelihara kesehatan fisik dan mental anak. Fisik yang sehat akan memberikan peluang yang lebih besar bagi kesehatan mental.
  2. Meletakkan dasar kepribadian yang baik. Struktur kepribadian anak dibangun dan dibentuk sejak usia dini.
  3. Membimbing dan memotivasi anak untuk mengembangkan diri. Anak akan berkembang melalui proses dalam lingkungannya. Lingkungan pertama bagi anak adalah keluarga.
  4. Memberikan fasilitas yang memadai bagi pengembangan diri anak.
  5. Menciptakan suasana yang aman, nyaman dan kondusif bagi pengembangan diri anak.

Perilaku sosial seperti halnya aspek perkembangan lainnya juga mempunyai bentuk bentuk yang membedakan dengan fase-fase perkembangan yang lain. Beberapa bentuk perilaku sosial yang nampak pada anak usia taman kanak-kanak, yaitu (Hurlock, 1978):

  1. Kerja sama
  2. Persaingan
  3. Kemurahan hati
  4. Hasrat akan penerimaan sosial
  5. Simpati
  6. Empati
  7. Ketergantungan
  8. Sikap ramah
  9. Sikap tidak mementingkan diri sendiri
  10. Meniru
  11. Perilaku kelekatan

Faktor-faktor pendorong pola orang tua.dalam  mendidik anak usia dini

Dimana faktor tersebut terbagi menjadi 3 diantaranya yaitu :

  1. Faktor pendidikan

Pendidikan yang baik merupakan wahana untuk membangun sumber daya manusia    (human resource), dan sumber daya manusia itu terbukti menjadi faktor determinan bagi keberhasilan bagi pembangunan dan kemajuan suatu bangsa.

  1. Faktor keagamaan

Dalam rangka mencapai keselamatan anak usia dini, agama memegang peranan penting. Maka orang tua yang mempunyai dasar agama kuat, akan kaya berbagai cara untuk melaksanakan upaya terbaik baik psikis maupun fisik terhadap anak.

  1. Faktor lingkungan

Lingkungan juga faktor yang sangat kuat mempengaruhi upaya orang tua secara psikis dan fisik terhadap anak usia dini. Pengaruh lingkungan ada yang baik dan ada yang  buruk. Ketiga faktor tersebut seperti pendidikan keagamaan dan lingkungan merupakan faktor yang melatarbelakangi adanya upaya spiritual (psikis) dan fisik yang dilaksanakan oleh orang tua dalam rangka memperoleh generasi yang unggul. Jadi tingkat pendidikan seseorang berpengaruh terhadap upaya secara psikis dan fisik baik yang menafaskan agama maupun tradisi.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Effendi, Ridwan dan Elly Malihah. (2007). Panduan Kuliah Pendidikan Lingkungan Sosial   Budaya dan Teknologi. Bandung : CV. Maulana Media Grafika.
  2. Hasan, maemunah.2009. Pendidikan Anak Usia dini. Yogyakarta: Diva Press
  3. 2009.Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

 

sumber: http://indo2.islamicworld.net/index.php?option=com_content&view=article&id=32:peranan keluarga-dalam-pendidikan-karakter-anak&catid=9:psikologi-islam&Itemid=16

Romantisme Raden Saleh

Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807 atau 1811 – 23 April 1880) adalah pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang mempionirkan seni modern Indonesia (saat itu Hindia Belanda). Lukisannya merupakan perpaduan Romantisisme yang sedang populer di Eropa saat itu dengan elemen-elemen yang menunjukkan latar belakang Jawa sang pelukis.

0,,17003018_303,00

Raden Saleh dilahirkan dalam sebuah keluarga Jawa ningrat. Dia adalah cucu dari SayyidAbdoellah Boestaman dari sisi ibunya. Ayahnya adalah Sayyid Hoesen bin Alwi bin Awal bin Jahja, seorang keturunan Arab.[4] Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terboyo, dekat Semarang. Sejak usia 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School).

Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia Belanda. Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Kebetulan di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan berinisiatif memberikan bimbingan.

Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh mendalami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.

Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen yang memerintah waktu itu (18191826), setelah ia melihat karya Raden Saleh.

Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh.

Dua tahun pertama di Eropa ia pakai untuk memperdalam bahasa Belanda dan belajar teknik mencetak menggunakan batu. Sedangkan soal melukis, selama lima tahun pertama, ia belajar melukis potret dari Cornelis Kruseman dan tema pemandangan dari Andries Schelfhout karena karya mereka memenuhi selera dan mutu rasa seni orang Belanda saat itu. Krusseman adalah pelukis istana yang kerap menerima pesanan pemerintah Belanda dan keluarga kerajaan.

Raden Saleh makin mantap memilih seni lukis sebagai jalur hidup. Ia mulai dikenal, malah berkesempatan berpameran di Den Haag danAmsterdam. Melihat lukisan Raden Saleh, masyarakat Belanda terperangah. Mereka tidak menyangka seorang pelukis muda dari Hindia dapat menguasai teknik dan menangkap watak seni lukis Barat.

Saat masa belajar di Belanda usai, Raden Saleh mengajukan permohonan agar boleh tinggal lebih lama untuk belajar “wis-, land-, meet- en werktuigkunde (ilmu pasti, ukur tanah, dan pesawat), selain melukis. Dalam perundingan antara Menteri Jajahan, Raja Willem I (17721843), dan pemerintah Hindia Belanda, ia boleh menangguhkan kepulangan ke Indonesia. Tapi beasiswa dari kas pemerintah Belanda dihentikan.

Saat pemerintahan Raja Willem II (17921849) ia mendapat dukungan serupa. Beberapa tahun kemudian ia dikirim ke luar negeri untuk menambah ilmu, misalnya Dresden, Jerman. Di sini ia tinggal selama lima tahun dengan status tamu kehormatan Kerajaan Jerman, dan diteruskan ke Weimar, Jerman (1843). Ia kembali ke Belanda tahun 1844. Selanjutnya ia menjadi pelukis istana kerajaan Belanda.

Wawasan seninya pun makin berkembang seiring kekaguman pada karya tokoh romantisme Ferdinand Victor Eugene Delacroix (17981863), pelukis Perancis legendaris. Ia pun terjun ke dunia pelukisan hewan yang dipertemukan dengan sifat agresif manusia. Mulailah pengembaraannya ke banyak tempat, untuk menghayati unsur-unsur dramatika yang ia cari.

Saat di Eropa, ia menjadi saksi mata revolusi Februari 1848 di Paris, yang mau tak mau memengaruhi dirinya. Dari Perancis ia bersama pelukis Prancis kenamaan, Horace Vernet, ke Aljazair untuk tinggal selama beberapa bulan pada tahun 1846. Di kawasan inilah lahir ilham untuk melukis kehidupan satwa di padang pasir. Pengamatannya itu membuahkan sejumlah lukisan perkelahian satwa buas dalam bentuk pigura-pigura besar. Negeri lain yang ia kunjungi: Austria dan Italia. Pengembaraan di Eropa berakhir tahun 1851 ketika ia pulang ke Hindia bersama istrinya, wanita Belanda yang kaya raya.

Saleh kembali ke Hindia Belanda pada 1852 setelah 20 tahun menetap di Eropa. Dia bekerja sebagai konservator lukisan pemerintahan kolonial dan mengerjakan sejumlah portret untuk keluarga kerajaan Jawa, sambil terus melukis pemandangan. Namun dari itu, ia mengeluhkan akan ketidaknyamanannya di Jawa. “Disini orang hanya bicara tentang gula dan kopi, kopi dan gula” ujarnya di sebuah surat.

Saleh membangun sebuah rumah di sekitar Cikini yang didasarkan istana Callenberg, dimana ia pernah tinggal saat berada di Jerman. Dengan taman yang luas, sebagian besarnya dihibahkan untuk kebun binatang dan taman umum pada 1862, yang tutup saat peralihan abad. Pada 1960, Taman Ismail Marzuki dibangun di bekas taman tersebut, dan rumahnya sampai sekarang masih berdiri sebagaiRumah Sakit PGI Cikini.

Pada 1867, Raden Saleh menikahi gadis keluarga ningrat keturunan Kraton Yogyakarta bernama Raden Ayu Danudirja dan pindah ke Bogor, dimana ia menyewa sebuah rumah dekat Kebun Raya Bogor yang berpemandangan Gunung Salak. Di kemudian hari, Saleh membawa istrinya berjalan-jalan ke Eropa, mengunjungi negeri-negeri seperti Belanda, Prancis, Jerman, dan Italia. Namun istrinya jatuh sakit saat di Paris, sakitnya masih tidak diketahui hingga sekarang, dan keduanya pun pulang ke Bogor. Istrinya kemudian meninggal pada 31 Juli 1880, setelah kematian Saleh sendiri 3 bulan sebelumnya.

Pada Jum’at pagi 23 April 1880, Saleh tiba-tiba jatuh sakit. Ia mengaku diracuni oleh salah seorang pembantunya yang dituduh Saleh telah mencuri. Namun dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa aliran darahnya terhambat karena pengendapan yang terjadi dekat jatungnya. Ia dikuburkan dua hari kemudian di Kampung Empang, Bogor. Seperti yang dilaporkan koran Javanese Bode, pemakaman Raden “dihadiri sejumlah tuan tanah dan pegawai Belanda, serta sejumlah murid penasaran dari sekolah terdekat.”

Tokoh romantisme Delacroix dinilai memengaruhi karya-karya berikut Raden Saleh yang jelas menampilkan keyakinan romantismenya. Saat romantisme berkembang di Eropa di awal abad 19, Raden Saleh tinggal dan berkarya di Perancis (18441851).

 

Ciri romantisme muncul dalam lukisan-lukisan Raden Saleh yang mengandung paradoks. Gambaran keagungan sekaligus kekejaman, cerminan harapan (religiusitas) sekaligus ketidakpastian takdir (dalam realitas). Ekspresi yang dirintis pelukis Perancis Gerricault (17911824) dan Delacroix ini diungkapkan dalam suasana dramatis yang mencekam, lukisan kecoklatan yang membuang warna abu-abu, dan ketegangan kritis antara hidup dan mati.

Lukisan-lukisannya yang dengan jelas menampilkan ekspresi ini adalah bukti Raden Saleh seorang romantisis. Konon, melalui karyanya ia menyindir nafsu manusia yang terus mengusik makhluk lain. Misalnya dengan berburu singa, rusa, banteng, dll. Raden Saleh terkesan tak hanya menyerap pendidikan Barat tetapi juga mencernanya untuk menyikapi realitas

di hadapannya. Kesan kuat lainnya adalah Raden Saleh percaya pada idealisme kebebasan dan kemerdekaan, maka ia menentang penindasan

Raden Saleh terutama dikenang karena lukisan historisnya, Penangkapan Pangeran Diponegoro, yang menggambarkan peristiwa pengkhianatan pihak Belanda kepada Pangeran Diponegoro yang mengakhiri Perang Jawa pada 1830. Sang Pangeran dibujuk untuk hadir di Magelang untuk membicarakan kemungkinan gencatan senjata, namun pihak Belanda tidak memenuhi jaminan keselamatannya, dan Diponegoro pun ditangkap.

Pada waktu Saleh, peristiwa tersebut telah dilukis oleh pelukis Belanda Nicolaas Pieneman dan dikomisikan oleh Jenderal de Kock. Diduga Saleh melihat lukisan Pieneman tersebut saat ia tinggal di Eropa. Seakan tidak setuju dengan gambaran Pieneman, Raden memberikan sejumlah perubahan signifikan pada lukisan versinya; Pieneman menggambarkan peristiwa tersebut dari sebelah kanan, Saleh dari kiri. Sementara Pieneman menggambarkan Diponegoro dengan wajah lesu dan pasrah, Saleh menggambarkan Diponegoro dengan raut tegas dan menahan amarah. Pieneman memberi judul lukisannyaPenyerahan Diri Diponegoro, Saleh memberi judul Penangkapan Diponegoro. Diketahui bahwa Saleh sengaja menggambar tokoh Belanda di lukisannya dengan kepala yang sedikit terlalu besar agar tampak lebih mengerikan.[5]

Perubahan-perubahan ini dipandang sebagai rasa nasionalisme pada diri Saleh akan tanah kelahirannya di Jawa. Hal ini juga dapat terlihat pada busana pengikut Diponegoro. Pieneman sendiri tidak pernah ke Hindia Belanda, dan karena itu ia menggambarkan pengikut Diponegoro seperti orang Arab.[5] Gambaran Saleh cenderung lebih akurat, dengan kain batik danblangkon yang terlihat pada beberapa figur. Saleh juga menambahkan detil menarik, ia tidak melukiskan senjata apapun pada pengikut Diponegoro, bahkan keris Diponegoro pun tidak ada. Ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena itu Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik.

Setelah selesai dilukis pada 1857, Saleh mempersembahkan lukisannya kepada Raja Willem III di Den Haag. Penangkapan Pangeran Diponegoro baru pulang ke Indonesia pada 1978. Kepulangan lukisan tersebut merupakan perwujudan janji kebudayaan antara Indonesia-Belanda pada 1969, tentang kategori pengembalian kebudayaan milik Indonesia yang diambil, dipinjam, dan dipindahtangan ke Belanda pada masa lampau. Namun dari itu, lukisan Penangkapan tidak termasuk ketiga kategori tersebut, karena sejak awal Saleh memberikannya kepada Raja Belanda dan tidak pernah dimiliki Indonesia. Lukisan tersebut akhirnya diberikan sebagai hadiah dari Istana Kerajaan Belanda dan sekarang dipajang di Istana Negara,Jakarta.

Selama hidupnya, banyak pejabat dan bangsawan Eropa yang mengagumi Raden Saleh. Lukisannya dipesan oleh tokoh-tokoh seperti bangsawan Sachsen Coburg-Gotha, keluarga Ratu Victoria, dan sejumlah gubernur jenderal seperti Johannes van den Bosch, Jean Chrétien Baud, dan Herman Willem Daendels. Tak sedikit pula yang menganugerahinya tanda penghargaan, di antaranya terdapat bintang Ridder der Orde van de Eikenkoon (R.E.K.), Commandeur met de ster der Frans Joseph Orde (C.F.J.), Ksatria Orde Mahkota Prusia (R.K.P.), dan Ridder van de Witte Valk (R.W.V.).

Pada tahun 1883, diadakan pameran lukisan Raden Saleh di Amsterdam untuk memperingati tiga tahun wafatnya Saleh, atas prakarsa Raja Willem III dan Ernst dari Sachsen-Coburg-Gotha. Di antaranya terdapat lukisan Hutan Terbakar, Berburu Kerbau di Jawa, dan Penangkapan Pangeran Diponegoro

Sedangkan penghargaan dari pemerintah Indonesia diberikan pada tahun 1969 lewat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan secara anumerta, berupa Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Wujud perhatian lain adalah, pembangunan ulang makamnya di Bogor yang dilakukan oleh Ir. Silaban atas perintah PresidenSoekarno, sejumlah lukisannya dipakai untuk ilustrasi benda berharga negara, misalnya akhir tahun 1967, PTT mengeluarkan perangko seri Raden Saleh dengan reproduksi dua lukisannya.

Pada tahun 2008, sebuah kawah di planet Merkurius dinamai darinya.

 

sumber: Wikipedia

 

Menggambar Membantu Stimulasi Otak Anak

IMG_9647

JAKARTA- Menggambar ternyata bukan hanya kegiatan yang menyenangkan bagi anak-anak. Banyak manfaat yang bisa didapatkan anak dari coretan tangannya. Dalam perkembangannya, menggambar pun dijadikan sebagai art therapy untuk kesehatan mental dan merangsang otaknya.

Seorang art therapist Mutia Ribowo mengungkapkan, menggambar dapat membuat seseorang anak lebih fokus karena ada kordinasi antara mata dan gerakan tangan. Lebih dari itu, anak pun akan lebih peka terhadap lingkungan sekitar, memiliki empati, dan meningkatkan intuisi.

“Menggambar menstimulus otak kiri dan kanan. Selama ini kan 80 persen populasi pengguna otak kiri untuk menghitung. Kalau pakai otak kanan, akan pakai empati, intuisi, hingga bisa memandang posisi orang lain,” terang Mutia di Jakarta, Selasa (16/6/2015).

Selain mengembangkan kreativitas anak, menggambar juga bisa dijadikan media anak mengungkapkan perasaan atau emosinya. Mereka akan lebih rileks setelah mencurahkan isi hatinya lewat goresan tangan.

Hasil gambar anak ini juga bisa dianalisis untuk mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan si anak dan apa yang dirasakan. Misalnya, anak yang mengalami kekerasan, trauma, anak yang kehilangan orangtua, hingga perasaan anak jika orangtua bercerai.

Melalui terapi menggambar, anak bisa lebih ceria dan bahagia. Pada akhirnya, pikiran yang bahagia juga bisa membuat fisik sehat. Terapi seni ini bisa diikuti oleh anak-anak sejak usia 3 tahun atau saat anak mulai bisa memegang pensil dan mencorat-coret.

Terapi seni sering kali diterapkan pada anak dengan autisme, memiliki gangguan perilaku, masalah sosial, dan juga mental. Menurut Mutia, orangtua berperan penting mengenalkan anak dengan dunia seni seperti menggambar sekaligus mewarnai.

Hasil positif dari menggambar, lanjut Mutia, biasanya dapat terlihat setelah rutin dilakukan 3 kali dalam satu minggu.

sumber: KOMPAS.com

Peran Seni dan Tahap Perkembangan Seni Dalam Pertumbuhan Anak

IMG_9646

 

Peran Seni Dalam Kehidupan Anak

Beberapa peran seni sebagai ujud keindahan memiliki peran:

1. Pemenuhan kebutuhan

Lowenfeld (1982) menyatakan bahwa seni sebagai fundasi kemanusiaan manusia. Manusia secara sadar dan tidak sadar memiliki potensi mendasar untuk melakukan penyaluran ide, gagasan, dan gerak hatinya melalui aktivitas seni.

2. Terapi

Dengan berlaku, mencipta, berkarya, atau menikmati seni manusia dapat menghibur diri, melepaskan diri dari tekanan-tekanan dalam batinnya, sehingga jiwanya terpuasi.

3. Ungkapan atau Ekspresi

Dorongan untuk memunculkan pengalaman, keinginan, pikiran, harapan dan, gagasan membutuhkan perwujudan.

4. Komunikasi

Seni digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan yang ingin diungkapkan. Pesan akan lebih bertahan lama dan memiliki makna yang lebih luas dan dalam jika dikemas dalam media ungkap seni.

Bentuk dan jenis perkembangan seni anak melalui tahap perkembangan:

1. Tingkat manipulatif (eksplorasi)

Pada tahap ini anak memerlukan berbagai alat bantu atau bahan ekspresi seperti: mencoret-coret, meremas-remas, memijit-mijit, dan sebagainya.

2. Tingkat Simbolik

Fase ini merupakan fase perkembangan ekspresi anak di mana mereka menghasilkan gambar-gambar/bentuk-bentuk tertentu yang bagi anak merupakan lambang-lambang dari penghayatannya. Pada tahap ini anak sering bercakap-cakap sendiri tentang apa yang dibuatnya, misalnya: “ini rumah”, “ini kuda”, meskipun gambar atau ujudnya sama sekali berbeda dengan apa yang diungkapkan, akan tetapi simbol ini sangat berarti bagi anak.

3. Tingkat dapat dikenal

Pada tingkat ini umumnya anak telah berhasil menciptakan bentuk-bentuk yang dapat dikenal, misalnya: pada lukisan atau gambarnya terlihat bentuk, rumah, ayam, bunga, pohon, dan sebagainya (5-7 tahun).

Uraian tersebut menunjukkan bahwa seni memiliki peran sebagai ungkap kreatif yang digunakan sebagai dasar pengembangan kegiatan (khususnya pada anak 2-7 tahun) melalui aktivitas bermain (play group) dan taman pengembangan selanjutnya (sekolah dasar).

Lowenfeld dan Brittain (1982) menegaskan peran seni, bahwa memberikan pengalaman seni yang lebih baik dan benar akan mengembangkan kemampuan-kemampuan dasar yang meliputi: emosi, intelektual, fisik, persepsi, sosial, estetis, dan kreativitas.

Selanjutnya Eisener (1972) menyatakan 5 kebenaran pengembangan dan pengajaran seni pada anak di sekolah:

1. Seni dapat digunakan sebagai dasar membantu mengembangkan pengertian yang dapat memberi kepuasan berpikir setelah bekerja.

2. Seni mengandung unsur pengobatan yang secara alami. Seni memberikan kesempatan meredakan emosi yang terkurung dan tak dapat diekspresikan, seni sebagai ekspresi diri dan dapat mengembangkan kesehatan mental.

3. Berpikir kreatif harus menjadi tujuan utama program pendidikan dan seni tidak dapat disangkal (hasil riset) memberikan sumbangan signifikan terhadap perkembangan berfikir kreatif.

4. Aktivitas membantu pemahaman bidang kajian lain; banyak studi sosial dan seni dapat menjadi pembentuk konsep.

5. Seni dapat mengembangkan otot halus yang memperbaiki koordinasi siswa.

C. Pendidikan dan Perkembangan Seni

Jalongo dan Issenberg (1993:68) menyatakan pendidikan seni mendasar pada 3 tujuan, yaitu: kreativitas, kemampuan, dan apresiasi dalam pencapaiannya meliputi 4 unsur pengetahuan, yaitu: (1) Hasil seni mencakup; buatan yang orisinil, penggunaan materi untuk mengungkapkan ide atau konsep, dalam proses membutuhkan teknik, (2) sejarah seni; perlu klasifikasi dan pengembangan keberadaannya, (3) kupasan seni; pengartian karya, bentuk dan nilai seni, (4) estetika; digunakan dalam apresiasi dan interpretasi objek seni dan kesadaran unsur seni dari lingkungan.

Kemampuan-kemampuan dasar yang telah dimiliki anak untuk berkreasi antara lain: (1) mengamati, mencoba, memanipulasi, bermain, menjawab pertanyaan, berteka-teki, diskusi kelompok, (2) berimajinasi tentang peran permainan, bermain kata, bercerita, menerapkan pengetahuan secara sederhana, (3) konsentrasi pada satu jenis tugas dengan waktu relatif singkat, (4) mengerjakan sesuatu dengan orang tua atau teman akrab, (5) menggunakan pengulangan sebagai kesempatan sebelum bosan (Jalongo dan Issenberg, 1993).

Tujuan pendidikan seni dan kerajinan tangan pada anak sekolah dasar adalah pengembangan sikap dan kemampuan siswa berkreasi dan apresiasi terhadap karya seni. Hal ini merupakan kelanjutan pendidikan pra sekolah yanng bertujuan untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta (kreatif) yang diperlukan anak didik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.

Perkembangan seni anak dapat ditinjau secara rinci dari berbagai ujud seni itu sendiri, antara lain:

1. Tahap-tahap Perkembangan Seni Rupa Anak Usia SD

a. Tahap Scribbling sampai 4 tahun

Perkembangan seni rupa anak dilihat dari karakteristik gambar, penyajian ruang dan penyajian gambaran orang pada karya gambar anak secara garis besar adalah: Tahap scribbling dimulai dengan gambar yang tidak beraturan, kemudian sejalan dengan pengendalian motorik menjadi scribbling yang terkontrol, dan akhirnya menjadi scribbling yang mempunyai makna bagi dirinya sendiri.

b. Tahap Preschematic atau prabagan 4-7 tahun

Dimulai dengan menggambar suatu objek. Karakteristik gambarnya terdiri dari bangun geometri, bersifat relatif dan subjektif bermakna pribadi. Penyajian ruang; objek mengapung, kertas kadang berputar, proporsi antar objek belum ada. Penyajian gambar orang; kepala dan kaki menjadi objek pengembangan, tangan mulai dilengkapi.

c. Tahap Schematic (Pencapaian konsep bentuk) 7-9 tahun

Karakteristik pengembangan konsep dengan pengulangan perubahan dipengaruhi pengetahuan aktif tentang lingkungan, menggambar konsep dari ciri-ciri bukan persepsi, goresan tegas, langsung, pipih. Penyajian ruang; mendirikan objek tegak pada garis dasar, pengaturan objek dalam dua dimensi, gambar menyebar ke seluruh bidang. Gambar orang; pengulangan bagan, badan terlukis secara geometris, lengan dan kaki mulai diisi dengan penempatan benar dan proporsi dipengaruhi emosi.

d. Tahap Realis (9-12 tahun)

Pada tahap ini karakteristik gambar secara lebih baik telah siap untuk lebih rinci, ia memiliki kesadaran diri terhadap gambar-gambarnya, lebih siap untuk menampilkan fisik lingkungan, karakteristik lingkungan lebih menonjol dibanding kealamiahannya, belum memahami bangun dan bayangannya. Penyajian ruang; mendasarkan pada garis sehingga gambar nyata tapi masih tumpang tindih, mulai menghubungkan antar dua benda, mengetahui awan sebagai garis horison, berusaha menunjukkan hal yang tersembunyi melalui ukuran benda-benda. Penyajian gambar manusia bagian-bagian tubuh mulai terpisah, figur lebih jelas.

Source : Kompasiana