Gong Xi Fa Cai

ucapan imlek 2015.jpg

May all your wishes comes true…Gong Xi Fa Cai

Advertisements

Joint Us La Alfabeta

NEW CALISTUNG DAN MAFIKA 2017 kotak utk IG

Mau mengisi waktu luang adik yang balita dengan bermain sambil menambah kosakata baru?

Udah mau masuk SD, abang masih bingung menulis dan berhitung?

Santai saja ayah bunda, kakak pengajar La Alfabeta sabar dan kreatif kok untuk mengajarkan calistung dengan metode yang fun..

Bisa diselingi art-craft lagi, mulai dari origami, hand-printing dan lainnya, dengan konsep bermain sambil belajar, jadi anak-anak tidak merasa terbebani dan tidak cepat bosan…

Materi-nya juga disesuaikan dengan kegiatan yang ada di bulan tersebut…

Misalkan hari Kartini atau hari Pahlawan, jadi aplikasi-nya bisa pas banget.

Kakak sudah siap-siap mau ujian nasional SMP, pengen masuk SMA favorit?

Ayo gabung…

More info:

Customer Service La Alfabeta

0812 8928 3667

Call/sms/whatsapp

email: laalfabeta@gmail.com

http://www.facebook.com/laalfabeta.course

Kunjungi official website kami di :

LA ALFABETA 

http://www.laalfabeta.com

Hari Gizi Nasional 2018 Bersama Menuju Bangsa Sehat dan Berprestasi

peringatan hari gizi nasional 2018

Bersama membangun gizi menuju bangsa sehat dan berprestasi masih menjadi fokus tema peringatan hari gizi nasional ke 58 tanggal 25 januari 2018, tingginya angka gizi buruk masyarakat indonesia menjadi alasan utama pemilihan tema besar yang sama dengan tema HGN tahun lalu.
Salah satu indikator gizi buruk masyarakat indonesia dapat dilihat dari tingginya angka kekurangan gizi anak-anak indonesia berdasarkan ambang batas yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia (WHO), terdapat tiga kategori indeks gizi dengan angka masih dibawah ambang batas.

Indeks berat badan per usia anak indonesia memiliki angka 17%, indeks tinggi badan per usia 27,5% dan indeks tinggi badan per berat badan 11%, sedangkan ambang batas angka kekuarangan gizi menurut WHO berturut-turut 10%, 20% dan 5%. Kondisi ini semakin mempertegas bahwa gizi buruk masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia.

Dampak buruk kekurangan gizi tidak hanya terjadi pada bentuk tubuh yang pendek maupun kurus, namun juga pada tingkat kecerdasan otak yang akan berimbas pada rendahnya kualitas sumber daya manusia. Karena itu, upaya percepatan perbaikan gizi terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) perlu dilakukan bersama.

Kasus anak indonesia dengan tinggi badan lebih pendek dari standar usianya (stunting) masih sangat tinggi, oleh sebab itu menjadi perhatian utama peringatan hari gizi nasional 2018 dengan mengambil sub tema mewujudkan kemandirian keluarga dalam 1000 hari pertama kehidupan (HPK) untuk pencegahan stunting.

Angka rata-rata stunting nasional mencapai 10,2 % dari berbagai provinsi dan jumlah tertinggi terdapat pada provinsi sulawesi tengah yang menyentuh angka 16,9%. Saat ini ada 100 kabupaten yang menjadi prioritas utama dalam program penurunan angka stunting di Indonesia dan akan berlanjut dengan 200 kabupaten lainnya.

Pencegahan Stunting Melalui Perbaikan Gizi dan Kemandirian Keluarga

Stunting adalah kondisi dimana tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan normal anak seusianya. Faktor utama penyebab stunting yakni buruknya asupan gizi sejak periode awal pertumbuhan dan perkembangan janin hingga anak berusia dua tahun, selain itu terdapat beberapa penyebab lain seperti lingkungan yang kotor dan seringnya ibu hamil mengkonsumsi alkohol.

Pada umumnya gizi buruk balita dilatar belakangi status ekonomi keluarga yang rendah, sehingga upaya pemenuhan gizi yang layak pada anak tidak dapat terpenuhi karena terkendala daya beli yang rendah. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya nilai gizi pada anak juga menjadi pemicu meningkatnya gizi buruk yang menyebabkan anak menderita stunting.

Langkah pencegahan dan penanganan stunting perlu adanya sinergitas antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah hingga partisipasi masyarakat, hal ini perlu dilakukan mengingat stunting termasuk masalah yang sangat kompleks yang harus melibatkan berbagai kementrian seperti kementrian sosial maupun perekonomian, jadi tidak hanya menjadi tanggung jawab kementrian kesehatan saja.

Membangun kemandirian keluarga merupakan langkah efektif sebagai cara mencegah stunting pada anak dan masalah kesehatan lainnya termasuk gizi buruk. Ada beberapa kriteria keluarga mandiri yang bisa dijadikan acuan tingkat kemandirian keluarga dalam bidang kesehatan

1. Menerima petugas perawatan kesehatan
2. Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan
3. Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar
4. Melakukan perawatan kesehatan sederhana sesuai yang dianjurkan
5. Memanfaatkan fasilitas kesehatan secara aktif
6. Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif
7. Melaksanakan tindakan promotif secara aktif

Puskesmas sebagai unit kesehatan fungsional harus bisa menjadi pusat penyadaran dan pengembangan masyarakat terkait kesehatan, penyuluhan akan pentingnya gizi bagi anak harus dilakukan secara berkelanjutan agar terhindar dari masalah stunting.

Ada 3 langkah sederhana untuk mencegah stunting pada anak

  • Memberikan asupan nutrisi yang baik pada ibu hamil dan menyusui
  • Memberikan asupan gizi yang baik pada anak serta ASI esklusif pada bayi hingga usia 6 bulan
  • Pola hidup sehat dan bersih seperti tidak mengkonsumsi alkohol, membiasakan cuci tangan pakai sabun serta menjaga lingkungan dan sanitasi yang bersih

Jika 3 langkah sederhana diatas dilakukan secara konsisten dan kemandirian keluarga tercipta maka masalah stunting pada anak dapat teratasi sesuai dengan cita-cita dan harapan peringatan hari gizi nasional 2018.

Sumber

Lukisan : Kakak dan Adik (Basuki Abdullah – 1971)

detail_alyn1Y4JPq_adik_kakak_bigjpg

Title : “Kakak dan Adik”

Artist : Basuki Abdullah

Year : 1971

Cat minyak pada kanvas.

ukuran : 65 x 79 cm.

Lukisan Basuki Abdullah yang berjudul “Kakak dan Adik” (1978) ini merupakan salah satu karyanya yang menunjukkan kekuatan penguasaan teknik realis. Dengan pencahayaan dari samping, figur kakak dan adik yang dalam gendongan terasa mengandung ritme drama kehidupan. Dengan penguasaan proporsi dan anatomi, pelukis ini menggambarkan gerak tubuh mereka yang mengalunkan perjalanan sunyi. Suasana itu, seperti ekspresi wajah mereka yang jernih tetapi matanya menatap kosong. Apabila dengan pakaian mereka yang bersahaja dan berwarna gelap, sosok kakak beradik ini dalam selubung keharuan. Dari berbagai fakta tekstur ini, Basuki Abdullah ingin mengungkapkan empatinya pada kasih sayang dan kemanusiaan.

Namun demikian, spirit keharuan kemanusian dalam lukisan ini tetap dalam bingkai Romantisisime. Oleh karena itu, figur kakak beradik lebih hadir sebagai idealisasi dunia utuh atau bahkan manis, daripada ketajaman  realitas kemanusiaan yang menyakitkan. Pilihan konsep estetis yang demikian dapat dikonfirmasikan pada semua karya Basuki Abdullah yang lain. Dari berbagai mitologi, sosok-sosok tubuh yang telanjang, sosok binatang, potret-potret orang terkenal, ataupun hamparan pemandangan, walaupun dibangun dengan dramatisasi namun semua hadir sebagai dunia ideal yang cantik dengan penuh warna dan cahaya.

Berkaitan dengan konsep estetik tersebut, Basuki Abdullah pernah mendapat kritikan tajam dari S. Sudjojono. Lukisan Basuki Abdullah dikatakan sarat dengan semangat Mooi Indie yang hanya berurusan dengan kecantikan dan keindahan saja. Padahal pada masa itu, bangsa Indonesia sedang menghadapi penjajahan, sehingga realitas kehidupannya sangat pahit, kedua pelukis itu sebenarnya memang mempunyai pandangan estetik yang berbeda, sehingga melahirkan cara pandang/pengungkapan yang berlainan. Dalam kenyataannya estetika Basuki Abdullah yang didukung kemampuan teknik akademis yang tinggi tetap menempatkannya sebagai pelukis besar. Hal itu terbukti dari berbagai penghargaan yang diperoleh, juga didukung dari masyarakat bawah sampai kelompok elite di istana, dan juga kemampuan bertahan karya-karyanya eksis menembus berbagai masa.

Sumber

The Arrest of Pangeran Diponegoro

350px-Raden_Saleh_-_Diponegoro_arrest

Prince Diponegoro stands, defiant, in front of Lieutenant General Hendrik Merkus de Kock in front of the colonial officer’s mansion. He wears a green turban, white tabard over pantaloons, and a jacket; around his waist is a golden belt, to which prayer beads are attached, and over his shoulder is a shawl. He appears to be struggling to control his anger – as would be expected from Javanese gentry – while the Europeans’ eyes are static and avoid the eyes of others.

De Kock, the captor, stands to Diponegoro’s left, at the same level as the guerrilla. Further to the left are various Dutch officers, identified by the historian and Diponegoro biographer Peter Carey as Colonel Louis du Perr, Lieutenant-Colonel W.A. Roest, and Major-Adjutant Francois Victor Henri Antoine Ridder de Stuer. To the prince’s right stands a Javanese man identified by Carey as Diponegoro’s son, Diponegoro the Younger, followed by Resident of Kedu Franciscus Gerardus Valck, Major Johan Jacob Perié, and Captain Johan Jacob Roeps. At Diponegoro’s feet, a woman – possibly his wife Raden Ayu Rětnaningsih – reaches out to grab him.

The view from the northeast shows a still morning scene, with no wind blowing, and centered around Diponegoro.Saleh gives the painting depth of field, showing the soldiers closest to the front in crisp detail, while blurring the details of those in the back rows. The heads of the Dutchmen depicted appear to be slightly too large for their bodies, while those of the Javanese soldiers are of proper proportions. The painter, Raden Saleh, inserted himself into the painting twice: as a soldier bowing to the captured leader, and as a soldier facing the viewer.

Sumber

 

Nus Salomo Sajikan ‘Anggrek Liar’ Lewat Digital Art

Nus Salomo

Trienal Seni Patung Indonesia yang digagas dan diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia selalu memberikan sajian menarik bagi publik. Karya-karya patung hasil olah artistik para pematung kenamaan berkumpul membalut satu kesatuan tema yang berbeda dalam setiap penyelenggaraannya.

Sudah kali ketiga, Trienal Seni Patung Indonesia dihelat. Pertama 2011, kemudian 2014, dan sekarang 2017. Dalam ketiga penyelenggaraan tersebut, beberapa nama tampak ajeg berpartisipasi. Satu diantara dari yang tak pernah absen, muncul nama Nus Salomo.

Perupa kelahiran Sumatera Utara, 9 Mei 1967 ini menampilkan karya King Cutter (2009) dalam Trienal Patung yang pertama, “EKSPANSI”. Kemudian di Trienal Patung yang kedua “VERSI”, ia memampang sayap raksasa berjudul Come Fly With Me (2014). Masih lekat dalam ingatan, sayap ini nyatanya begitu fenomenal, karena menjadi salah satu spot favorit bagi pengunjung. Bahkan hingga pameran usai dan telah berganti tahun, diakui pihak Galeri Nasional Indonesia bahwa masih banyak pengunjung dan media massa yang mencari sosok sayap berukuran besar tersebut.

Menyambung antusiasme masyarakat terhadap karyanya, kali ini Trienal Seni Patung Indonesia #3 “SKALA”, Nus kembali menghadirkan ‘kejutan’. Ia menggabungkan seni patung dengan kemajuan teknologi dalam karyanya, Savage Orchid.

Dibuat pada 2017, dengan ukuran 100 x 90 x 50 sentimeter dan diameter 150 sentimeter, Savage Orchid berbahan carbon fibre ini bukan hanya hasil sentuhan tangan saja, melainkan dibuat dengan teknologi cetak tiga dimensi atau printer 3D. Menurut Nus, karya ini menggunakan teknik digital art dengan software khusus dan stylus pen. “Digital art yang saya pakai memperlihatkan bahwa karya seni patung dapat menggunakan teknologi digital” paparnya. Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, Nus berharap banyak hasil karya seni patung yang lahir dengan sentuhan teknologi, seperti karyanya Savage Orchid yang masih bertautan dengan karya Nus lainnya yaitu seri Dream of My Mother.

Dari segi gagasan, Savage Orchid menguak sisi lembut dari seorang Nus Salomo. Didominasi warna perak, bentuk visual karya ini menyerupai tengkorak kepala manusia. Uniknya bagian mata tengkorak masih lengkap dengan kelopak dan bola mata. Pada bagian belakang tengkorak ada semacam hiasan menyerupai bunga anggrek.

Menyoal bunga anggrek, hal itu membangkitkan ingatan Nus akan ibundanya. Ia mengisahkan Savage Orchid merupakan ungkapan dari mimpi dan angan-angan pribadi ibunda Nus. Di dalam mimpi-mimpinya sang ibu selalu mempunyai tokoh utama, yaitu bunga anggrek sebagai benda favorit. Dari bunga anggrek itu, putik bunga yang berbentuk seperti tengkorak menjadi bagian yang sangat menarik perhatian Nus. Alhasil, ia kemudian menuangkan mimpi ibundanya menjadi suatu karya seni yang artistik, Savage Orchid.

Sumber