LA ALFABETA ANNIVERSARY CELEBRATION🎈Mother’s Day Coloring Contest

fix fix(1)

🎈LA ALFABETA ANNIVERSARY CELEBRATION🎈Mother’s Day Coloring Contest🎈
🔑Tema : Hari Ibu
🔑Media mewarnai : kertas A4
🔑Alat mewarnai : bebas
🔑Penilaian : creative 2d/3d art, boleh di padu dengan art-craft seperti origami, glitter, dll
🔑Kategori:
A : 4-6th
B : 7-9th
🔑 Registrasi :
🌟25.000 untuk murid La Alfabeta & Serenata PMC
🌟30.000 untuk umum
🔑 Hasil karya harus buatan sendiri tanpa dibantu orang tua atau teacher (hanya boleh diarahkan)
🔑 Gambar untuk mewarnai disediakan (bisa dikirim softcopy via email)
🔑Pengumpulan paling lambat tanggal 31 Desember 2017
🔑Pengumuman pemenang tanggal 13 Januari 2017
🔑Pendaftaran dapat langsung menghubungi customer service di 0812-8928-3667 (Kak Zakia) melalui whatsapp dengan format :
“La Alfabeta Coloring Contest”
🌟Nama
🌟Usia (sebelum tanggal 1 Desember)
🌟Email (jika materi mewarnai dikirim via email)
🌟No. Tlp
🌟Alamat
🔑Hadiah :
🌟Trophy, Sertifikat, Goodie Bag, Voucher untuk Winner dan Runner Up
🌟Voucher untuk seluruh peserta

Info lebih lanjut :
0812-8928-3667 (Kak Zakia)
Ig : @laalfabeta

Kunjungi :

LA ALFABETA STUDIO
Cibubur Residence Blok B8/29, Jl. Alternatif Cibubur Cileungsi km 2, Bekasi 17433

http://www.laalfabeta.com

Advertisements

The Arrest of Pangeran Diponegoro

350px-Raden_Saleh_-_Diponegoro_arrest

Prince Diponegoro stands, defiant, in front of Lieutenant General Hendrik Merkus de Kock in front of the colonial officer’s mansion. He wears a green turban, white tabard over pantaloons, and a jacket; around his waist is a golden belt, to which prayer beads are attached, and over his shoulder is a shawl. He appears to be struggling to control his anger – as would be expected from Javanese gentry – while the Europeans’ eyes are static and avoid the eyes of others.

De Kock, the captor, stands to Diponegoro’s left, at the same level as the guerrilla. Further to the left are various Dutch officers, identified by the historian and Diponegoro biographer Peter Carey as Colonel Louis du Perr, Lieutenant-Colonel W.A. Roest, and Major-Adjutant Francois Victor Henri Antoine Ridder de Stuer. To the prince’s right stands a Javanese man identified by Carey as Diponegoro’s son, Diponegoro the Younger, followed by Resident of Kedu Franciscus Gerardus Valck, Major Johan Jacob Perié, and Captain Johan Jacob Roeps. At Diponegoro’s feet, a woman – possibly his wife Raden Ayu Rětnaningsih – reaches out to grab him.

The view from the northeast shows a still morning scene, with no wind blowing, and centered around Diponegoro.Saleh gives the painting depth of field, showing the soldiers closest to the front in crisp detail, while blurring the details of those in the back rows. The heads of the Dutchmen depicted appear to be slightly too large for their bodies, while those of the Javanese soldiers are of proper proportions. The painter, Raden Saleh, inserted himself into the painting twice: as a soldier bowing to the captured leader, and as a soldier facing the viewer.

Sumber

 

Nus Salomo Sajikan ‘Anggrek Liar’ Lewat Digital Art

Nus Salomo

Trienal Seni Patung Indonesia yang digagas dan diselenggarakan Galeri Nasional Indonesia selalu memberikan sajian menarik bagi publik. Karya-karya patung hasil olah artistik para pematung kenamaan berkumpul membalut satu kesatuan tema yang berbeda dalam setiap penyelenggaraannya.

Sudah kali ketiga, Trienal Seni Patung Indonesia dihelat. Pertama 2011, kemudian 2014, dan sekarang 2017. Dalam ketiga penyelenggaraan tersebut, beberapa nama tampak ajeg berpartisipasi. Satu diantara dari yang tak pernah absen, muncul nama Nus Salomo.

Perupa kelahiran Sumatera Utara, 9 Mei 1967 ini menampilkan karya King Cutter (2009) dalam Trienal Patung yang pertama, “EKSPANSI”. Kemudian di Trienal Patung yang kedua “VERSI”, ia memampang sayap raksasa berjudul Come Fly With Me (2014). Masih lekat dalam ingatan, sayap ini nyatanya begitu fenomenal, karena menjadi salah satu spot favorit bagi pengunjung. Bahkan hingga pameran usai dan telah berganti tahun, diakui pihak Galeri Nasional Indonesia bahwa masih banyak pengunjung dan media massa yang mencari sosok sayap berukuran besar tersebut.

Menyambung antusiasme masyarakat terhadap karyanya, kali ini Trienal Seni Patung Indonesia #3 “SKALA”, Nus kembali menghadirkan ‘kejutan’. Ia menggabungkan seni patung dengan kemajuan teknologi dalam karyanya, Savage Orchid.

Dibuat pada 2017, dengan ukuran 100 x 90 x 50 sentimeter dan diameter 150 sentimeter, Savage Orchid berbahan carbon fibre ini bukan hanya hasil sentuhan tangan saja, melainkan dibuat dengan teknologi cetak tiga dimensi atau printer 3D. Menurut Nus, karya ini menggunakan teknik digital art dengan software khusus dan stylus pen. “Digital art yang saya pakai memperlihatkan bahwa karya seni patung dapat menggunakan teknologi digital” paparnya. Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, Nus berharap banyak hasil karya seni patung yang lahir dengan sentuhan teknologi, seperti karyanya Savage Orchid yang masih bertautan dengan karya Nus lainnya yaitu seri Dream of My Mother.

Dari segi gagasan, Savage Orchid menguak sisi lembut dari seorang Nus Salomo. Didominasi warna perak, bentuk visual karya ini menyerupai tengkorak kepala manusia. Uniknya bagian mata tengkorak masih lengkap dengan kelopak dan bola mata. Pada bagian belakang tengkorak ada semacam hiasan menyerupai bunga anggrek.

Menyoal bunga anggrek, hal itu membangkitkan ingatan Nus akan ibundanya. Ia mengisahkan Savage Orchid merupakan ungkapan dari mimpi dan angan-angan pribadi ibunda Nus. Di dalam mimpi-mimpinya sang ibu selalu mempunyai tokoh utama, yaitu bunga anggrek sebagai benda favorit. Dari bunga anggrek itu, putik bunga yang berbentuk seperti tengkorak menjadi bagian yang sangat menarik perhatian Nus. Alhasil, ia kemudian menuangkan mimpi ibundanya menjadi suatu karya seni yang artistik, Savage Orchid.

Sumber

Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda

Sumpah-Pemuda

Pada tanggal 28 Oktober 1928 malam, di Indonesische Clubgebouw yang penuh sesak, ribuan pemuda mendengar pidato penutupan Kongres Pemuda Indonesia ke-dua dan sekaligus mendengar lantunan lagu “Indonesia Raya” dari biola WR. Soepratman.

Menjelang penutupan, Muhammad Yamin, yang saat itu baru berusia 25 tahun, mengedarkan secarik kertas kepada pimpinan rapat, Soegondo Djojopoespito, lalu diedarkan kepada para peserta rapat yang lain. Siapa sangka, dari tulisan tinta Yamin di secarik kertas itulah tercetus gagasan Sumpah Pemuda.

Sumpah itu lalu dibaca oleh oleh Soegondo, lalu Yamin memberi penjelasan panjang lebar tentang isi rumusannya itu. Pada awalnya, rumusan singkat Yamin itu dinamakan “ikrar pemuda”, lalu diubah oleh Yamin sendiri menjadi “Sumpah Pemuda”. Berikut isi Sumpah Pemuda itu:

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Kongres Pemuda II berlangsung pada 27-28 Oktober dalam tiga tahap rapat. Rapat pertama berlangsung di gedung Katholieke Jongelingen Bond di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng), lalu dipindahkan ke Oost Java Bioscoop di Konigsplein Noord (sekarang Jalan Medan Merdeka Utara), dan kemudian Gedung Kramat 106 baru dipakai untuk rapat ketiga sekaligus penutupan rapat.

Dari rapat pertama hingga rapat ketiga, kongres pemuda II ini menghadirkan 15 pembicara, yang membahas berbagai tema. Diantara pembicara yang dikenal, antara lain: Soegondo Djojopespito, Muhammad Yamin, Siti Sundari, Poernomowoelan, Sarmidi Mangoensarkoro, dan Sunario.

Hadir pula banyak organisasi pemuda dan kepanduan saat itu, diantaranya: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Roekoen, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll.

Kongres Pertama (I) berlangsung pada tahun 1926. Kongres Pertama sudah membahas bahasa persatuan. Mohammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu. Tetapi penamaan “Bahasa Melayu” dikritik oleh salah seorang peserta Kongres, Tabrani Soerjowitjitro. Menurut Tabrani, kalau nusa itu bernama Indonesia, bangsa itu bernama Indonesia, maka bahasa itu harus disebut bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu, walaupun unsur-unsurnya Melayu. Keputusan kongres pertama akhirnya menyatakan bahwa penetapan bahasa persatuan akan diputuskan di kongres kedua.

Seusai kongres pemuda ke-II, sikap pemerintah kolonial biasa saja. Bahkan Van Der Plass, seorang pejabat kolonial untuk urusan negara jajahan, menganggap remeh kongres pemuda itu dan keputusan-keputusannya. Van Der Plass sendiri menertawakan keputusan kongres untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, mengingat bahwa sebagian pembicara dalam kongres itu justru menggunakan bahasa Belanda dan bahasa daerah. Soegondo sendiri, meskipun didaulat sebagai pimpinan sidang dan berusaha mempergunakan bahasa Indonesia, terlihat kesulitan berbahasa Indonesia dengan baik.

Siti Sundari, salah satu pembicara dalam kongres pemuda II itu, masih menggunakan bahasa Belanda. Hanya saja, dua bulan kemudian, sebagaimana ditulis Dr Keith Foulcher, pengajar jurusan Indonesia di Universitas Sydney, Australia, Siti Sundari mulai menggunakan bahasa Indonesia.

Akan tetapi, perkiraan Van Der Plass ternyata meleset. Sejarah telah membuktikan bahwa kongres itu telah menjadi “api” yang mencetuskan persatuan nasional bangsa Indonesia untuk melawan kolonialisme.

Meskipun, seperti dikatakan sejarahwan Asvi Warman Adam yang mengutip pernyataan Profesor Sartono Kartodirdjo, Manifesto Politik yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda pada 1925 jauh lebih fundamental daripada Sumpah Pemuda 1928. Manifesto Politik 1925 berisi prinsip perjuangan, yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan liberty (kemerdekaan). Sedangkan Sumpah Pemuda hanya menonjolkan persatuan

Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antarbangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir,” kata Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta, 28 Oktober 1963.

Sumber

Hari Dokter Nasional

Image result for dokter

Hari Dokter Nasional diperingati sebagai hari disahkannya Ikatan Dokter Nasional pada 24 Oktober 1950 atau biasa dikenal dengan IDI. IDI membawahi semua dokter yang beroperasi di Indonesia dan juga menjadi rekan pemerintah dalam penentuan berbagai kebijakan mengenai kesehatan nasional.

Hari Dokter Nasional ini dapat juga dijadikan barometer kesehatan negeri. Dengan jumlah dokter yang cukup banyak di Indonesia, seharusnya negeri ini dapat terus meningkatkan standar kesehatan warganya. Namun, seringkali upaya dan ketulusan para dokter-dokter ini yang terhambat justru karena hal lain seperti politisasi dari pihak lain, yang menjadi tuntutan yang masih sering dilayangkan IDI kepada pemerintah. Yaitu untuk membebaskan lapangan kesehatan dari politisasi dalam pelayanan kesehatan.

Profesi dokter adalah profesi yang mulia dan tentunya sangat dibutuhkan masyarakat dari waktu ke waktu, mengikuti perkembangan zaman, berbagai penyakit dan ancaman bagi kesehatan kita terus juga berkembang, oleh karenanya profesi dokter juga terus berkembang mengikuti perkembangannya.

Di Hari Dokter Nasional ini, marilah berikan penghargaan kepada para dokter yang sudah menolong kita sejak kita kecil dan hanya butuh imunisasi hingga dewasa seperti sekarang dengan keluhan yang beragam. Untuk semua dokter di seluruh wilayah Indonesia, selamat Hari Dokter Nasional dan semoga dapat terus mengembangkan ilmunya di bidang medis dan terus bersikap etis serta profesional!

Sumber

Les Menggambar dan Melukis

ART FLYER 2017

Hai papa mama…

 

Si kakak masih playgroup atau TK tapi sudah kelihatan bakat mewarnai?

 

Si adek suka corat coret tembok? Mungkin memang suka seni, harus di arahkan dong bakatnya…

 

Kegiatannya tidak hanya mewarnai/menggambar dan melukis biasa lho…

 

namun bisa sekalian 3D Art-Craft menggunakan origami, hand printing, pop up craft, dan masih banyak lagi ide seru lainnya

 

Daripada repot keluar rumah, macet, panas, jam ngga fleksibel, lebih baik teacher datang ke rumah… Suasana lebih cozy karena di rumah sendiri, jam bisa diatur sehingga tidak mengganggu jam bobo siang dan tidak bertabrakan dengan les lainnya…

 

Ayo cek kelebihan kami:

 

Teacher datang ke rumah, tidak perlu repot keluar macet, hujan dan panas

 

Disc 50% biaya pendaftaran

 

Harga yang terjangkau dengan berbagai promo yang sedang berlangsung

 

Waktu lebih fleksibel karena bisa mengatur jadwal langsung dengan teacher

 

Teacher ramah dan penjelasan mudah dimengerti

 

Teacher yang berkualitas dan berpendidikan di bidangnya

 

Hari libur atau tanggal merah tetap diganti

 

Sabtu dan minggu tetap ada jadwal les

 

Contact Us !

CUSTOMER SERVICE LA ALFABETA ART

0812 8928 3667

Kunjungi official website kami di :

http://www.laalfabeta.com

laalfabeta@gmail.com

 

facebook.com/laalfabeta.course

Sejarah 5 Oktober Jadi HUT TNI

ae870e7b-99ec-4cc8-a47e-607867434456_169

Hari jadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) diperingati setiap tanggal 5 Oktober. Tanggal ini memiliki sejarah panjang di awal masa kemerdekaan.

Sebelum kemerdekaan, ada nama Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) dan juga Pembela Tanah Air (PETA). KNIL merupakan tentara kerajaan Hindia-Belanda yang dibentuk ketika Perang Diponegoro berlangsung. Sementara PETA dibentuk pemerintahan Jepang yang dibentuk untuk melawan tentara sekutu pada tahun 1943.

Pada 14 Februari 1945, Komandan Pleton (Sodancho) PETA Supriyadi (Soeprijadi) memimpin pemberontakan untuk melawan tentara Jepang di Blitar. Supriyadi sempat meminta pendapat Sukarno sebelum melakukan pemberontakan.

“Apa yang tidak diketahui orang sampai sekarang ialah bahwa Sukarno sendiri tersangkut dalam pemberontakan ini. Bagi orang Jepang, maka pemberontakan PETA merupakan suatu peristiwa yang tidak diduga sama sekali. Akan tetapi bagi Sukarno tidak. Aku telah mengetahui sebelumnya. Ingatlah bahwa rumahku di Blitar,” kata Sukarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams.

Sukarno kala itu merupakan pemimpin dari Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Namun waktu itu Sukarno meminta Supriyadi dkk untuk mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi. Tetapi Supriyadi tetap memimpin pemberontakan yang berujung pada penangkapan sejumlah pimpinan PETA oleh tentara Jepang.

Supriyadi menghilang setelah pemberontakan itu. Hingga kini nasib Supriyadi masih menjadi misteri.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 23 Agustus 1945. Setelah itu secara bertahap dibentuklah BKR Darat, BKR Laut, dan BKR Udara.

BKR memiliki kepengurusan di pusat dan sejumlah daerah. Tetapi ada pula daerah yang menolak dibentuk BKR dan akhirnya membuat lembaga serupa dengan penamaan sendiri.

Akhirnya pada 5 Oktober 1945, Maklumat Pemerintah mengubah BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang juga memasukkan para mantan anggota PETA. BKR Darat, Laut, dan Udara secara bertahap juga menyesuaikan penamannya.

Nama TKR sempat diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Tetapi kemudian mengalami perubahan lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tahun 1946.

Presiden Sukarno kemudian mengubah lagi nama TRI menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 3 Juni 1947. TNI merupakan gabungan dari TRI dan tentara elemen-elemen rakyat lainnya.

Jenderal Soedirman kemudian ditunjuk menjadi Panglima Besar pertama TNI. Meski nama TNI baru diberikan pada tanggal 3 Juni 1947, namun hari lahir kesatuan tersebut tetap diperingati setiap 5 Oktober.

Sumber