Lukisan : Perahu (Zaini – 1974

Title : “Perahu”

Artist : Zaini

Year : 1974

Cat minyak pada kanvas.

Ukuran : 65 x 80 cm.

Dalam lukisan ini, Zaini melukiskan perahu dengan abstraksi yang menghadirkan suasana puitik. Dengan sapuan-sapuan kuas yang menciptakan suasana lembut, warna dan garis dalam lukisan Zaini ternyata memunculkan objek-objek dalam kekuburan. Dengan lukisan-lukisan bernuansa lembut itulah Zaini sangat kuat menciptakan bahasa abstraksi liris. Personal style yang menjadi ciri khas Zaini itu merupakan hasil perjuangan panjang sejak tahun 1950-an. Lukisan “Perahu” (1974) ini, seperti kekuatan lukisan-lukisannya yang lain yaitu menyampaikan pesan misteri dari kehadiran samar-samar objeknya.

Dalam semangat yang bernafas dengan Oesman Effendi, semenjak di sanggar SIM Yogyakarta karyakarya Zaini telah menuju pada penyederhanaan bentuk-bentuk yang naif. Namun demikian, pada tahun 1949 ia keluar dari SIM karena dalam sanggar semakin kuat pengaruh paradigma estetik “kerakyatan revolusioner” yang berhaluan kiri dan tidak sejalan dengannya. Pada saat itulah ia pindah ke Jakarta dan mulai mengembangkan karyakaryanya dengan media pastel yang menghasilkan garis dan warna lembut.

Dari proses yang panjang, eksplorasi teknik dengan pencarian bentuk lewat goresan spontan dan lembutmenghadirkan objek-objek yang impresif. Objek-objek itu menjadi sosok kabur dengan ekspresi kesunyian yang kuat. Mencermati karyakarya Zaini dalam periode selanjutnya, seperti memasuki dunia yang sarat dengan perenungan spiritual. Di dalamnya mengandung berbagai tanggapan personal tentang kerinduan, kesunyian, kehampaan, bahkan kematian. Objek-objek seperti perahu, bunga, burung mati, atau
apapun, merupakan esensi yang sajikan dari berbagai fenomena dunia luar untuk memahami perenungan spiritual itu. Dalam risalah Trisno Sumardjo (1957), dikatakan bahwa proses dialog spiritual lewat objek-objek sederhana itu menjadi jembatan untuk memahami perenungannya pada dunia kosmosnya yang lebih besar. Puncak pencapaian abstraksi dan spiritualisasi objek-objek itu terjadi pada tahun 1970-an, yaitu ketika ia dengan kuat menghadirkan suasana puitis dalam karya-karyanya. Zaini menjadi penyaring objek-objek yang sangat ekspresif lewat goresan cat minyak dan akrilik, dengan warna lembut seperti kabut.

Sumber

Advertisements

La Alfabeta Art Student

WhatsApp Image 2018-07-12 at 11.03.07

Hallo kakak kakak berikut ini hasil karya gambar dari Caramel, salah satu murid teacher dari La Alfabeta Ka Indah  @indahisdayanti
Keren ya gambar nya^.^.
.
.
Kalian mau jago gambar seperti murid  ka Indah ?

Yuk bergabung di La Alfabeta, untuk info lebih lanjut bisa menghubungi 0812 8928 3667

Lukisan : Salib (Bagong Kussudiardjo – 1974)

Artist : Bagong Kussudiardjo

Year : 1974

Cat minyak pada kanvas.

Ukuran : 100 x 140 cm.

Dalam lukisan Bagong yang berjudul “Salib” (1974) ini, diungkapkan secara deformatif dua sosok figur dalam penyaliban. Dengan gaya eskpresionisme, gestur tubuh-tubuh yang tersalib dibangun lewat spontanitas garis dan warna-warna yang berat. Sebagai latar belakang muncul kontras warna putih dan oranye yang merepresentasikan cahaya dan ruang. Lukisan ini secara keseluruhan menunjukan suatu dinamika gerak, tetapi sekaligus nada yang berat. Penanda visual tersebut mengungkapkan kepekatan hati pelukisnya  dalam menghayati tema yang diungkap.

Bagong Kussudiardjo termasuk salah satu pelukis Yogyakarta yang berada dalam barisan awal ungkapan lirikan personal.  Idiom ini merupakan antitesis terhadap paradigma estetik kerakyatan yang pada masa itu sangat kuat dianut oleh seniman-seniman Yogyakarta, bahkan mengeras dalam faham yang revolusioner. Dengan mengawali obyek-obyek geometrik, kemudian abstraksi dan eskpresionis, ia memuncaki perjalanan gaya itu dalam absttraksi murni. Dalam konteks perkembangan itulah Bagong dapat menemukan jati dirinya antara lain dalam idiom-idiom religius Kristen.

Lukisan ini secara langsung akan membawa imajinasi pada peristiwa penyaliban Yesus. Pesan yang dibawa adalah kemuliaan penderitaan dalam dimensi peristiwa sakral itu. Walaupun bagong mengungkap nilai simbolik yang dalam, namun ia lebih menekankan pada sensibilitas penghayatan personal lewat bahasa abstraksi visualnya. Sensibilitas itu diharapkan bisa menyentuh impuls orang lain dalam penghayatan simbolik penderitaan yang diungkap.

Sumber

Title : “Potret Adolphe Jean Phillipe Hubert Desire Bosch”

Artist : Raden Saleh

Year : 1867

Cat minyak pada kanvas

Ukuran 89,5 x 122,5 cm

Diantara lukisan-lukisannya yang mengungkap pergulatan kehidupan yang dramatik, Raden Saleh juga banyak melukis potret pada Cornelis Kruseman, ia mendapat tugas Pemerintah Belanda melukis potret para gubernur jendral Hindia Belanda, yaitu J.van den Bosch, H.W. Daendeles, dan J.C. Baud. Ketiga lukisan tersebut menjadi penanda yang penting karya – karya potret Raden Saleh. Lukisan Raden Saleh ini mengungkapkan sosok seorang pejabat Belanda yang berdinas di Yogyakarta. Karakter yang ditampilkan merupakan ekspresi ketenangan dan kewibawaan aristokrat kolonial feodal.

Sumber

“Monalisa” Leonardo Da Vinci

300px-Mona_Lisa,_by_Leonardo_da_Vinci,_from_C2RMF_retouched

Nama atau judul lukisan Mona Lisa berasal dari biografi Giorgio Vasari tentang Leonardo da Vinci, yang terbit 31 tahun setelah ia meninggal dunia. Di dalam buku ini disebutkan bahwa wanita dalam lukisan ini adalah Lisa Gherardini.

Mona dalam bahasa Italia adalah singkatan untuk ma donna yang artinya adalah “nyonyaku”. Sehingga judul lukisan artinya adalah Nyonya Lisa. Dalam bahasa Italia biasanya judul lukisan ditulis sebagai Monna Lisa.

Lalu La Gioconda adalah bentuk feminin dari Giocondo. Kata giocondo dalam bahasa Italia artinya adalah “riang” dan la gioconda artinya adalah “wanita riang”. Berkat senyum Mona Lisa yang misterius ini, frasa ini memiliki makna ganda. Begitu pula terjemahannya dalam bahasa Perancis; La Joconde.

Nama Mona Lisa dan La Gioconda atau La Joconde menjadi judul lukisan ini yang diterima secara luas semenjak abad ke-19. Sebelumnya lukisan ini disebut dengan berbagai nama seperti “Wanita dari Firenze” atau “Seorang wanita bangsawan dengan kerudung tipis”.

Sumber

“Dialog”

detail_cWMKxhQ2YP_boyke_aditya_krishna_samudra__bigjpg

Artist : Boyke Aditya K.S

Year : 1991

Akrilik pada kanvas.

Ukuran : 110 x 130 cm.

Suasana fantastis dengan imaji mistis tersirat dalam karya Boyke Aditya K.S. yang berjudul “Dialog” (1991) dalam gaya Surrealisme. Sebuah lanskap dunia imajinatif hadir dengan makhluk-makhluk khayat yang tinggal dengan terjerat dalam sulur-sulur yang membentuk labirin. Sosok merah dalam bentuk transformatif manusia binatang mengulurkan tangan, melakukan dialog dengan figur berwarna hijau yang berdiri menunggang kerbau. Karya ini secara visual menunjukkan idiom yang bersumber dari seni tradisi wayang maupun stilisasi dari berbagai seni tradisi yang lain. Oleh karena itu, sebagai ungkapan Surrealis, karya ini dapat dikatagorikan dalam bentuk Surrealisme biomorphic yang menggunakan idiom-idiom visual stilisasi bentuk bentuk makhluk hidup.

Kecenderungan pada gaya Surrealisme merupakan salah satu periode yang pernah dominan dalam seni lukis Indonesia, khususnya pada pelukispelukis Yogyakarta. Kemunculan kecenderungan ini merupakan kelanjutan dari paradigma estetik humanisme universal yang lebih menekankan pada kebebasan personal dalam mengungkapkan pencarian jati diri seniman. Dalam kecenderungan itu banyak seniman yang melahirkan karya dengan menggali konsep dan tema dari masalah sosiokultural dengan tekanan nilai-nilai lokal dan tradisi. Karya yang dihadirkan Boyke Aditya ini banyak mengungkapkan ironi kehidupan sosial dalam simbol-simbol personal yang digali dari mitos maupun legenda masyarakat Jawa dan lainnya.

Dalam karya ini, pelukis mengungkapkan proses dialog atau problem komunikasi dari suatu dunia imajiner yang bersumber dari kepercayaan gaib, kehidupan spiritual, maupun suatu sistem reliji. Dalam kehidupan kemanusiaan modern ini, tahap kebudayaan mitis di mana pandangan manusia yang masih menyatu dengan alam dan mengidentifikasi problem transendensi sebagai dunia gaib, masih banyak menguasai berbagai praktik kebudayaan. Boyke Aditya yang hidup dalam komunitas kebudayaan Jawa dan Sunda yang masih banyak menganut sistem reliji lokal berupaya mereflesikan berbagai problem simbolik dari nilai kehidupan itu. Suasana fantastis yang diciptakan merupakan refleksi dari keterbatasan manusia memahami berbagai kekuatan transedental.

 

Sumber

“Pencarian Tempat”

detail_oQnkZ4ab0k_i_gusti_nengah_nurata__bigjpg

Title : “Pencarian Tempat”

Artist : I Gusti Nengah Nurata

Year : 1989

Cat minyak pada kanvas.

Ukuran : 97 x 153 cm.

Dalam lukisan “Pencarian Tempat” (1989), I.G. Nengah Nurata menghadirkan kasih perjalanan
spiritual dalam gaya Surrrealisme dekoratif yang sarat dengan imaji. Pada lanskap tanah kering bersela batu-batu karang yang bermutasi sebagai makhluk demonis, di antaranya tumbuh pohon yang meranggas. Seorang Brahmana membawa panji yang berkibar, duduk di atas gajah tunggangannya berjalan diikuti sekawanan binatang yang mengiringinya. Langit gelap dengan sosok kala yang berkamuflase dalam awan-awan cumulo, menatap tajam ke arah rombongan sang Brahmana. Selain itu masih ada buru dan binatang buas yang menghadang. Sebagai latar belakang, diungkapkan dengan dominasi warna coklat umber, sehingga menguatkan kesan magis dalam karya tersebut.

Dalam paradigma estetik humanisme universal, para pelukis Indonesia banyak mengembangkan kecenderungan personal lirisisme, termasuk di dalamnya gaya Surrealisme yang berkembang pesat di Yogyakarta. Surrealisme banyak mencirikan imajinasi yang bersumber dari dunia bawah sadar dengan bebagai problem ironi kehidupan personal maupun sosial sang seniman maupun masyarakat. Kecenderungan gaya ini mengantarkan pelukis dalam penggalian nilai-nilai spiritual dan reliji bagi karya-karyanya. Di dalamnya termasuk nilai-nilai kultural Bali yang sarat dengan kisah dalam kitab suci maupun mitos-mitos, di mana Nurata lahir dan tumbuh dengan segala penghayatannya.

Lukisan ini secara simbolik mengungkapkan sebuah proses pencarian eksitensi jati diri manusia serbagaimana layaknya sang Brahmana pengembara. Gulungan awan kala merupakan representasi hawa jahat yang terung mengintai kemurnian pencarian. Ungkapan penghayatan ini mempunyai dimensi reliji yang hadir dalam dunia simbolik, sebagai penggambaran ruang bawah sadar manusia dalam realitas transendensi yang sebenarnya.

sumber