Valentine’s Theme ” Living Together 2″

valentine lukisan

  • Pelukis : Awan Yozeffani
  • Judul : “Living Together 2”
  • Tahun : 2017
  • Media : Acrylic On Canvas
  • Ukuran : 78.7 H x 59.1 W x 1.6 in

Deskripsi Lukisan Living Together 2

Lukisan ini merupakan lukisan children dengan gaya pop art. Dengan teknik melukis menggunakan akrilik di atas kanvas. Dalam lukisan ini pelukis ini menggambarkan tentang hidup adalah perjuangan yang tidak akan ada batas tujuan.

Makna Tersirat

Dunia anak adalah dunia yang penuh kejutan. Dunia bermain yang kaya akan cetusan-cetusan imajinasi anak dalam bungkus ekspresi yang demikian jujur dan alami serta menakjubkan.

Imajinasi anak memang berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan berbicara. Dan menjadi sarana bagi anak untuk belajar memahami realitas keberadaan dirinya juga lingkungannya.

Imajinasi lahir dari proses mental yang manusiawi. Proses ini mendorong semua kekuatan yang bersifat emosi untuk terlibat dan berperan aktif dalam merangsang pemikiran dan gagasan kreatif, serta memberikan energi pada tindakan kreatif.

Kemampuan imajinatif anak merupakan bagian dari aktivitas otak kanan yang bermanfaat untuk kecerdasannya. Suasana yang rileks dan aman akan memudahkan anak untuk mengembangkan imajinasinya, oleh karena itu penting bagi orangtua untuk memastikan tidak ada benda-benda tajam dan membahayakan dalam ruang bermain anak, di samping suasana kondusif yang telah diciptakan.

Bahwa kehidupan anak-anak adalah kehidupan yang paling surgawi, penuh keberanian, khayalan dan senda gurau. Mata anak-anak bebas dari hukum proporsi, komposisi, prespektif, dan logika, sehingga apa yang mereka visualkan adalah kejutan di mata dewasa.

Sumber

Advertisements

“Pedagang Asongan”

detail_efH77enQtT_hardi_bigjpg

Artist : Hardi

Year : 1988

Cat minyak, akrilik pada kanvas.

Ukuran : 145 x 150 cm.

Dalam lukisan yang berjudul “Pedagang Asongan” (1988) ini, Hardi mengungkapkan sebuah satire simbolis tentang kecemasan anak jalanan. Anakanak pedagang asongan berlari tercerai-berai dikejar sosok benda semacam bola api yang berpijar merah. Di belakangnya menyusul sepotong wajah petugas keamanan dengan senjata yang muncul teracungkan.  Penanda visual dari gerak semua figur mengungkap realitas kekacauan,sedangkan bola api memberi dimensi simbolis pada kecemasan. Suasana itu didukung dengan seting kota yang kering. Lewat warna kontras pada jalanan yang hitam dan  dominan warna kuning, serta gedung-gedung putih dengan latar langit yang biru, maka karakter siang yang terik panas menambah suasana kegalauan. Karya ini dapat dikategorikan dalam gaya ekspresionisme simbolis.

Sumber

Lukisan : Istriku (Dullah – 1953)

Title : “Istriku”

Artist : Dullah

Year : 1953

Cat minyak pada kanvas.

Ukuran : 102 x 83 cm.

Lukisan “Istriku”(1953) ini, merupakan salah satu karya Dullah yang menunjukkan kecenderungan pada keindahan sosok-sosok wanita.

Di samping perhatiannya yang kuat pada humanisme kerakyatan dan nilai-nilai lokal, Dullah memang merupakan pelukis romantis yang juga dengan setia mengabadikan nilai-nilai ideal lewat kecantikan atau juga keindahan alam seperti dalam karya-karyanya.

 

Sumber

Lukisan : Kakak dan Adik (Basuki Abdullah – 1971)

detail_alyn1Y4JPq_adik_kakak_bigjpg

Title : “Kakak dan Adik”

Artist : Basuki Abdullah

Year : 1971

Cat minyak pada kanvas.

ukuran : 65 x 79 cm.

Lukisan Basuki Abdullah yang berjudul “Kakak dan Adik” (1978) ini merupakan salah satu karyanya yang menunjukkan kekuatan penguasaan teknik realis. Dengan pencahayaan dari samping, figur kakak dan adik yang dalam gendongan terasa mengandung ritme drama kehidupan. Dengan penguasaan proporsi dan anatomi, pelukis ini menggambarkan gerak tubuh mereka yang mengalunkan perjalanan sunyi. Suasana itu, seperti ekspresi wajah mereka yang jernih tetapi matanya menatap kosong. Apabila dengan pakaian mereka yang bersahaja dan berwarna gelap, sosok kakak beradik ini dalam selubung keharuan. Dari berbagai fakta tekstur ini, Basuki Abdullah ingin mengungkapkan empatinya pada kasih sayang dan kemanusiaan.

Namun demikian, spirit keharuan kemanusian dalam lukisan ini tetap dalam bingkai Romantisisime. Oleh karena itu, figur kakak beradik lebih hadir sebagai idealisasi dunia utuh atau bahkan manis, daripada ketajaman  realitas kemanusiaan yang menyakitkan. Pilihan konsep estetis yang demikian dapat dikonfirmasikan pada semua karya Basuki Abdullah yang lain. Dari berbagai mitologi, sosok-sosok tubuh yang telanjang, sosok binatang, potret-potret orang terkenal, ataupun hamparan pemandangan, walaupun dibangun dengan dramatisasi namun semua hadir sebagai dunia ideal yang cantik dengan penuh warna dan cahaya.

Berkaitan dengan konsep estetik tersebut, Basuki Abdullah pernah mendapat kritikan tajam dari S. Sudjojono. Lukisan Basuki Abdullah dikatakan sarat dengan semangat Mooi Indie yang hanya berurusan dengan kecantikan dan keindahan saja. Padahal pada masa itu, bangsa Indonesia sedang menghadapi penjajahan, sehingga realitas kehidupannya sangat pahit, kedua pelukis itu sebenarnya memang mempunyai pandangan estetik yang berbeda, sehingga melahirkan cara pandang/pengungkapan yang berlainan. Dalam kenyataannya estetika Basuki Abdullah yang didukung kemampuan teknik akademis yang tinggi tetap menempatkannya sebagai pelukis besar. Hal itu terbukti dari berbagai penghargaan yang diperoleh, juga didukung dari masyarakat bawah sampai kelompok elite di istana, dan juga kemampuan bertahan karya-karyanya eksis menembus berbagai masa.

Sumber