Sejarah 5 Oktober Jadi HUT TNI

ae870e7b-99ec-4cc8-a47e-607867434456_169

Hari jadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) diperingati setiap tanggal 5 Oktober. Tanggal ini memiliki sejarah panjang di awal masa kemerdekaan.

Sebelum kemerdekaan, ada nama Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) dan juga Pembela Tanah Air (PETA). KNIL merupakan tentara kerajaan Hindia-Belanda yang dibentuk ketika Perang Diponegoro berlangsung. Sementara PETA dibentuk pemerintahan Jepang yang dibentuk untuk melawan tentara sekutu pada tahun 1943.

Pada 14 Februari 1945, Komandan Pleton (Sodancho) PETA Supriyadi (Soeprijadi) memimpin pemberontakan untuk melawan tentara Jepang di Blitar. Supriyadi sempat meminta pendapat Sukarno sebelum melakukan pemberontakan.

“Apa yang tidak diketahui orang sampai sekarang ialah bahwa Sukarno sendiri tersangkut dalam pemberontakan ini. Bagi orang Jepang, maka pemberontakan PETA merupakan suatu peristiwa yang tidak diduga sama sekali. Akan tetapi bagi Sukarno tidak. Aku telah mengetahui sebelumnya. Ingatlah bahwa rumahku di Blitar,” kata Sukarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams.

Sukarno kala itu merupakan pemimpin dari Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Namun waktu itu Sukarno meminta Supriyadi dkk untuk mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi. Tetapi Supriyadi tetap memimpin pemberontakan yang berujung pada penangkapan sejumlah pimpinan PETA oleh tentara Jepang.

Supriyadi menghilang setelah pemberontakan itu. Hingga kini nasib Supriyadi masih menjadi misteri.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 23 Agustus 1945. Setelah itu secara bertahap dibentuklah BKR Darat, BKR Laut, dan BKR Udara.

BKR memiliki kepengurusan di pusat dan sejumlah daerah. Tetapi ada pula daerah yang menolak dibentuk BKR dan akhirnya membuat lembaga serupa dengan penamaan sendiri.

Akhirnya pada 5 Oktober 1945, Maklumat Pemerintah mengubah BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang juga memasukkan para mantan anggota PETA. BKR Darat, Laut, dan Udara secara bertahap juga menyesuaikan penamannya.

Nama TKR sempat diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Tetapi kemudian mengalami perubahan lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tahun 1946.

Presiden Sukarno kemudian mengubah lagi nama TRI menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 3 Juni 1947. TNI merupakan gabungan dari TRI dan tentara elemen-elemen rakyat lainnya.

Jenderal Soedirman kemudian ditunjuk menjadi Panglima Besar pertama TNI. Meski nama TNI baru diberikan pada tanggal 3 Juni 1947, namun hari lahir kesatuan tersebut tetap diperingati setiap 5 Oktober.

Sumber

 

Advertisements

Tradisi Unik Perayaan Tahun Baru Islam di Beberapa Daerah di Indonesia

Pergantian tahun dalam penanggalan bulan memang berbeda dengan penanggalan matahari. Sebenarnya dalam tradisi Islam, agama yang menggunakan penanggalan bulan, tidak ada ajaran khusus dalam menyambut pergantian tahun tersebut, selain berupa doa. Nah, adapun di Indonesia sendiri, akibat dari proses asimilasi panjang, dikenal beberapa kegiatan unik untuk merayakan tahun baru Islam tersebut. Yuks kita simak tradisi-tradisi unik perayaan 1 muharam di Indonesia.
1. Kungkum
Tradisi ini dilakukan dengan cara berendam di sungai selama malam 1 suro atau 1 Muharam. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk menyucikan kotoran rohani dan jasmani. Jawa Tengah menjadi pusat pelaksanaan tradisi ini. Salah satu lokasi pelaksanaan tradisi Kungkum adalah di jembatan Sungai Tugu Soeharto, Semarang.

2. Ruwatan
Ritual ini dilakukan dengan tujuan untuk membuang kesialan diri. Pelaksaannya bisa dengan nanggap wayang ataupun ritual lainnya untuk membuka aura diri. Ruwatan dikenal hampir di seluruh jawa. Selain itu ruwatan juga terkadang melibatkan unsur-unsur magis seperti penanaman kepala kerbau sebagai upaya tolak bala.
3. Mubeng Benteng
Tahun ini, prosesi Mubeng Benteng akan diselenggarakan pada tanggal 21 September oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta. Pada upacara ini benda-benda pusaka diarak mengelilingi benteng kraton. Para peserta ritual dilarang untuk berbicara dan memakai alas kaki. Bagi yang pengen lihat buruan ke Yogya saat ini juga, hehe.
4. Tirakatan
Tirakatan ini bisa disebut juga dengan selamatan. Tradisi ini masih banyak dijalankan oleh penganut kejawen di pedesaan.
5.Tabot dan Tabuik
Tabot adalah perayaan tahunan yang selenggarakan selama 1-10 Muharam di Bengkulu, sedangkan Tabuik adalah ritual yang hampir mirip, tetapi diselenggarakan di Pariaman Sumatera Barat. Tradisi ini di bawa pertama kali oleh kaum islam Madras India Benggali untuk memperingati kematian Husein cucu Muhammad.

6. Kirab Muharam
Ritual ini dilakukan oleh Keraton Surakarta. Ada yang unik dari tradisi ini, yaitu kehadiran kerbau bule atau kerbau putih milik Kiai Slamet. Kebo Bule merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Uniknya lagi orang-orang yang mengikuti prosesi ini akan berebutan untuk menyentuh tubuh sang kerbau, bahkan jika sang kerbau buang kotoran maka kotorannya pun akan diperebutkan oleh warga. Mereka percaya bahwa hal itu cara untuk mencari berkah Kiai Slamet.

7. Ngadulag
Ngadulag adalah salah satu acara yang sengaja diselenggarakan oleh pemerintah Sukabumi, Jawa Barat untuk merayakan tahun baru islam. Kegiatan ini berupa perlombaan menabuh bedug.

Potret Seniman Muda Indonesia

art-is-not-always-high-low

Seni semakin dekat dengan anak muda! Pasalnya, dulu bisa dibilang ruang pameran itu hanya mau memampang karya-karya dari para seniman besar. Kini, dengan semakin banyaknya komunitas, ruang alternatif untuk pameran dan kegiatan kolektif di bidang seni. Artinya para seniman muda pun boleh ikutan unjuk gigi.
Karya-karya mereka juga tak kalah bagusnya, tak hanya dari segi teknis pengerjaan tapi juga makna dibalik karya mereka. Ada yang berkreasi dengan mainan, budaya sebuah negeri, hingga mural jalanan

Berikut adalah beberapa nama dari banyak seniman muda indonesia yang berbakat:

Natasha Gabriella Tontey

Natasha Gabriella Tontey Lulusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Pelita Harapan ini tengah ikut berpartisipasi pada beberapa pameran kolektif yang digelar di Jakarta. Seperti pameran ‘Pelicin’ di Jakarta Biennale, ‘Begadang Neng?’ dan masih banyak lagi. Dalam perjalanan karyanya bisa dibilang ia sangat suka bereksperiman dengan kisah masa kecil.
Tak heran, lelehan boneka plastik, potongan bagian boneka, uang-uangan, mainan plastik seringkali menjadi bagian dari instalasi karya seninya. “Saya mencoba membawa seni dengan hal-hal yang paling dekat dengan saya, misalnya masa kecil saya,” ujarnya, untuk melihat karya lain dari Natasha bisa ke karya lain

Andi RHARHARHA

jpg (2).jpg

Andi RHARHARHA adalah salah satu seniman yang gemar mengeksplorasi dunia seni jalanan. Alasannya agar karyanya bisa langsung berhadapan dengan publik. Ia memilih lakban sebagai media pada karyanya.
Jebolan seni rupa Institut Kesenian Jakarta ini juga aktif untuk melakukan kampanye sosial lewat seni yang ia geluti. Tahun 2013 ini, ia mengikuti beberapa pameran bersama komunitasnya, Indonesian Street Art Database (ISAD).
“Ini adalah gagasan tentang kreatifitas sosial yang dikembangkan di ruang-ruang kota. Street art sebenarnya punya strateginya sendiri, dia sebagai kontrol sosial, juga sebagai counter-culture,” jelasnya. “Street art punya peran penting untuk mengkritik.”

Popo

Popo , yang memiliki nama asli Ryan ini bisa dibilang sebagai seniman jalanan yang muralnya cukup tersebar menghiasi wajah Jakarta. Ryan mulai menggunakan nama dan ikon karakter Popo sejak tahun 2000.

Sosok Popo juga sudah dipamerkan di manca negara. Mulai dari Berlin Street Art, Berlin dan acara Nite Festival, di Singapore Art Museum. Seniman jalanan ini juga mengaku terinspirasi dari karya Banksy. Menurut Popo, seni jalanan berakar dari kehidupan sosial manusia sendiri. “Dimana ada kehidupan si kaya dan si miskin, si pintar dan si bodoh, si baik dan si jahat, si salah dan si benar,” jelasnya.

Saleh Husein

Saleh Husein Seniman dan musisi dengan nama lengkap Saleh bin Husein bin Saleh bin Ali Mahfud ikut berpartisipasi dalam perhelatan Jakarta Biennale 2013. Pada acara tersebut Saleh mempresentasikan karya berjudul ‘Arabian Party’.
Ilustrasi yang ia buat terpecah-pecah pada banyak sekitar 100 frame ini, merupakan hasil pencariannya mengenai identitas Arab dan aktivitas politik dari warga keturunan Arab sepanjang 1930 hingga 1940 di Indonesia.

Julia Sarisetiati

Julia Sarisetiati Seniman yang akrab dipanggil Sari turut memampang karyanya di perhelatan Jakarta Biennale 2013. Pada dasarnya ia merasa prihatin akan corak kehidupan ibukota yang kian melanggar nalar.
Ia mengumpulkan empat mahasiswa ilmu sosial untuk berdiskusi tentang kehidupan sekitar. Direkam dan tayangan dipampang dalam pameran di Jakarta Biennale. Disini ia coba menawarkan seni sebagai jalan keluar warga dari mekanisme yang terjadi. Ia menuliskan bahwa lewat seni, warga bisa kembali

Bujangan Urban

blogger-image-1377962556.jpg

Rizki Aditya Nugroho atau dikenal dengan nama alias Bujangan Urban ini merupakan salah satu seniman jalanan lulusan Desain Komunikasi Visual di Interstudi. Tahun ini ia terpilih jadi salah satu seniman yang melakukan residensi di Galeri Nasional Indonesia.
Selain itu, Bujangan Urban juga turut menyemarakan Jakarta Biennale 2013 dengan karya grafitinya di tembok depan Wisma BNI 46

Itulah beberapa nama dari sekian banyak seniman muda indonesia yang berbakat, Selamat Hari Sumpah Pemuda

sumber

5 Dokter dan Tenaga Kesehatan Indonesia yang Bekerja di Daerah Konflik dan Bencana

Berita-berita tentang peperangan dan wabah penyakit yang melanda seisi dunia belakangan ini sukses membuatmu tidak tenang. Setiap nonton TV atau baca surat kabar, kamu mengetahui bahwa di belahan lain bumi yang sedang kamu tinggali, ada orang-orang yang baru saja kehilangan keluarga dan masa depan. Sementara kamu masih sempat mengeluh dengan segala kekurangan, padahal saat malam tidurmu aman dan nyaman.

Memang tidak mudah meninggalkan kenyamanan untuk berjuang demi hidup orang lain, apalagi ketika risiko bahayanya tinggi sekali. Tapi 5 field worker di bidang kesehatan ini berani mendobrak batas dengan mendedikasikan diri untuk membantu masyarakat di daerah konflik dan bencana di berbagai negara. Kisah mereka akan membuatmu kembali percaya, masih banyak orang baik di dunia.

1. Husni Mubarak, dokter dari Makassar yang memberikan pelayanan medis bagimasyarakat di daerah krisis dari Pakistan sampai pedalaman Afrika

hipwee-1-husni-750x450.jpg

Gemerlap kota bukanlah tempat bagi dokter muda. Ia tak menawarkan masa depan. Masa depan kami tertimbun di redup kota-kota kecil, desa-desa pelosok dan pulau-pulau terluar negeri ini. – Husni Mubarak

Saat ikut turun langsung dalam penanganan korban tsunami Aceh di tahun 2009, Husni berkenalan dengan Dokter Lintas Batas, kemudian memutuskan untuk bergabung sebagai staf lapangan. Berbekal ilmu kedokteran dari Universitas Hasanuddin – Makassar, Husni Mubarak telah melanglang buana ke berbagai negara yang dilanda krisis. Bersama MSF, ia telah jelajahi mulai dari Malawi, Sierra Leone, Pakistan, dan juga beberapa daerah di tanah air seperti Aceh, Makassar, dan Buton sebagai dokter PTT ataupun relawan dengan organisasi lain. Kini, dia bertugas di Sudan Selatan, sebuah negara muda yang tengah mengalami konflik dan menyebabkan penderitaan bagi penduduknya.

Dulunya, Husni tidak pernah membayangkan akan tinggal di tempat yang terisolasi dari peradaban dan bekerja di kemah para pengungsi. Husni bercerita, selama di Sudan Selatan hal yang paling menantang baginya adalah membagi waktu. Pasien berdatangan siang dan malam, ketika situasi damai maupun konflik, di musim hujan maupun kemarau. Karenanya sebagai dokter, ia harus siap sedia. Perihal kesehatan pasien lebih utama daripada keinginan pribadi untuk menikmati waktunya sendiri.

Di tempat seperti itu, bagi Husni, sebuah senyuman hangat dan ucapan terima kasih adalah bayaran tertinggi yang ia dapat dari pasien. Pengalamannya selama bertugas membuatnya belajar untuk lebih menghargai hidup, serta mensyukuri setiap kebahagiaan kecil yang sering luput dari perhatiannya.

2. Rangi Wirantika Sudrajat, melampaui rasa takut menjejakkan kaki di Pakistan dan Yaman demi sebuah cita-cita mulia

 

 

 

 

 

hipwee-MSF-rangi.jpg

You have made choices that are very different from mine, and it s scary. Any mother who watches her child do something she hasn t done herself, it s scary. But that doesn t mean I haven t been proud of you. And the more I see you in this world, in this work, the prouder I am. – Rangi’s Mother 

Siapa yang tidak takut pindah ke tempat baru yang penuh dengan ketidakpastian? Apalagi tempat tersebut dikenal bukan dengan keindahan alamnya, tapi karena sering diberitakan dengan konflik berkepanjangan. Kebanyakan orang mungkin akan berpikir ulang. Kebanyakan orangtua pun wajar jika langsung melarang.

Namun panggilan hati Rangi Wirantika Sudrajat justru menuntunnya untuk menjelajahi tempat-tempat jauh lagi. Sebagai dokter lulusan Universitas Trisakti, Rani mengawali tugas dengan MSF di Pakistan dan terjun dalam penanganan Neonatal Care Unit dan Pediatric Unit atau unit untuk bayi baru lahir dan anak-anak. Setelah penugasan di Pakistan, Rangi melanjutkan tugasnya di Yaman. Di sana, ia mengelola emergency roomuntuk pasien darurat, serta memberikan pelatihan dan pendidikan kesehatan bagi masyarakat sekitar. Rangi adalah sosok dokter muda yang pantang menyerah, ia mampu merefleksikan semangat berjuang untuk kemanusiaan.

3. Setelah melewati wabah kolera dan perang di Sudan Selatan, Ivan Sinaga mengerti bahwa kenyamanan bukan hal yang bisa semua orang dapatkan

hipwee-msf-ivan-750x499

Hidup di Indonesia itu relatif nyaman dan kita sangat beruntung, – kata Ivan dari Sudan Selatan sana.

Tersesat di jalan yang benar. Ungkapan itu pas untuk menggambarkan kenapa Ivan, lulusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, memutuskan untuk mendalami ilmu manajemen air dan sanitasi di konteks kedaruratan. Pendaki gunung yang gemar fotografi ini mulai merambah dunia pekerja kemanusiaan sejak gempa Yogya bersama Federasi Palang Merah Internasional (IFRC). Ivan sudah malang melintang bekerja sebagai water sanitation specialist di berbagai organisasi di dalam maupun luar negeri.

Ivan bergabung dengan tim Dokter Lintas Batas karena ia merasa latar belakang akademisnya mendukung apa yang akan ia kerjakan di lapangan. Selain itu, ia memang gemar traveling dan menjelajahi sudut bumi yang belum ia kunjungi. Selama masa penugasannya, Ivan telah membantu penanganan gelombang pengungsi di Serbia dan Sudan Selatan. Memang tak semudah kedengarannya, di sana Ivan harus bergelut dengan berbagai kondisi yang menegangkan. Mulai dari harus menghadapi wabah kolera, sampai terjebak di tengah perang Juba pernah ia alami.

Pengalaman barunya menyadarkan Ivan bahwa banyak orang-orang di luar sana yang bahkan tidak bisa tidur dengan nyaman karena sewaktu-waktu nyawa bisa terancam. Oleh karenanya, kamu yang sehari-hari bisa hidup dengan akses kesehatan yang memadai, serta tak pernah mengalami kehilangan orang terdekat karena perang, layaknya bersyukur dengan apa yang kamu dapatkan.

4. Lukman Hakim Bauty, menuruti panggilan hati bekerja untuk kemanusiaan di Sudan Selatan, Pakistan, dan juga Yaman

hipwee-msf-lukman-750x422

Sering kali kita merasa kurang beruntung dan merasa hidup ini sangat berat tetapi pengalaman ini membuka mata saya lebar-lebar. Pengalaman ini memperlihatkan betapa banyak orang yg hidup dengan penuh kekurangan tetapi mereka menjalani hidup dengan penuh kebanggaan.Ungkap Lukman dari Abs, Yaman.

Lukman tidak bisa duduk diam melihat banyak orang–bukan cuma di Indonesia tetapi juga di negara lain–yang sulit mengakses fasilitas kesehatan. Entah itu karena tidak ada uang, jarak tempuh yang terlalu jauh atau karena ada perang dan bencana. Harus ada yang bergerak menolong, begitulah pikirannya yang kemudian membawa Lukman bergabung bersama MSF.

Sebagai lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar, Lukman saat ini ditempatkan sebagai dokter di Abs, Yaman, daerah di mana konflik masih berkecamuk. Sebelumnya, ia juga pernah ditempatkan di berbagai tempat dan mendapatkan berbagai pengalaman berbeda. Mulai dari menangani pasien kala azaratau sleeping sickness sebuah penyakit yang dulu hanya dijumpai di diktat kuliah di Sudan Selatan, sampai bekerja di daerah miskin di Pakistan sudah ia lakukan. Perasaan cemas kadang menyelinap saat bekerja di daerah konflik. Namun, Lukman telah menetapkan hati untuk memilih jalan sebagai dokter yang bekerja untuk kemanusiaan di zona konflik paling sulit sekalipun.

Saat ini di Abs, Yaman, Lukman menjadi salah satu dari 7 staf internasional yang berasal dari berbagai negara dan berbicara 5 bahasa berbeda. Membayangkan bahwa banyak juga orang yang rela datang dari tempat berbeda, tidak mengenal satu sama lain sebelumnya, namun bisa bekerja bersama untuk membantu penduduk di Yaman merupakan sesuatu yang mengagumkan bagi Lukman.

5. Dari Aceh sampai Mozambique, Vini Fardhdhiani mendedikasikan keahliannya sebagai seorang Epidemiolog untuk masyarakat dunia

hipwee-msf-vini-750x563

Bekerja dengan MSF sangat membantu saya melihat dunia dan belajar toleransi dengan rekan-rekan kerja dari latar belakang budaya yang berbeda-beda. Saya juga belajar berkomunikasi dan mengoreksi diri. Kadang, kita juga seolah-olah menjadi duta Indonesia. Karena saya belum pandai masak, saya khawatir juga membawa image jelek tentang Indonesia. Saya suka bilang, Makanan Indonesia enak-enak, saya aja yang nggak bisa masak! Dan, meski saya berjilbab, saya selalu menekankan saya ini masih harus belajar agama banyaaak sekali. Apabila ada perilaku saya yang aneh-aneh, ini bukan agama ataupun negara saya. – kata Vini.

Impian Vini Fardhdhiani untuk keliling dunia sambil berkontribusi meringankan beban orang lain adalah yang memotivasi perjalanan hidupnya. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Vini mendengar tentang MSF dan ingin segera bergabung karena tertarik akan perjalanan ke daerah-daerah yang tak lazim. Kesempatan datang di tengah duka tsunami Aceh pada awal tahun 2005.

Vini segera berangkat dengan tim medis MSF ke Aceh untuk bertugas di mobile clinic (klinik berjalan) MSF untuk menjangkau pasien-pasien di daerah yang terpencil. Di sana, Vini berjumpa dengan dokter dari pusat epidemiologi Epicentre dan jatuh hati pada pekerjaan epidemiolog. Vini kemudian melanjutkan studi kesehatan masyarakat Institute of Tropical Medicines, Antwerp, Belgia dan meraih gelar Master of Science in Public Health, Orientation Disease Control Reproductive Health.

Saat ini, Vini bertugas dengan MSF di Mozambique untuk membantu pemerintah setempat menangani HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TBC). Berbagai perjuangan hidup yang tak pernah dibayangkannya jadi kenyataan. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan dengan sanitasi tidak bersih, cuaca buruk, dan tempat tinggal yang seadanya. Selama penugasan, Vini menjadi lebih bersyukur dengan hidupnya selama ini. Saat membahas pasien dengan kondisi medis yang rumit atau kehidupan yang sulit, Vini dan teman sepenempatan di Maputo, Mozambique selalu berkata, nothing to complaint about our lives!

Lima dokter dan tenaga kesehatan dari Indonesia ini adalah sebagian kecil dari orang-orang yang berjuang demi kemanusiaan di luar sana. Prinsip mengesampingkan kenyamanan diri demi kepentingan yang lebih besar lagi, terus diresapi dan diyakini sepenuh hati. Untuk mereka yang sedang berjuang dalam berjuta tantangan, semoga terus diberikan keteguhan prinsip. Untukmu yang juga ingin berbuat sesuatu untuk kebaikan, percayalah di mana ada niat selalu ada jalan!

 

*Artikel ini adalah partnership Hipwee dengan Medecins Sans Frontiers/Dokter Lintas Batas (MSF), sebuah organisasi kemanusiaan medis internasional independen yang memberikan bantuan kesehatan bagi masyarakat yang terkena dampak wabah penyakit, konflik bersenjata, orang-orang yang tidak mendapatkan layanan kesehatan serta korban bencana alam.

sumber

 

Fakta Menarik Kereta Api

PT Kereta Api Indonesia (Persero) (disingkat KAI atau PT KAI) adalah Badan Usaha Milik Negara Indonesia yang menyelenggarakan jasa angkutan kereta api. Layanan PT KAI meliputi angkutan penumpang dan barang. Pada akhir Maret 2007, DPR mengesahkan revisi Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1992, yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007, yang menegaskan bahwa investor swasta maupun pemerintah daerah diberi kesempatan untuk mengelola jasa angkutan kereta api di Indonesia. Dengan demikian, pemberlakuan undang-undang tersebut secara hukum mengakhiri monopoli PT KAI dalam mengoperasikan kereta api di Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamir-kan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan KA yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kekuasa-an perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tanggal 28 September 1945. Pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya, menegaskan bahwa mulai tanggal 28 September 1945 kekuasaan perkeretaapian berada di tangan bangsa Indonesia. Orang Jepang tidak diperbolehkan campur tangan lagi urusan perkeretaapi-an di Indonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI).

apa saja sih fakta seputar kerera api? yuk dilihat

1. Kereta api pertama kali ditemukan oleh Richard Trevitick juga merupakan satu-satunya Mesin uap bisa berjalan dan menyebutnya Lokomotif pertama.

r.jpg

2. Kereta api diilhami dari seekor ular karena bentuk kereta api persis dengan seekor ular karena gerbongnya menghubungkan gerbong lain sehingga memanjang seperti ular.

d2eg99mm.jpg

3. Kereta api satu-satunya kendaraan yang tidak memiliki setir seperti halnya Mobil, bus, truk, sepeda motor, kapal dan pesawat terbang, jadi kereta api bisa berjalan melalui jalur rel.

38_cockpit

 

4. Klakson pada kereta api lebih keras dalam frek. 400 – 700 HzV daripada Truk maupun Bus, jadi dari jauh (Sekitar 5 kilometer) terdengar suara kereta api tersebut.

bunyikan-klakson-yang-kuat-saat-mesin-kendaraan-mogok-di-atas-rel-kereta-api

5. Tahukah anda, kalau kereta api bisa maju dan mundur, jadi jika perjalanan pulang sebenarnya kereta api pada bagian lokomotif sebenarnya bergerak mundur karena bagian arah kepala berlawanan yaitu lokomotif bagian belakang, sedangkan masinis menghadap bagian depan.

2012-12-14_081852

6. Bagian paling keras pada setiap kereta api sebenarnya adalah bagian Lokomotif daripada gerbongnya. Jadi pada saat terjadinya tabrakan dengan Kendaraan truk dan bus, buktinya bagian lokomotifnya tidak remuk tapi bus maupun truk malah hancur deh. Tapi kalau tabrakan sesama kereta api sudah pasti kedua-duanya hancur.

ka-argo-bromo-anggrek-tabrak-truk-sopir-tewas-Cor.jpg

 

7. Satu lokomotif kereta api bisa mengangkut lebih dari 30 buah gerbong.

ka-ac

8. Jika ada simpangan rel kereta api hanya petugas stasiun kereta api yang mengatur jalur rel denga menarik tuasnya.

5817545_20140308055607.jpg

9. Untuk kereta api listrik, kereta api ini memiliki dua lokomotif, yaitu bagian depan dan belakang.

5817545_20140308055704

 

10. Pada setiap kereta api khusus diesel, bagian gerbong yang paling ujung atau bagian belakang bukan hanya untuk menyimpan barang besar sebagai gudang, tetapi sebenarnya adalah Genset kereta api jika pada saat malam hari genset ini bisa menyalakan listrik pada setiap gerbong penumpang (Kelas bisnis, ekonomi, eksekutif) meski tanpa lokomotif.

5817545_20140308055837

Itulah fakta menarik seputar kereta api, SELAMAT HARI KERETA API INDONESIA ^^

sumber1 sumber2 sumber3

 

Gaya Mengurus Anak Khas Indonesia

IMG_20160214_8

1. Minyak Telon
Ini adalah produk perawatan anak dan bayi yang paling umum bagi ibu-ibu di Indonesia, sejak zaman dahulu. Kata telon sendiri berasal dari bahasa Jawa telu (tiga), mengacu kepada jumlah bahan pembuatnya: minyak adas, kayu putih, dan minyak kelapa sebagai pelarut. Seiring perkembangan zaman, fungsi pelarut kadang diganti dengan minyak-minyak yang lebih ‘gaya’, seperti lavender atau zaitun.

Kolaborasi fungsi ketiga minyak itu memberikan sensasi hangat ketika dioleskan pada kulit, karena memperlebar pembuluh darah, sehingga aliran darah lebih cepat. Wanginya pun khas, memunculkan efek aromaterapi yang menenangkan anak-anak, juga sang ibu. Kegiatan mengoleskan minyak pada bayi disertai pijatan lembut juga diyakini menambah kedekatan emosional bayi dengan orang yang merawatnya. Begitu banyak manfaat yang dikandungnya, tak heran bila minyak telon identik dengan bayi/anak Indonesia. Sampai muncul konotasi bau bayi =
bau minyak telon.

Sebetulnya, seberapa penting, sih, peran minyak telon? Beberapa dokter anak menyatakan, pemakaian minyak telon setelah mandi memang bermanfaat. Walaupun mandi dengan air hangat, setelah keluar dari air, bayi cenderung merasa dingin. Minyak telon membantu tubuh bayi tetap hangat. Itu berarti bayi bebas dari keharusan membakar energi untuk menghangatkan tubuh, sehingga dapat menghemat energinya demi fungsi lain. Minyak telon cukup dioleskan sewajarnya saja di dada, perut atau punggung. Hindari mengoleskannya pada tangan bayi, karena bayi suka memasukkan tangan ke dalam mulut.

Kathy Kimpton, yang menikahi pria Australia, mengaku bahwa minyak telon, bedong (swaddle cloth) dan sarung tangan kaki bayi; adalah must have item yang dibekalkan oleh keluarganya dari Indonesia. Kathy menggunakan semua perlengkapan itu bukan sekadar mengikuti perintah orang tua, melainkan karena terbukti bermanfaat bagi bayi. “Di Australia, perawat kesehatan bayi juga menganjurkan pemakaian bedong, karena memberikan rasa nyaman dan aman kepada bayi, seperti ketika mereka berada dalam rahim,” ujarnya.

Sedangkan Iin P. Cox. yang tinggal di Amerika, tidak mengoleskan minyak telon karena kulit anaknya sensitif. Namun, dia rajin memanfaatkan ramuan alami khas Indonesia untuk obat atau perawatan. Misalnya, boreh minyak dan bawang merah untuk mengusir masuk angin.

2. Bedak seusai mandi
Fungsi bedak menurut deskripsi Mbak Tini adalah agar kulit halus, wangi, dan penanda status sudah mandi. Tetapi, apa sebetulnya kegunaan bedak pada kulit anak? Fungsi utamanya adalah mengurangi keringat (anak merasa segar dan nyaman), mencegah ruam, dan sebagai pelicin permukaan kulit agar tidak lekas lecet. Karena itu, sebaiknya bedak memang hanya dioleskan pada permukaan kulit. Penggunaan bedak pada alat kelamin tidak disarankan karena berisiko menimbulkan iritasi dan infeksi pada vagina. Membubuhkan bedak ketika kulit tengah berkeringat juga kurang baik, karena dapat menyebabkan biang keringat. Alih-alih menggunakan spons, lebih baik bila kita mengoleskan bedak dengan tangan, supaya ada bonus efek sentuhan yang menenangkan dan mempererat hubungan ibu dan anak.

3. ‘Penitipan Anak’ termurah di dunia
Tinggal di Indonesia yang serba guyub penuh kekeluargaan, sering memunculkan keluhan tentang tak ada privacykarena pembantu yang penuh rasa ingin tahu, para tante yang terlalu ikut campur, ibu yang stok omelannya tak pernah habis, mertua yang mengawasi cara kita memperlakukan cucunya (= anak kita) dengan tatapan setajam elang.

Asal tahu saja, Ma, seharusnya kita mensyukuri kehadiran rombongan ‘pengganggu’ itu. Tanpa mereka, para ibu bekerja pasti harus membawa anak mereka ke kantor, lantaran fasilitas penitipan anak masih belum marak di Indonesia. Yang lebih ekstrem, ketika si kakak mendadak opname di rumah sakit, misalnya, untunglah ada nenek yang bisa mengurus si adik di rumah. Barangkali memang tidak seprofesional staf daycare sungguhan. Namun akui lah, keluarga dan kawan dekat adalah support system yang luar biasa penyayang dan fleksibel bagi kita dan anak-anak. Drama-drama yang menyertai? Anggap saja itu sebagai tanda jasa yang harus kita bayar.

4. Gendongan kain batik
Saya punya memori khusus tentang selendang batik Nini (nenek) yang ‘sakti’. Tiap kali si sulung rewel waktu bayi, dan tak mempan oleh apa pun, maka keluarlah senjata rahasia itu: selendang batik. Entah kenapa, begitu digendong dengan kain batik, si sulung jadi tenang. Padahal, apa, sih, kehebatan sehelai kain itu, dibandingkan aneka macam alat gendongan bayi modern yang punya 1001 fungsi dan pengaturan posisi? Pertama, tentu saja faktor kenyamanan. Kain yang tipis sejuk, mudah dibentuk dan tidak licin, dapat ‘membungkus’ tubuh anak dengan nyaman.Posisi tubuh anak dalam gendongan yang melekat pada tubuh mamanya, membuat anak lebih tenang, karena dia dapat mendengar detak jantung mama.

Kedua, praktis dan hemat. Seiring dengan pertumbuhan anak, posisi dan cara menggendong pun dapat diubah, dengan menggunakan kain yang sama. Bahkan kain selendang bisa berubah fungsi jadi selimut atau alas tidur. Yang mesti diwaspadai adalah apabila penggendong belum bisa mengenakan dan memasangnya dengan benar. Gendongan harus betul-betul terkunci agar aman. Berat tubuh anak yang menekan hanya sebelah bahu juga kadang menjadi kendala. Bila salah posisi, efek terbesarnya bukan pada tubuh bayi, melainkan penggendong, yakni
risiko sakit punggung atau pinggul.

“Saya memilih kain batik untuk menggendong Rya, karena ringan, praktis, bisa dilipat kecil. Jauh lebih mudah dibawa, dibandingkan stroller atau carrier lain,” jelas Iin. “Ibu-ibu di sini jadi tertarik dan suka minta diajari cara menggendong anak pakai kain batik.”

Ngomong-ngomong, sekarang muncul banyak varian motif modern, bahkan gambar kartun, untuk kain/ selendang gendongan, yang sering disebut cukin ini. Sebetulnya, selendang batik untuk menggendong anak memiliki motif khusus, yang dimaksudkan sebagai doa. Misalnya, motif serupa hujan pada batik Jawa, yang mengharapkan kesuburan dan kesejahteraan. Begitu pun gambar merak atau bunga yang cantik, serta
naga yang gagah.

5. “Tangan manis, dong, Sayang”
Eh, kasih mainannya pakai tangan yang bagus, dong!” Kalimat itu acap terdengar di sini. Kebiasaan mengutamakan tangan kanan pun ternyata sangat khas Indonesia. Sebetulnya, dari mana asal muasal diskriminasi tangan kiri di Indonesia? Konon, karena kita memiliki kebiasaan (maaf) cebok atau melakukan hal-hal ‘kotor’ lain dengan tangan kiri, maka tangan kanan relatif lebih bersih, dan dipandang layak bersinggungan dengan orang lain.

Dari sisi tinjauan bahasa, kata kiri juga sering berkonotasi kepada sesuatu yang kurang baik. Artefak dari masa lalu hingga benda-benda modern pun memosisikan tangan kanan sebagai yang lebih utama. Misal, patung raja memegang keris dengan tangan kanan, posisi tombol pada kamera, dll. Bagaimana pun, secara umum tangan kanan memang relatif lebih terampil.

Di banyak negara Barat, tangan kanan dan kiri dianggap sederajat. Namun, demi etika di Indonesia, Kathy dan Pungky membiasakan anak-anak menggunakan tangan kanan saat menerima atau memberikan sesuatu. Untuk itu, tidak hanya kepada anak, kepada suami pun mereka harus memberikan alasan yang tepat.

“Saat kami di Indonesia, saya perlihatkan kepada anak-anak tentang budaya toilet yang asli. Itu cukup menjelaskan kenapa sebaiknya pakai tangan kanan. Hasilnya cukup ampuh!” tutur Kathy. Kendati demikian, Kathy juga menekankan untuk tidak melecehkan orang yang tangan kanannya kurang terampil. Suaminya sendiri pernah di-bullylantaran kidal. Bila anak kidal, tidak perlu memaksakan semua tugas kepada tangan kanan hanya untuk alasan kepantasan. Cukup memenuhi tugas-tugas kesopanan saja, seperti salaman atau
mengulurkan barang. Tangan kanan maupun kiri sama baik, dan memiliki fungsi masing-masing.

6. Makan disuapi dan penuh perjuangan
Pemandangan para ibu atau pengasuh yang berkumpul di jalan kompleks sore-sore, masing-masing membawa piring di tangan, dan sibuk berteriak, “Haaakk…, haaakk,” sambil berusaha menyuapkan makanan kepada anak asuh mereka, masih sering kita temui hingga kini. Anak-anak yang lebih kecil biasanya digendong untuk mempermudah proses menyuapi.

Tahukah Mama bahwa kebiasaan ini pun ‘Indonesia banget’? Perasaan khawatir anak tidak cukup makan adalah dorongan terbesar budaya menyuapi. Bila acara makan sembari bermain atau melakukan hal-hal lain, diharapkan mulut-mulut mungil itu akan lebih cepat mengunyah suapan demi suapan, dengan sadar maupun tidak.

Padahal, sebetulnya kegiatan ini cukup berisiko pada anak, yaitu kemungkinan tersedak, muntah, atau mengemut, lupa mengunyah karena terlalu banyak distraksi. Idealnya, kegiatan makan dilakukan dengan duduk menghadap meja. Gendongan pun dapat diganti dengan high chair atau seat booster. Pun, sesuai umur, anak dapat dilatih makan sendiri. Sebagai orang tua, sangat wajar bila kita khawatir anak kurang asupan gizi, dan akhirnya memilih jalan pintas menyuapi atau memaksa ia makan, selama apa pun proses makan itu berlangsung. Tetapi sebenarnya, sesekali membiarkan anak merasakan lapar pun boleh dilakukan.

Berlawanan dengan kebiasaan menyuapi, masyarakat Prancis terkenal bersikap tegas terkait budaya makan. Pungky Utami yang bersuamikan orang Prancis merasakan sendiri ‘seni’ tersebut, saat berusaha membiasakannya kepada anak. Selama kegiatan makan berlangsung, anak duduk
rapi di kursinya, makan sendiri semua yang dihidangkan dengan tenang. Bila anak menolak makan, mereka dibiarkan lapar sampai waktu makan berikut, agar dapat menghargai makanan.

Acara makan bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut, melainkan juga simbol kebersamaan. Memang tidak mudah.Toh, Pungky tidak berjuang sendirian. “Kalau mengikuti pola urus anak ala Prancis, itu berarti bapaknya harus terlibat. Jadi, bapak punya porsi tugas yang sama dengan ibu,” ujarnya.

7. Budaya salim
Jika Thailand punya salam ‘sawasdhee’ (mengatupkan tangan di depan dada), orang Jepang membungkukkan tubuh, orang Eropa cipika-cipiki; maka orang Indonesia punya salim. Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak memunculkan deskripsi kata ‘salim’ terkait kegiatan memberikan salam atau greeting.

Tetapi orang Indonesia pada umumnya tahu apa itu salim, yaitu berjabat tangan, lalu menempelkan punggung tangan ke dahi, hidung, bibir, atau pipi, untuk menunjukkan penghormatan kepada orang yang lebih tua. Diduga, kebiasaan itu berasal dari budaya sungkem, namun belum ditemukan referensi jelas.

Baik Kathy, Pungky, maupun Iin mengajarkannya kepada anak. Bagi Iin, penting bahwa Rya selalu ingat dan mengenal baik budaya Indonesia. “Jadi tidak hanya salim, melainkan juga sopan santun sehari-hari lain, seperti lepas sepatu/ sandal ketika masuk rumah,” ujarnya. Jabat tangan sendiri adalah bahasa tubuh yang relatif umum. Tambahan mengecup tanganlah yang menjadikannya unik.

Di Barat, pria pun kadang mengecup tangan wanita, untuk menunjukkan penghormatan. Mungkin karena itu pula, orang Barat cukup memahami kebiasaan ini. Bahkan, ketika kami tinggal di Tokyo, guru si sulung yang berasal dari Amerika menunjukkan apresiasinya tatkala melihat anak kami salim kepada ayah-ibunya. Memang ada kekhawatiran soal higienitas. Karena itu, saya tidak menganjurkan anak mengecup tangan. Sebagai ganti, mereka cukup menyentuhkan ke dahi atau pipi. Itu sudah patut untuk melestarikan salim yang khas Indonesia.

8. Tidur dikeloni
Kelon, menurut definisi kamus, adalah memeluk dengan kasih sayang sambil berbaring supaya tidur. Ini salah satu strategi mujarab untuk lekas menidurkan anak dan menjaga ia tetap pulas. Kenapa anak Indonesia terbiasa dikeloni? Konon, karena biasanya rumah di Indonesia dihuni banyak keluarga, maka anak harus menempati satu tempat tidur bersama orang tua. Berbeda dengan di Amerika, misalnya, yang sejak bayi anak dibiasakan tidur sendiri di kamar terpisah. Tujuannya agar lekas mandiri dan memiliki pola tidur baik.

Setiap hal tentu saja ada pro dan kontra. Kelon bisa memudahkan mama segera menyusui dan menenangkan bayi saat terbangun. Anak juga merasa nyaman dekat mamanya. Namun, orang tua punya PR ‘menyapih’ mereka kelak, selain kehilangan waktu berdua suami-istri. Menurut Iin, kebanyakan kawan dan keluarganya di Amerika awalnya kurang menyetujui Rya tidur bersama orang tua, karena anak di sana tidur mandiri sejak umur 6 bulan. Namun mereka akhirnya mengerti setelah Iin menjelaskan alasannya.

“Justru sekarang banyak dokter atau pakar anak merekomendasikan co-sleeping, terbukti secara psikologis membantu pertumbuhan mental anak,” pungkasnya. Sebaliknya, Pungky memilih cara Prancis dalam menidurkan anak; alias tidur terpisah. Dampak positifnya, ia dapat beristirahat dengan baik, anak bisa tidur mandiri dan biasa teratur. Toh, Pungky tidak terlalu kejam. Kalau malam-malam si kecil terbangun dan menyelinap masuk ke kamarnya, kadang dia dan suami membiarkan. Pungky menambahkan, keluarganya memang menggabungkan cara
Indonesia dan Prancis untuk mengurus anak. Yang lebih prinsip yang didahulukan.

Bila orang tua terlalu khawatir anak bakal manja karena kelon, bisa saja mengambil jalan tengah. Misal, menunggui atau mengeloni anak hingga tidur, baru ditinggalkan tidur sendiri di kamarnya. Atau, alternatif lain, tidur sekamar, tetapi berbeda tempat tidur.

sumber

Mengenal Palang Merah Indonesia

ketua-palang-merah-indonesia-dari-masa-ke-masa

Palang Merah Indonesia (PMI) adalah sebuah organisasi perhimpunan nasional di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan.

PMI selalu mempunyai tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan sabit merah yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, dan kesemestaan. Sampai saat ini PMI telah berada di 33 PMI Daerah (tingkat provinsi) dan sekitar 408 PMI Cabang (tingkat kota/kabupaten) di seluruh Indonesia.

Palang Merah Indonesia tidak memihak golongan politik, ras, suku ataupun agama tertentu. Palang Merah Indonesia dalam pelaksanaannya juga tidak melakukan pembedaan tetapi mengutamakan korban yang paling membutuhkan pertolongan segera untuk keselamatan jiwanya.

 

Sejarah

markas_besar_pmi.jpg

Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebetulnya sudah dimulai sebelum Perang Dunia II, tepatnya 12 Oktober 1873.Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlandsche Roode Kruis Afdeeling Indië (NERKAI) yang kemudian dibubarkan pada saat pendudukan Jepang.

Perjuangan mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) diawali 1932. Kegiatan tersebut dipelopori Dr. R. C. L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan dengan membuat rancangan pembentukan PMI. Rancangan tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia, dan diajukan ke dalam Sidang Konferensi Narkai pada 1940, akan tetapi ditolak mentah-mentah.

Rancangan tersebut disimpan menunggu saat yang tepat. Seperti tak kenal menyerah pada saat pendudukan Jepang mereka kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu mendapat halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk yang kedua kalinya rancangan tersebut kembali disimpan.

Proses pembentukan PMI dimulai 3 September 1945 saat itu Presiden Soekarno memerintahkan Dr. Boentaran (Menkes RI Kabinet I) agar membentuk suatu badan Palang Merah Nasional.

Dibantu panitia lima orang yang terdiri dari Dr. R. Mochtar sebagai Ketua, Dr. Bahder Djohan sebagai Penulis dan tiga anggota panitia yaitu Dr. R. M. Djoehana Wiradikarta, Dr. Marzuki, Dr. Sitanala, Dr Boentaran mempersiapkan terbentuknya Palang Merah Indonesia. Tepat sebulan setelah kemerdekaan RI, 17 September 1945, PMI terbentuk. Peristiwa bersejarah tersebut hingga saat ini dikenal sebagai Hari PMI.

Peran PMI adalah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan, terutama tugas kepalangmerahan sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59.

Sebagai perhimpunan nasional yang sah, PMI berdiri berdasarkan Keputusan Presiden No 25 tahun 1950 dan dikukuhkan kegiatannya sebagai satu-satunya organisasi perhimpunan nasional yang menjalankan tugas kepalangmerahan melalui Keputusan Presiden No 246 tahun 1963.

Kemanusiaan dan Kerelawanan

unduhan.jpg

Dalam berbagai kegiatan PMI komitmen terhadap kemanusiaan seperti Strategi 2010 berisi tentang memperbaiki hajat hidup masyarakat rentan melalui promosi prinsip nilai kemanusiaan, penanggulangan bencana, kesiapsiagaan penanggulangan bencana, kesehatan dan perawatan di masyarakat, Deklarasi Hanoi (United for Action) berisi penanganan program pada isu-isu penanggulangan bencana, penanggulangan wabah penyakit, remaja dan manula, kemitraan dengan pemerintah, organisasi dan manajemen kapasitas sumber daya serta humas dan promosi, maupun Plan of Action merupakan keputusan dari Konferensi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah ke-27 di Jenewa Swiss tahun 1999.

Dalam konferensi tersebut Pemerintah Indonesia dan PMI sebagai peserta menyatakan ikrar di bidang kemanusiaan.

Hal ini sangat sejalan dengan tugas pokok PMI adalah membantu pemerintah Indonesia di bidang sosial kemanusiaan terutama tugas-tugas kepalangmerahan yang meliputi: Kesiapsiagaan Bantuan dan Penanggulangan Bencana, Pelatihan Pertolongan Pertama untuk Sukarelawan, Pelayanan Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat, Pelayanan Transfusi Darah. Kinerja PMI dibidang kemanusiaan dan kerelawanan mulai dari tahun 1945 sampai dengan saat ini antara lain sebagai berikut:

  1. Membantu saat terjadi peperangan/konflik. Tugas kemanusiaan yang dilakukan PMI pada masa perang kemerdekaan RI, saat pemberontakan RMS, peristiwa Aru, saat gerakan koreksi daerah melalui PRRI di Sumbar, saat Trikora di Irian Jaya, Timor Timur dengan operasi kemanusiaan di Dilli, pengungsi di Pulau Galang.
  2. Membantu korban bencana alam. Ketika gempa terjadi di Pulau Bali (1976), membantu korban gempa bumi (6,8 skala Richter) di Kabupaten Jayawijaya, bencanaGunung Galunggung (1982), Gempa di Liwa-Lampung Barat dan Tsunami di Banyuwangi (1994), gempa di Bengkulu dengan 7,9 skala Richter (1999), konflik horizontal di Poso-Sulteng dan kerusuhan di Maluku Utara (2001), korban gempa di Banggai di Sulawesi Tengah (2002) dengan 6,5 skala Richter, serta membantu korban banjir diLhokseumawe Aceh, Gorontalo, Nias, Jawa Barat, Tsunami di Aceh, Pantai Pangandaran, dan gempa bumi di DI Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. Semua dilakukan jajaran PMI demi rasa kemanusiaan dan semangat kesukarelawanan yang tulus membantu para korban dengan berbagai kegiatan mulai dari pertolongan dan evakuasi, pencarian, pelayanan kesehatan dan tim medis, penyediaan dapur umum, rumah sakit lapangan, pemberian paket sembako, pakaian pantas pakai dan sebagainya.
  3. Transfusi darah dan kesehatan. Pada tahun 1978 PMI memberikan penghargaan Pin Emas untuk pertama kalinya kepada donor darah sukarela sebanyak 75 kali. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1980 telah diatur tentang tugas dan peran PMI dalam pelayanan transfusi darah. Keberadaan Unit Transfusi Darah PMI diakui telah banyak memberikan manfaat dan pertolongan bagi para pasien/penderita sakit yang sangat membutuhkan darah. Ribuan atau bahkan jutaan orang terselamatkan jiwanya berkat pertolongan Unit Transfusi Darah PMI. Demikian pula halnya dengan pelayanan kesehatan, hampir di setiap PMI di berbagai daerah memiliki poliklinik.

 

sumber