Lukisan : Kakak dan Adik (Basuki Abdullah – 1971)

detail_alyn1Y4JPq_adik_kakak_bigjpg

Title : “Kakak dan Adik”

Artist : Basuki Abdullah

Year : 1971

Cat minyak pada kanvas.

ukuran : 65 x 79 cm.

Lukisan Basuki Abdullah yang berjudul “Kakak dan Adik” (1978) ini merupakan salah satu karyanya yang menunjukkan kekuatan penguasaan teknik realis. Dengan pencahayaan dari samping, figur kakak dan adik yang dalam gendongan terasa mengandung ritme drama kehidupan. Dengan penguasaan proporsi dan anatomi, pelukis ini menggambarkan gerak tubuh mereka yang mengalunkan perjalanan sunyi. Suasana itu, seperti ekspresi wajah mereka yang jernih tetapi matanya menatap kosong. Apabila dengan pakaian mereka yang bersahaja dan berwarna gelap, sosok kakak beradik ini dalam selubung keharuan. Dari berbagai fakta tekstur ini, Basuki Abdullah ingin mengungkapkan empatinya pada kasih sayang dan kemanusiaan.

Namun demikian, spirit keharuan kemanusian dalam lukisan ini tetap dalam bingkai Romantisisime. Oleh karena itu, figur kakak beradik lebih hadir sebagai idealisasi dunia utuh atau bahkan manis, daripada ketajaman  realitas kemanusiaan yang menyakitkan. Pilihan konsep estetis yang demikian dapat dikonfirmasikan pada semua karya Basuki Abdullah yang lain. Dari berbagai mitologi, sosok-sosok tubuh yang telanjang, sosok binatang, potret-potret orang terkenal, ataupun hamparan pemandangan, walaupun dibangun dengan dramatisasi namun semua hadir sebagai dunia ideal yang cantik dengan penuh warna dan cahaya.

Berkaitan dengan konsep estetik tersebut, Basuki Abdullah pernah mendapat kritikan tajam dari S. Sudjojono. Lukisan Basuki Abdullah dikatakan sarat dengan semangat Mooi Indie yang hanya berurusan dengan kecantikan dan keindahan saja. Padahal pada masa itu, bangsa Indonesia sedang menghadapi penjajahan, sehingga realitas kehidupannya sangat pahit, kedua pelukis itu sebenarnya memang mempunyai pandangan estetik yang berbeda, sehingga melahirkan cara pandang/pengungkapan yang berlainan. Dalam kenyataannya estetika Basuki Abdullah yang didukung kemampuan teknik akademis yang tinggi tetap menempatkannya sebagai pelukis besar. Hal itu terbukti dari berbagai penghargaan yang diperoleh, juga didukung dari masyarakat bawah sampai kelompok elite di istana, dan juga kemampuan bertahan karya-karyanya eksis menembus berbagai masa.

Sumber

Advertisements

The Arrest of Pangeran Diponegoro

350px-Raden_Saleh_-_Diponegoro_arrest

Prince Diponegoro stands, defiant, in front of Lieutenant General Hendrik Merkus de Kock in front of the colonial officer’s mansion. He wears a green turban, white tabard over pantaloons, and a jacket; around his waist is a golden belt, to which prayer beads are attached, and over his shoulder is a shawl. He appears to be struggling to control his anger – as would be expected from Javanese gentry – while the Europeans’ eyes are static and avoid the eyes of others.

De Kock, the captor, stands to Diponegoro’s left, at the same level as the guerrilla. Further to the left are various Dutch officers, identified by the historian and Diponegoro biographer Peter Carey as Colonel Louis du Perr, Lieutenant-Colonel W.A. Roest, and Major-Adjutant Francois Victor Henri Antoine Ridder de Stuer. To the prince’s right stands a Javanese man identified by Carey as Diponegoro’s son, Diponegoro the Younger, followed by Resident of Kedu Franciscus Gerardus Valck, Major Johan Jacob Perié, and Captain Johan Jacob Roeps. At Diponegoro’s feet, a woman – possibly his wife Raden Ayu Rětnaningsih – reaches out to grab him.

The view from the northeast shows a still morning scene, with no wind blowing, and centered around Diponegoro.Saleh gives the painting depth of field, showing the soldiers closest to the front in crisp detail, while blurring the details of those in the back rows. The heads of the Dutchmen depicted appear to be slightly too large for their bodies, while those of the Javanese soldiers are of proper proportions. The painter, Raden Saleh, inserted himself into the painting twice: as a soldier bowing to the captured leader, and as a soldier facing the viewer.

Sumber

 

Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda

Sumpah-Pemuda

Pada tanggal 28 Oktober 1928 malam, di Indonesische Clubgebouw yang penuh sesak, ribuan pemuda mendengar pidato penutupan Kongres Pemuda Indonesia ke-dua dan sekaligus mendengar lantunan lagu “Indonesia Raya” dari biola WR. Soepratman.

Menjelang penutupan, Muhammad Yamin, yang saat itu baru berusia 25 tahun, mengedarkan secarik kertas kepada pimpinan rapat, Soegondo Djojopoespito, lalu diedarkan kepada para peserta rapat yang lain. Siapa sangka, dari tulisan tinta Yamin di secarik kertas itulah tercetus gagasan Sumpah Pemuda.

Sumpah itu lalu dibaca oleh oleh Soegondo, lalu Yamin memberi penjelasan panjang lebar tentang isi rumusannya itu. Pada awalnya, rumusan singkat Yamin itu dinamakan “ikrar pemuda”, lalu diubah oleh Yamin sendiri menjadi “Sumpah Pemuda”. Berikut isi Sumpah Pemuda itu:

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Kongres Pemuda II berlangsung pada 27-28 Oktober dalam tiga tahap rapat. Rapat pertama berlangsung di gedung Katholieke Jongelingen Bond di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng), lalu dipindahkan ke Oost Java Bioscoop di Konigsplein Noord (sekarang Jalan Medan Merdeka Utara), dan kemudian Gedung Kramat 106 baru dipakai untuk rapat ketiga sekaligus penutupan rapat.

Dari rapat pertama hingga rapat ketiga, kongres pemuda II ini menghadirkan 15 pembicara, yang membahas berbagai tema. Diantara pembicara yang dikenal, antara lain: Soegondo Djojopespito, Muhammad Yamin, Siti Sundari, Poernomowoelan, Sarmidi Mangoensarkoro, dan Sunario.

Hadir pula banyak organisasi pemuda dan kepanduan saat itu, diantaranya: Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Roekoen, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll.

Kongres Pertama (I) berlangsung pada tahun 1926. Kongres Pertama sudah membahas bahasa persatuan. Mohammad Yamin mengusulkan bahasa Melayu. Tetapi penamaan “Bahasa Melayu” dikritik oleh salah seorang peserta Kongres, Tabrani Soerjowitjitro. Menurut Tabrani, kalau nusa itu bernama Indonesia, bangsa itu bernama Indonesia, maka bahasa itu harus disebut bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu, walaupun unsur-unsurnya Melayu. Keputusan kongres pertama akhirnya menyatakan bahwa penetapan bahasa persatuan akan diputuskan di kongres kedua.

Seusai kongres pemuda ke-II, sikap pemerintah kolonial biasa saja. Bahkan Van Der Plass, seorang pejabat kolonial untuk urusan negara jajahan, menganggap remeh kongres pemuda itu dan keputusan-keputusannya. Van Der Plass sendiri menertawakan keputusan kongres untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, mengingat bahwa sebagian pembicara dalam kongres itu justru menggunakan bahasa Belanda dan bahasa daerah. Soegondo sendiri, meskipun didaulat sebagai pimpinan sidang dan berusaha mempergunakan bahasa Indonesia, terlihat kesulitan berbahasa Indonesia dengan baik.

Siti Sundari, salah satu pembicara dalam kongres pemuda II itu, masih menggunakan bahasa Belanda. Hanya saja, dua bulan kemudian, sebagaimana ditulis Dr Keith Foulcher, pengajar jurusan Indonesia di Universitas Sydney, Australia, Siti Sundari mulai menggunakan bahasa Indonesia.

Akan tetapi, perkiraan Van Der Plass ternyata meleset. Sejarah telah membuktikan bahwa kongres itu telah menjadi “api” yang mencetuskan persatuan nasional bangsa Indonesia untuk melawan kolonialisme.

Meskipun, seperti dikatakan sejarahwan Asvi Warman Adam yang mengutip pernyataan Profesor Sartono Kartodirdjo, Manifesto Politik yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda pada 1925 jauh lebih fundamental daripada Sumpah Pemuda 1928. Manifesto Politik 1925 berisi prinsip perjuangan, yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan liberty (kemerdekaan). Sedangkan Sumpah Pemuda hanya menonjolkan persatuan

Bung Karno sendiri menganggap Sumpah Pemuda 1928 bermakna revolusioner: satu negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke, masyarakat adil dan makmur, dan persahabatan antarbangsa yang abadi. “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir,” kata Soekarno dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-35 di Istana Olahraga Senayan, Jakarta, 28 Oktober 1963.

Sumber

Sejarah 5 Oktober Jadi HUT TNI

ae870e7b-99ec-4cc8-a47e-607867434456_169

Hari jadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) diperingati setiap tanggal 5 Oktober. Tanggal ini memiliki sejarah panjang di awal masa kemerdekaan.

Sebelum kemerdekaan, ada nama Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) dan juga Pembela Tanah Air (PETA). KNIL merupakan tentara kerajaan Hindia-Belanda yang dibentuk ketika Perang Diponegoro berlangsung. Sementara PETA dibentuk pemerintahan Jepang yang dibentuk untuk melawan tentara sekutu pada tahun 1943.

Pada 14 Februari 1945, Komandan Pleton (Sodancho) PETA Supriyadi (Soeprijadi) memimpin pemberontakan untuk melawan tentara Jepang di Blitar. Supriyadi sempat meminta pendapat Sukarno sebelum melakukan pemberontakan.

“Apa yang tidak diketahui orang sampai sekarang ialah bahwa Sukarno sendiri tersangkut dalam pemberontakan ini. Bagi orang Jepang, maka pemberontakan PETA merupakan suatu peristiwa yang tidak diduga sama sekali. Akan tetapi bagi Sukarno tidak. Aku telah mengetahui sebelumnya. Ingatlah bahwa rumahku di Blitar,” kata Sukarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams.

Sukarno kala itu merupakan pemimpin dari Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Namun waktu itu Sukarno meminta Supriyadi dkk untuk mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi. Tetapi Supriyadi tetap memimpin pemberontakan yang berujung pada penangkapan sejumlah pimpinan PETA oleh tentara Jepang.

Supriyadi menghilang setelah pemberontakan itu. Hingga kini nasib Supriyadi masih menjadi misteri.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada 23 Agustus 1945. Setelah itu secara bertahap dibentuklah BKR Darat, BKR Laut, dan BKR Udara.

BKR memiliki kepengurusan di pusat dan sejumlah daerah. Tetapi ada pula daerah yang menolak dibentuk BKR dan akhirnya membuat lembaga serupa dengan penamaan sendiri.

Akhirnya pada 5 Oktober 1945, Maklumat Pemerintah mengubah BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang juga memasukkan para mantan anggota PETA. BKR Darat, Laut, dan Udara secara bertahap juga menyesuaikan penamannya.

Nama TKR sempat diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Tetapi kemudian mengalami perubahan lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tahun 1946.

Presiden Sukarno kemudian mengubah lagi nama TRI menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 3 Juni 1947. TNI merupakan gabungan dari TRI dan tentara elemen-elemen rakyat lainnya.

Jenderal Soedirman kemudian ditunjuk menjadi Panglima Besar pertama TNI. Meski nama TNI baru diberikan pada tanggal 3 Juni 1947, namun hari lahir kesatuan tersebut tetap diperingati setiap 5 Oktober.

Sumber

 

Tradisi Unik Perayaan Tahun Baru Islam di Beberapa Daerah di Indonesia

Pergantian tahun dalam penanggalan bulan memang berbeda dengan penanggalan matahari. Sebenarnya dalam tradisi Islam, agama yang menggunakan penanggalan bulan, tidak ada ajaran khusus dalam menyambut pergantian tahun tersebut, selain berupa doa. Nah, adapun di Indonesia sendiri, akibat dari proses asimilasi panjang, dikenal beberapa kegiatan unik untuk merayakan tahun baru Islam tersebut. Yuks kita simak tradisi-tradisi unik perayaan 1 muharam di Indonesia.
1. Kungkum
Tradisi ini dilakukan dengan cara berendam di sungai selama malam 1 suro atau 1 Muharam. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk menyucikan kotoran rohani dan jasmani. Jawa Tengah menjadi pusat pelaksanaan tradisi ini. Salah satu lokasi pelaksanaan tradisi Kungkum adalah di jembatan Sungai Tugu Soeharto, Semarang.

2. Ruwatan
Ritual ini dilakukan dengan tujuan untuk membuang kesialan diri. Pelaksaannya bisa dengan nanggap wayang ataupun ritual lainnya untuk membuka aura diri. Ruwatan dikenal hampir di seluruh jawa. Selain itu ruwatan juga terkadang melibatkan unsur-unsur magis seperti penanaman kepala kerbau sebagai upaya tolak bala.
3. Mubeng Benteng
Tahun ini, prosesi Mubeng Benteng akan diselenggarakan pada tanggal 21 September oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta. Pada upacara ini benda-benda pusaka diarak mengelilingi benteng kraton. Para peserta ritual dilarang untuk berbicara dan memakai alas kaki. Bagi yang pengen lihat buruan ke Yogya saat ini juga, hehe.
4. Tirakatan
Tirakatan ini bisa disebut juga dengan selamatan. Tradisi ini masih banyak dijalankan oleh penganut kejawen di pedesaan.
5.Tabot dan Tabuik
Tabot adalah perayaan tahunan yang selenggarakan selama 1-10 Muharam di Bengkulu, sedangkan Tabuik adalah ritual yang hampir mirip, tetapi diselenggarakan di Pariaman Sumatera Barat. Tradisi ini di bawa pertama kali oleh kaum islam Madras India Benggali untuk memperingati kematian Husein cucu Muhammad.

6. Kirab Muharam
Ritual ini dilakukan oleh Keraton Surakarta. Ada yang unik dari tradisi ini, yaitu kehadiran kerbau bule atau kerbau putih milik Kiai Slamet. Kebo Bule merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Uniknya lagi orang-orang yang mengikuti prosesi ini akan berebutan untuk menyentuh tubuh sang kerbau, bahkan jika sang kerbau buang kotoran maka kotorannya pun akan diperebutkan oleh warga. Mereka percaya bahwa hal itu cara untuk mencari berkah Kiai Slamet.

7. Ngadulag
Ngadulag adalah salah satu acara yang sengaja diselenggarakan oleh pemerintah Sukabumi, Jawa Barat untuk merayakan tahun baru islam. Kegiatan ini berupa perlombaan menabuh bedug.

Potret Seniman Muda Indonesia

art-is-not-always-high-low

Seni semakin dekat dengan anak muda! Pasalnya, dulu bisa dibilang ruang pameran itu hanya mau memampang karya-karya dari para seniman besar. Kini, dengan semakin banyaknya komunitas, ruang alternatif untuk pameran dan kegiatan kolektif di bidang seni. Artinya para seniman muda pun boleh ikutan unjuk gigi.
Karya-karya mereka juga tak kalah bagusnya, tak hanya dari segi teknis pengerjaan tapi juga makna dibalik karya mereka. Ada yang berkreasi dengan mainan, budaya sebuah negeri, hingga mural jalanan

Berikut adalah beberapa nama dari banyak seniman muda indonesia yang berbakat:

Natasha Gabriella Tontey

Natasha Gabriella Tontey Lulusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Pelita Harapan ini tengah ikut berpartisipasi pada beberapa pameran kolektif yang digelar di Jakarta. Seperti pameran ‘Pelicin’ di Jakarta Biennale, ‘Begadang Neng?’ dan masih banyak lagi. Dalam perjalanan karyanya bisa dibilang ia sangat suka bereksperiman dengan kisah masa kecil.
Tak heran, lelehan boneka plastik, potongan bagian boneka, uang-uangan, mainan plastik seringkali menjadi bagian dari instalasi karya seninya. “Saya mencoba membawa seni dengan hal-hal yang paling dekat dengan saya, misalnya masa kecil saya,” ujarnya, untuk melihat karya lain dari Natasha bisa ke karya lain

Andi RHARHARHA

jpg (2).jpg

Andi RHARHARHA adalah salah satu seniman yang gemar mengeksplorasi dunia seni jalanan. Alasannya agar karyanya bisa langsung berhadapan dengan publik. Ia memilih lakban sebagai media pada karyanya.
Jebolan seni rupa Institut Kesenian Jakarta ini juga aktif untuk melakukan kampanye sosial lewat seni yang ia geluti. Tahun 2013 ini, ia mengikuti beberapa pameran bersama komunitasnya, Indonesian Street Art Database (ISAD).
“Ini adalah gagasan tentang kreatifitas sosial yang dikembangkan di ruang-ruang kota. Street art sebenarnya punya strateginya sendiri, dia sebagai kontrol sosial, juga sebagai counter-culture,” jelasnya. “Street art punya peran penting untuk mengkritik.”

Popo

Popo , yang memiliki nama asli Ryan ini bisa dibilang sebagai seniman jalanan yang muralnya cukup tersebar menghiasi wajah Jakarta. Ryan mulai menggunakan nama dan ikon karakter Popo sejak tahun 2000.

Sosok Popo juga sudah dipamerkan di manca negara. Mulai dari Berlin Street Art, Berlin dan acara Nite Festival, di Singapore Art Museum. Seniman jalanan ini juga mengaku terinspirasi dari karya Banksy. Menurut Popo, seni jalanan berakar dari kehidupan sosial manusia sendiri. “Dimana ada kehidupan si kaya dan si miskin, si pintar dan si bodoh, si baik dan si jahat, si salah dan si benar,” jelasnya.

Saleh Husein

Saleh Husein Seniman dan musisi dengan nama lengkap Saleh bin Husein bin Saleh bin Ali Mahfud ikut berpartisipasi dalam perhelatan Jakarta Biennale 2013. Pada acara tersebut Saleh mempresentasikan karya berjudul ‘Arabian Party’.
Ilustrasi yang ia buat terpecah-pecah pada banyak sekitar 100 frame ini, merupakan hasil pencariannya mengenai identitas Arab dan aktivitas politik dari warga keturunan Arab sepanjang 1930 hingga 1940 di Indonesia.

Julia Sarisetiati

Julia Sarisetiati Seniman yang akrab dipanggil Sari turut memampang karyanya di perhelatan Jakarta Biennale 2013. Pada dasarnya ia merasa prihatin akan corak kehidupan ibukota yang kian melanggar nalar.
Ia mengumpulkan empat mahasiswa ilmu sosial untuk berdiskusi tentang kehidupan sekitar. Direkam dan tayangan dipampang dalam pameran di Jakarta Biennale. Disini ia coba menawarkan seni sebagai jalan keluar warga dari mekanisme yang terjadi. Ia menuliskan bahwa lewat seni, warga bisa kembali

Bujangan Urban

blogger-image-1377962556.jpg

Rizki Aditya Nugroho atau dikenal dengan nama alias Bujangan Urban ini merupakan salah satu seniman jalanan lulusan Desain Komunikasi Visual di Interstudi. Tahun ini ia terpilih jadi salah satu seniman yang melakukan residensi di Galeri Nasional Indonesia.
Selain itu, Bujangan Urban juga turut menyemarakan Jakarta Biennale 2013 dengan karya grafitinya di tembok depan Wisma BNI 46

Itulah beberapa nama dari sekian banyak seniman muda indonesia yang berbakat, Selamat Hari Sumpah Pemuda

sumber

5 Dokter dan Tenaga Kesehatan Indonesia yang Bekerja di Daerah Konflik dan Bencana

Berita-berita tentang peperangan dan wabah penyakit yang melanda seisi dunia belakangan ini sukses membuatmu tidak tenang. Setiap nonton TV atau baca surat kabar, kamu mengetahui bahwa di belahan lain bumi yang sedang kamu tinggali, ada orang-orang yang baru saja kehilangan keluarga dan masa depan. Sementara kamu masih sempat mengeluh dengan segala kekurangan, padahal saat malam tidurmu aman dan nyaman.

Memang tidak mudah meninggalkan kenyamanan untuk berjuang demi hidup orang lain, apalagi ketika risiko bahayanya tinggi sekali. Tapi 5 field worker di bidang kesehatan ini berani mendobrak batas dengan mendedikasikan diri untuk membantu masyarakat di daerah konflik dan bencana di berbagai negara. Kisah mereka akan membuatmu kembali percaya, masih banyak orang baik di dunia.

1. Husni Mubarak, dokter dari Makassar yang memberikan pelayanan medis bagimasyarakat di daerah krisis dari Pakistan sampai pedalaman Afrika

hipwee-1-husni-750x450.jpg

Gemerlap kota bukanlah tempat bagi dokter muda. Ia tak menawarkan masa depan. Masa depan kami tertimbun di redup kota-kota kecil, desa-desa pelosok dan pulau-pulau terluar negeri ini. – Husni Mubarak

Saat ikut turun langsung dalam penanganan korban tsunami Aceh di tahun 2009, Husni berkenalan dengan Dokter Lintas Batas, kemudian memutuskan untuk bergabung sebagai staf lapangan. Berbekal ilmu kedokteran dari Universitas Hasanuddin – Makassar, Husni Mubarak telah melanglang buana ke berbagai negara yang dilanda krisis. Bersama MSF, ia telah jelajahi mulai dari Malawi, Sierra Leone, Pakistan, dan juga beberapa daerah di tanah air seperti Aceh, Makassar, dan Buton sebagai dokter PTT ataupun relawan dengan organisasi lain. Kini, dia bertugas di Sudan Selatan, sebuah negara muda yang tengah mengalami konflik dan menyebabkan penderitaan bagi penduduknya.

Dulunya, Husni tidak pernah membayangkan akan tinggal di tempat yang terisolasi dari peradaban dan bekerja di kemah para pengungsi. Husni bercerita, selama di Sudan Selatan hal yang paling menantang baginya adalah membagi waktu. Pasien berdatangan siang dan malam, ketika situasi damai maupun konflik, di musim hujan maupun kemarau. Karenanya sebagai dokter, ia harus siap sedia. Perihal kesehatan pasien lebih utama daripada keinginan pribadi untuk menikmati waktunya sendiri.

Di tempat seperti itu, bagi Husni, sebuah senyuman hangat dan ucapan terima kasih adalah bayaran tertinggi yang ia dapat dari pasien. Pengalamannya selama bertugas membuatnya belajar untuk lebih menghargai hidup, serta mensyukuri setiap kebahagiaan kecil yang sering luput dari perhatiannya.

2. Rangi Wirantika Sudrajat, melampaui rasa takut menjejakkan kaki di Pakistan dan Yaman demi sebuah cita-cita mulia

 

 

 

 

 

hipwee-MSF-rangi.jpg

You have made choices that are very different from mine, and it s scary. Any mother who watches her child do something she hasn t done herself, it s scary. But that doesn t mean I haven t been proud of you. And the more I see you in this world, in this work, the prouder I am. – Rangi’s Mother 

Siapa yang tidak takut pindah ke tempat baru yang penuh dengan ketidakpastian? Apalagi tempat tersebut dikenal bukan dengan keindahan alamnya, tapi karena sering diberitakan dengan konflik berkepanjangan. Kebanyakan orang mungkin akan berpikir ulang. Kebanyakan orangtua pun wajar jika langsung melarang.

Namun panggilan hati Rangi Wirantika Sudrajat justru menuntunnya untuk menjelajahi tempat-tempat jauh lagi. Sebagai dokter lulusan Universitas Trisakti, Rani mengawali tugas dengan MSF di Pakistan dan terjun dalam penanganan Neonatal Care Unit dan Pediatric Unit atau unit untuk bayi baru lahir dan anak-anak. Setelah penugasan di Pakistan, Rangi melanjutkan tugasnya di Yaman. Di sana, ia mengelola emergency roomuntuk pasien darurat, serta memberikan pelatihan dan pendidikan kesehatan bagi masyarakat sekitar. Rangi adalah sosok dokter muda yang pantang menyerah, ia mampu merefleksikan semangat berjuang untuk kemanusiaan.

3. Setelah melewati wabah kolera dan perang di Sudan Selatan, Ivan Sinaga mengerti bahwa kenyamanan bukan hal yang bisa semua orang dapatkan

hipwee-msf-ivan-750x499

Hidup di Indonesia itu relatif nyaman dan kita sangat beruntung, – kata Ivan dari Sudan Selatan sana.

Tersesat di jalan yang benar. Ungkapan itu pas untuk menggambarkan kenapa Ivan, lulusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, memutuskan untuk mendalami ilmu manajemen air dan sanitasi di konteks kedaruratan. Pendaki gunung yang gemar fotografi ini mulai merambah dunia pekerja kemanusiaan sejak gempa Yogya bersama Federasi Palang Merah Internasional (IFRC). Ivan sudah malang melintang bekerja sebagai water sanitation specialist di berbagai organisasi di dalam maupun luar negeri.

Ivan bergabung dengan tim Dokter Lintas Batas karena ia merasa latar belakang akademisnya mendukung apa yang akan ia kerjakan di lapangan. Selain itu, ia memang gemar traveling dan menjelajahi sudut bumi yang belum ia kunjungi. Selama masa penugasannya, Ivan telah membantu penanganan gelombang pengungsi di Serbia dan Sudan Selatan. Memang tak semudah kedengarannya, di sana Ivan harus bergelut dengan berbagai kondisi yang menegangkan. Mulai dari harus menghadapi wabah kolera, sampai terjebak di tengah perang Juba pernah ia alami.

Pengalaman barunya menyadarkan Ivan bahwa banyak orang-orang di luar sana yang bahkan tidak bisa tidur dengan nyaman karena sewaktu-waktu nyawa bisa terancam. Oleh karenanya, kamu yang sehari-hari bisa hidup dengan akses kesehatan yang memadai, serta tak pernah mengalami kehilangan orang terdekat karena perang, layaknya bersyukur dengan apa yang kamu dapatkan.

4. Lukman Hakim Bauty, menuruti panggilan hati bekerja untuk kemanusiaan di Sudan Selatan, Pakistan, dan juga Yaman

hipwee-msf-lukman-750x422

Sering kali kita merasa kurang beruntung dan merasa hidup ini sangat berat tetapi pengalaman ini membuka mata saya lebar-lebar. Pengalaman ini memperlihatkan betapa banyak orang yg hidup dengan penuh kekurangan tetapi mereka menjalani hidup dengan penuh kebanggaan.Ungkap Lukman dari Abs, Yaman.

Lukman tidak bisa duduk diam melihat banyak orang–bukan cuma di Indonesia tetapi juga di negara lain–yang sulit mengakses fasilitas kesehatan. Entah itu karena tidak ada uang, jarak tempuh yang terlalu jauh atau karena ada perang dan bencana. Harus ada yang bergerak menolong, begitulah pikirannya yang kemudian membawa Lukman bergabung bersama MSF.

Sebagai lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar, Lukman saat ini ditempatkan sebagai dokter di Abs, Yaman, daerah di mana konflik masih berkecamuk. Sebelumnya, ia juga pernah ditempatkan di berbagai tempat dan mendapatkan berbagai pengalaman berbeda. Mulai dari menangani pasien kala azaratau sleeping sickness sebuah penyakit yang dulu hanya dijumpai di diktat kuliah di Sudan Selatan, sampai bekerja di daerah miskin di Pakistan sudah ia lakukan. Perasaan cemas kadang menyelinap saat bekerja di daerah konflik. Namun, Lukman telah menetapkan hati untuk memilih jalan sebagai dokter yang bekerja untuk kemanusiaan di zona konflik paling sulit sekalipun.

Saat ini di Abs, Yaman, Lukman menjadi salah satu dari 7 staf internasional yang berasal dari berbagai negara dan berbicara 5 bahasa berbeda. Membayangkan bahwa banyak juga orang yang rela datang dari tempat berbeda, tidak mengenal satu sama lain sebelumnya, namun bisa bekerja bersama untuk membantu penduduk di Yaman merupakan sesuatu yang mengagumkan bagi Lukman.

5. Dari Aceh sampai Mozambique, Vini Fardhdhiani mendedikasikan keahliannya sebagai seorang Epidemiolog untuk masyarakat dunia

hipwee-msf-vini-750x563

Bekerja dengan MSF sangat membantu saya melihat dunia dan belajar toleransi dengan rekan-rekan kerja dari latar belakang budaya yang berbeda-beda. Saya juga belajar berkomunikasi dan mengoreksi diri. Kadang, kita juga seolah-olah menjadi duta Indonesia. Karena saya belum pandai masak, saya khawatir juga membawa image jelek tentang Indonesia. Saya suka bilang, Makanan Indonesia enak-enak, saya aja yang nggak bisa masak! Dan, meski saya berjilbab, saya selalu menekankan saya ini masih harus belajar agama banyaaak sekali. Apabila ada perilaku saya yang aneh-aneh, ini bukan agama ataupun negara saya. – kata Vini.

Impian Vini Fardhdhiani untuk keliling dunia sambil berkontribusi meringankan beban orang lain adalah yang memotivasi perjalanan hidupnya. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Vini mendengar tentang MSF dan ingin segera bergabung karena tertarik akan perjalanan ke daerah-daerah yang tak lazim. Kesempatan datang di tengah duka tsunami Aceh pada awal tahun 2005.

Vini segera berangkat dengan tim medis MSF ke Aceh untuk bertugas di mobile clinic (klinik berjalan) MSF untuk menjangkau pasien-pasien di daerah yang terpencil. Di sana, Vini berjumpa dengan dokter dari pusat epidemiologi Epicentre dan jatuh hati pada pekerjaan epidemiolog. Vini kemudian melanjutkan studi kesehatan masyarakat Institute of Tropical Medicines, Antwerp, Belgia dan meraih gelar Master of Science in Public Health, Orientation Disease Control Reproductive Health.

Saat ini, Vini bertugas dengan MSF di Mozambique untuk membantu pemerintah setempat menangani HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TBC). Berbagai perjuangan hidup yang tak pernah dibayangkannya jadi kenyataan. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan dengan sanitasi tidak bersih, cuaca buruk, dan tempat tinggal yang seadanya. Selama penugasan, Vini menjadi lebih bersyukur dengan hidupnya selama ini. Saat membahas pasien dengan kondisi medis yang rumit atau kehidupan yang sulit, Vini dan teman sepenempatan di Maputo, Mozambique selalu berkata, nothing to complaint about our lives!

Lima dokter dan tenaga kesehatan dari Indonesia ini adalah sebagian kecil dari orang-orang yang berjuang demi kemanusiaan di luar sana. Prinsip mengesampingkan kenyamanan diri demi kepentingan yang lebih besar lagi, terus diresapi dan diyakini sepenuh hati. Untuk mereka yang sedang berjuang dalam berjuta tantangan, semoga terus diberikan keteguhan prinsip. Untukmu yang juga ingin berbuat sesuatu untuk kebaikan, percayalah di mana ada niat selalu ada jalan!

 

*Artikel ini adalah partnership Hipwee dengan Medecins Sans Frontiers/Dokter Lintas Batas (MSF), sebuah organisasi kemanusiaan medis internasional independen yang memberikan bantuan kesehatan bagi masyarakat yang terkena dampak wabah penyakit, konflik bersenjata, orang-orang yang tidak mendapatkan layanan kesehatan serta korban bencana alam.

sumber