Galeri Nasional Indonesia mempersembahkan:

PAMERAN SENI RUPA KOLEKSI NASIONAL
“MENYIGI MASA”

10 – 28 Oktober 2018
Galeri Nasional Indonesia
DIDUKUNG OLEH
Museum Aceh, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh
Dewan Kesenian Jakarta
Unit Pengelola Museum Kesejarahan Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta
Menampilkan karya-karya pilihan koleksi Galeri Nasional Indonesia, Museum Aceh, Dewan Kesenian Jakarta, dan UP Museum Kesejarahan Jakarta.

KURATOR
Suwarno Wisetrotomo & Rizki A. Zaelani

ASISTEN KURATOR
Teguh Margono & Bayu Genia Krishbie

PAMERAN
11 – 28 Oktober 2018
Pukul 10.00 – 19.00 WIB
Gedung A

Sumber

Advertisements

HUT Kota Yogya ke-261, Berbagai Festival Digelar Sebulan Penuh

Perayaan Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta ke 261 yang jatuh pada Oktober 2018 ini bakal digelar Festival Jogja Kota yang berisi rentetan festival wisata seni budaya tanpa henti mulai tanggal 1 hingga 31 Oktober 2018.
“Berbagai festival untuk menyambut HUT Kota Yogya tahun ini kami siapkan sekaligus untuk mendongkrak kunjungan wisata mumpung masih high season (tingkat kunjungan tinggi),” ujar Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Yunianto Dwi Sutono, Senin (1/10).
Yunianto menuturkan sejumlah festival yang disiapkan untuk masyarakat dan wisatawan itu antara lain dimulai dengan pembukaan berupa perhelatan seni Wiwitan di area Jembatan Amarta Yogyakarta Jalan Kleringan pada 1 Oktober 2018.
Lalu pada 2 Oktober 2018 digelar Festival Kopi Malioboro di Jalan Malioboro yang dilanjutkan dengan Festival Belanja Jogja di Galeria Mall pada 4 Oktober 2018. Selanjutnya pada tanggal 5-27 Oktober 2018 digelar Festival Jogja Budaya yang berisi pertunjukkan seni lokal dari masyarakat secara marathon di 14 titik Kecamatan Kota Yogyakarta.
Seiring dengan perhelatan di seluruh kecamatan itu, pada tanggal 7 Oktober 2018 atau saat bertepatan dengan HUT Kota Yogya, digelar pagelaran Wayang Jogja Night Carnival di kawasan Tugu Yogya. Sedangkan pada 10 Oktober 2018 dihelat aksi donor darah bersama di Grha Pandawa Balaikota. Kemudian pada 13-14 Oktober 2018 dilangsungkan Festival Distro di Stadion Kridosono.
Pada tanggal 14 Oktober 2018 dilangsungkan Festival Burung Berkicau yang dipusatkan di Balaikota Yogyakarta. Kemudian pada 20 Oktober 2018 dilangsungkan Garebeg Pasar yang dipusatkan di Pasar Beringharjo. Sedangkan pada tanggal 21 Oktober 2018 dilangsungkan Aksi Jalan Sehat Bersama yang dipusatkan di Stadion Mandala Krida.
Lalu pada 28 Oktober 2018 digelar perhelatan Jogja Kreatif di Car Free Day Jalan Jenderal Sudirman serta Festival Jemparingan di Lapangan Kodim 0734 Yogyakarta. Sedangkan untuk penutupan Festival Jogja 2018 akan dilangsungkan pertunjukkan seni Pungkasan pada 31 Oktober 2018 di kawasan Galeria Mall.
Yunianto menuturkan, pada bulan Oktober 2018 ini Yogya juga akan menjadi tuan rumah perhelatan akbar rapat kooordinasi nasional Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) dari tanggal 6 – 9 Oktober 2018.

Batik Megamendung, Sejarah dan Filosofi

megamendung 1.jpg

Motif batik Megamendung merupakan karya seni batik yang identik dan bahkan menjadi ikon batik daerah Cirebon dan daerah Indonesia lainnya. Motif batik ini mempunyai kekhasan yang tidak ditemui di daerah penghasil batik lain. Bahkan karena hanya ada di Cirebon dan merupakan masterpiece, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI akan mendaftarkan motif megamendung ke UNESCO untuk mendapatkan pengakuan sebagai salah satu world heritage.’

Motif megamendung sebagai motif dasar batik sudah dikenal luas sampai ke manca negara. Sebagai bukti ketenarannya, motif megamendung pernah dijadikan cover sebuah buku batik terbitan luar negeri yang berjudul Batik Design, karya seorang berkebangsaan Belanda bernama Pepin van Roojen. Kekhasan motif megamendung tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas, tetapi juga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalam motifnya. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah lahirnya batik secara keseluruhan di Cirebon. H. Komarudin Kudiya S.IP, M.Ds, Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) menyatakan bahwa:

Motif megamendung merupakan wujud karya yang sangat luhur dan penuh makna, sehingga penggunaan motif megamendung sebaiknya dijaga dengan baik dan ditempatkan sebagaimana mestinya. Pernyataan ini tidak bermaksud membatasi bagaimana motif megamendung diproduksi, tapi lebih kepada ketidaksetujuan penggunaan motif megamendung untuk barang-barang yang sebenarnya kurang pantas, seperti misalnya pelapis sandal di hotel-hotel.

Sejarah motif

Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat jelas dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.

Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia kesenirupaan Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.

Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi China ke keraton Cirebon. Para pembatik keraton menuangkan budaya dan tradisi China ke dalam motif batik yang mereka buat, tetapi dengan sentuhan khas Cirebon, jadi ada perbedaan antara motif megamendung dari China dan yang dari Cirebon. Misalnya, pada motif megamendung China, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan yang dari Cirebon, garis awan cenderung lonjong, lancip dan segitiga.

Sejarah batik di Cirebon juga terkait dengan perkembangan gerakan tarekat yang konon berpusat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Membatik pada awalnya dikerjakan oleh anggota tarekat yang mengabdi di keraton sebagai sumber ekonomi untuk membiayai kelompok tarekat tersebut. Para pengikut tarekat tinggal di desa Trusmi dan sekitarnya. Desa ini terletak kira-kira 4 km dari Cirebon menuju ke arah barat daya atau menuju ke arah Bandung. Oleh karena itu, sampai sekarng batik Cirebon identik dengan batik Trusmi.

Unsur motif

Motif megamendung yang pada awalnya selalu berunsurkan warna biru diselingi warna merah menggambarkan maskulinitas dan suasana dinamis, karena dalam proses pembuatannya ada campur tangan laki-laki. Kaum laki-laki anggota tarekatlah yang pada awalnya merintis tradisi batik. Warna biru dan merah tua juga menggambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka dan egaliter.

Selain itu, warna biru juga disebut-sebut melambangkan warna langit yang luas, bersahabat dan tenang serta melambangkan pembawa hujan yang dinanti-nantikan sebagai pembawa kesuburan dan pemberi kehidupan. Warna biru yang digunakan mulai dari warna biru muda sampai dengan warna biru tua. Biru muda menggambarkan makin cerahnya kehidupan dan biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan dan memberi kehidupan.

Dalam perkembangannya, motif megamendung mengalami banyak perkembangan dan dimodifikasi sesuai permintaan pasar. Motif megamendung dikombinasi dengan motif hewan, bunga atau motif lain. Sesungguhnya penggabungan motif seperti ini sudah dilakukan oleh para pembatik tradisional sejak dulu, namun perkembangannya menjadi sangat pesat dengan adanya campur tangan dari para perancang busana. Selain motif, warna motif megamendung yang awalnya biru dan merah, sekarang berkembang menjadi berbagai macam warna. Ada motif megamendung yang berwarna kuning, hijau, coklat dan lain-lain.

Proses produksi

Proses produksinya yang dahulu dikerjakan secara batik tulis dan batik cap, dengan pertimbangan ekonomis diproduksi secara besar-besaran dengan cara disablon (printing) di pabrik-pabrik. Walaupun kain bermotif megamendung yang dihasilkan dengan proses seperti ini sebenarnya tidak bisa disebut dengan batik.

Wujud motif megamendungpun yang dulunya hanya dikenal dalam wujud kain batik, sekarang bisa ditemui dalam berbagai macam bentuk barang. Ada yang berupa hiasan dinding lukisan kaca, produk-produk interior seperti ukiran kayu maupun produk-produk peralatan rumah tangga seperti sarung bantal, sprei, taplak meja dan lain-lain.

Pengertian Batik Megamendung

Batik megamendung adalah motig kain batik yang berasal dari daerah Cirebon. Bentuk motif batik khas kota udang ini menyerupai bentuk awan-awan. Motif batik mega mendung terlah menjadi sebuah ikon karya seni kota Cirebon. Motif batik megamendung mempunyai ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh motif batik di daerah penghasil batik lainnya.

Kain batik mega mendung yang sudah sejak lama dan turun menurun diproduksi oleh masyarakat Cirebon tidak hanya terkenal di kalangan pecinta batik di Indonesia saja. Motif batik mega mendung juga diapresiasi dengan baik oleh masyarakat di luar negeri. Ini terbukti dengan dijadikanya motif batik megamendung sebgai cover salah satu buku yang membahas tentang batik yang berjudul “Batik Design” karya Pepin Van Roojen seorang kebangsaan Belanda.

Selain bangga bahwa motif kain batik mega mendung mendapatkan apresiasi yang baik di dalam dan di luar negeri, kita juga patut untuk tahu pengertian batik mega mendung dari segi sejarah dan filosofi motif batik yang tertuang di atas kain.

Ada beberapa pendapat tentang asal motif batik mega mendung. Ada yang mengatakan bahawa motif mega mendung adalah hasil dari pengaruh pendatang dari negeri China. Yang pada dulu sering singgah di pelabuhan Muara Jati, Cirebon dan dianggap membawa paham Taoisme dimana bentuk awan melambangkan dunia atas atau dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan).

Ada juga yang mengatakan motif batik mega mendung diadopsi oleh masyarakat Cirebon yang diambil dari berbagai macam buku dan literature selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China yang datang ke wilayah Cirebon. Tercatat dengan jelas dalam sejarah bahwa Sunan Gunungjati menikahi Ratu Ong Tien dari negeri China. Beberapa benda seni yang dibawa dari negeri China diantaranya adalah keramik, piring, kain yang berhiasan bentuk awan. Bentuk awan dalam beragam budaya melambangkan dunia atas bilamana diambil dari faham Taoisme. Pengertian batik mega mendung  merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan ini juga ada pada dunia kesenirupaan Islam pada abad 16 yang digunakan oleh kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.

Filosofi Batik MegaMendung

Motif Megamendung yang digunakan oleh masyarakat Cirebon sebagai motif dasar batik sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia pecinta batik, begitupula bagi masyarakat pecinta batik di luar negeri. Bukti ketenaran motif Megamendung berasal dari kota Cirebon pernah dijadikan sebagai cover sebuah buku batik terbitan luar negeri yang berjudul Batik Design karya Pepin Van Roojen bangsa Belanda.
Sejarah timbulnya motif Megamendung yang diadopsi oleh masyarakat Cirebon yang diambil dari berbagai macam buku dan literature selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China yang datang ke wilayah Cirebon. Tercatat dengan jelas dalam sejarah bahwa Sunan Gunungjati menikahi Ratu Ong Tien dari negeri China. Beberapa benda seni yang dibawa dari negeri China diantaranya adalah keramik, piring, kain yang berhiasan bentuk awan. Bentuk aan dalam beragam budaya melambangkan dunia atas bilamana diambil dari faham Taoisme. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan ini juga berpengaruh pada dunia kesenirupaan Islam pada abad 16 yang digunakan oleh kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.

Nilai-nilai dasar dalam Megamendung
Nilai-nilai dasar dalam seni apapun termasuk dalam seni batik motif megamendung bisa didekati dengan cara sbb:
a. Nilai Penampilan (appearance) atau nilai wujud yang melahirkan benda seni. Nilai ini terdiri dari nilai bentuk dan nilai struktur. Nilai bentuk yang bisa dilihat secara visual adalah motif megamendung dalam sebuah kain yang indah terlepas dari penggunaan bahan berupa kain katun atau kain sutera. Sementara dalam nilai struktur adalah dihasilkan dari bentuk-bentuk yang disusun begitu rupa berdasarkan nilai esensial. Bentuk-bentuk tersebut berupa garis-garis lengkung yang disusun beraturan dan tidak terputus saling bertemu.
b. Nilai Isi (Content) yang dapat terdiri atas nilai pengetahuan (kognisi), nilai rasa, intuisi atau bawah sadar manusia, nilai gagasan, dan nilai pesan atau nilai hidup (values) yang dapat terdiri dari atas moral, nilai sosial, nilai religi, dsb.
Pada bentuk Megamendung bisa kita lihat garis lengkung yang beraturan secara teratur dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun) kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar/menjalani kehidupan sosial agama) dan pada akhirnya membawa dirinya memasuki dunia baru menuju kembali kedalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut (naik dan turun) pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Sehingga bisa kita lihat bentuk megamendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar terus keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil namun tidak boleh terputus.

Terlepas dari makna filosofi bahwa Megamendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh sehinga bentuknya harus menyatu. Dilihat dari sisi produksi memang mengharuskan kalau bentuk garis lengkung megamendung harus bertemu pada satu titik lengkung berikutnya agar pada saat pemberian warna pada proses yang bertahap (dari warna muda ke warna tua) bisa lebih memudahkan.
Bilamana kita cermati, maka akan kita dapatkan bahwa bentuk Megamendung banyak sekali variasinya. Ada yang berbentuk lancip pada ujungnya dan ada yang berbentuk bulat tumpul pada ujungnya. Ada pula yang memiliki lekukan berbentuk menyudut pada bagian bentuk lengkungannya. Dengan sendirinya bagi pendesain batik pemula yang tidak terbiasa dengan proses membatik dan tidak mengerti makna filosofi Megamendung, bilamana menggambar Megamendung akan sedikit mengalami kesulitan serta kemungkinan akan terjadi kesalahan. Yang harus diperhatikan lagi adalah motif Megamendung hampir mirip dengan motif Wadasan. Akan tetapi tidak sama penempatannya dengan motif Wadasan (perlu dipelajari khusus pada kesempatan berikutnya).
c. Nilai Pengungkapan (presentation) yang dapat menunjukkan adanya nilai bakat pribadi seseorang, nilai ketrampilan, dan nilai medium yang dipakainya. Ungkapan yang ditampilkan oleh senimannya berupa proses batik yang begitu indah dengan memberikan goresan lilin lewat alat yang dinamakan canting terbuat dari bahan tembaga tipis yang dibentuk secara hati-hati sehingga lilin panas yang melewati ujung canting bisa mengalir dengan lancar. Paduan unsur warna yang harmonis dengan penuh makna bagi siapa yang melihatnya. Unsur warna biru yang kita kenal dengan melambangkan warna langit yang begitu luas, bersahabat dan tenang. Ditambah lagi dengan ada yang mengartikan bahwa biru melambangkan kesuburan sehinga warna batik Megamendung pada awalnya selalu memberikan unsur warna biru diselingi dengan warna dasar merah.

SumberSumber

Join Us La Alfabeta

NEW CALISTUNG DAN MAFIKA 2017 kotak utk IG

Mau mengisi waktu luang adik yang balita dengan bermain sambil menambah kosakata baru?

Udah mau masuk SD, abang masih bingung menulis dan berhitung?

Santai saja ayah bunda, kakak pengajar La Alfabeta sabar dan kreatif kok untuk mengajarkan calistung dengan metode yang fun..

Bisa diselingi art-craft lagi, mulai dari origami, hand-printing dan lainnya, dengan konsep bermain sambil belajar, jadi anak-anak tidak merasa terbebani dan tidak cepat bosan…

Materi-nya juga disesuaikan dengan kegiatan yang ada di bulan tersebut…

Misalkan hari Kartini atau hari Pahlawan, jadi aplikasi-nya bisa pas banget.

Kakak sudah siap-siap mau ujian nasional SMP, pengen masuk SMA favorit?

Ayo gabung…

More info:

Customer Service La Alfabeta

0812 8928 3667

Call/sms/whatsapp

email: laalfabeta@gmail.com

http://www.facebook.com/laalfabeta.course

Kunjungi official website kami di :

LA ALFABETA 

http://www.laalfabeta.com

Join La Alfabeta

ART FLYER 2017 kotak utk IG.jpg

Hai papa mama…
Si kakak masih playgroup atau TK tapi sudah kelihatan bakat mewarnai?
Si adek suka corat coret tembok? Mungkin memang suka seni, harus di arahkan dong bakatnya…
Kegiatannya tidak hanya mewarnai/menggambar dan melukis biasa lho…
namun bisa sekalian 3D Art-Craft menggunakan origami, hand printing, pop up craft, dan masih banyak lagi ide seru lainnya
Daripada repot keluar rumah, macet, panas, jam ngga fleksibel, lebih baik teacher datang ke rumah… Suasana lebih cozy karena di rumah sendiri, jam bisa diatur sehingga tidak mengganggu jam bobo siang dan tidak bertabrakan dengan les lainnya…
Ayo cek kelebihan kami:
Teacher datang ke rumah, tidak perlu repot keluar macet, hujan dan panas
Disc 50% biaya pendaftaran
Harga yang terjangkau dengan berbagai promo yang sedang berlangsung
Waktu lebih fleksibel karena bisa mengatur jadwal langsung dengan teacher
Teacher ramah dan penjelasan mudah dimengerti
Teacher yang berkualitas dan berpendidikan di bidangnya
Hari libur atau tanggal merah tetap diganti
Sabtu dan minggu tetap ada jadwal les
Contact Us !

CUSTOMER SERVICE LA ALFABETA ART
0812 8928 3667

Kunjungi official website kami di :

http://www.laalfabeta.com

La Alfabeta Art

WhatsApp Image 2018-08-20 at 15.31.55

Hallo papa mama berikut ini hasil karya gambar Arin salah satu murid  dari teacher La Alfabeta yaitu Ka Ika @keysart33
Keren ya gambar nya^.^.

Papa mama ingin anak nya  jago gambar seperti Arin ?

Yuk bergabung di La Alfabeta, More info

Contact Us !

CUSTOMER SERVICE LA ALFABETA ART
0812 8928 3667

 

Lukisan : Perahu (Zaini – 1974

Title : “Perahu”

Artist : Zaini

Year : 1974

Cat minyak pada kanvas.

Ukuran : 65 x 80 cm.

Dalam lukisan ini, Zaini melukiskan perahu dengan abstraksi yang menghadirkan suasana puitik. Dengan sapuan-sapuan kuas yang menciptakan suasana lembut, warna dan garis dalam lukisan Zaini ternyata memunculkan objek-objek dalam kekuburan. Dengan lukisan-lukisan bernuansa lembut itulah Zaini sangat kuat menciptakan bahasa abstraksi liris. Personal style yang menjadi ciri khas Zaini itu merupakan hasil perjuangan panjang sejak tahun 1950-an. Lukisan “Perahu” (1974) ini, seperti kekuatan lukisan-lukisannya yang lain yaitu menyampaikan pesan misteri dari kehadiran samar-samar objeknya.

Dalam semangat yang bernafas dengan Oesman Effendi, semenjak di sanggar SIM Yogyakarta karyakarya Zaini telah menuju pada penyederhanaan bentuk-bentuk yang naif. Namun demikian, pada tahun 1949 ia keluar dari SIM karena dalam sanggar semakin kuat pengaruh paradigma estetik “kerakyatan revolusioner” yang berhaluan kiri dan tidak sejalan dengannya. Pada saat itulah ia pindah ke Jakarta dan mulai mengembangkan karyakaryanya dengan media pastel yang menghasilkan garis dan warna lembut.

Dari proses yang panjang, eksplorasi teknik dengan pencarian bentuk lewat goresan spontan dan lembutmenghadirkan objek-objek yang impresif. Objek-objek itu menjadi sosok kabur dengan ekspresi kesunyian yang kuat. Mencermati karyakarya Zaini dalam periode selanjutnya, seperti memasuki dunia yang sarat dengan perenungan spiritual. Di dalamnya mengandung berbagai tanggapan personal tentang kerinduan, kesunyian, kehampaan, bahkan kematian. Objek-objek seperti perahu, bunga, burung mati, atau
apapun, merupakan esensi yang sajikan dari berbagai fenomena dunia luar untuk memahami perenungan spiritual itu. Dalam risalah Trisno Sumardjo (1957), dikatakan bahwa proses dialog spiritual lewat objek-objek sederhana itu menjadi jembatan untuk memahami perenungannya pada dunia kosmosnya yang lebih besar. Puncak pencapaian abstraksi dan spiritualisasi objek-objek itu terjadi pada tahun 1970-an, yaitu ketika ia dengan kuat menghadirkan suasana puitis dalam karya-karyanya. Zaini menjadi penyaring objek-objek yang sangat ekspresif lewat goresan cat minyak dan akrilik, dengan warna lembut seperti kabut.

Sumber